Rabu, Juni 19, 2024

Anak Belajar dari Kehidupannya

Oleh: Agus K. Saputra (Penulis)

Pada suatu kesempatan (03/01-2023), sebelum berpindah tugas dari Makassar, saya berkunjung ke rumah Prof Sukardi Weda. Di akhir jamuan, kami saling bertukar buku karya masing-masing. Saya mendapat buku Politik dan Rekayasa Bahasa. Prof Sukardi menerima buku Mencari Rumah Sumbunyi.

Unik. Satunya berupa bunga rampai tulisan, sebagai bentuk pertanggungjawaban moral seorang pengajar. Satunya hanya “catatan” puisi yang menceritakan pengalaman selama karantina di tengah wabah pandemi Covid-19.

Bahasa dalam pengertian sempit, menurut Prof Sukardi Weda, adalah alat komunikasi atau alat yang digunakan untuk menyampaikan pikiran dan perasaan kepada orang lain. Dalam arti luas, mencakup wilayah politik, sosial, budaya, hukum, pendidikan dan lain-lain. Bahasa juga digunakan oleh seseorang dengan berbagai tujuan (hal. 212).

“Bahasa dalam ranah politik diarahkan untuk tercapainya tujuan politik, yaitu memperoleh kekuasaan atau mempertahankan kekuasaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Jurgen Habermas yang mengatakan bahwa bahasa merupakan media untuk memperoleh kekuasaan,” urai Prof Sukardi.

Prof Sukardi pun menulis (di halaman 215) bahwa rekayasa bahasa seringkali ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dinyatakannya, rekayasa bahasa sulit untuk dihindari karena sesungguhnya manusia adalah zoon politicon (makhluk politik). Dengan demikian –kalau boleh saya katakan sebagai simpulan Prof Sukardi– bukan sesuatu yang aneh bila dalam kehidupan ini terjadi rekayasa bahasa (language engineering).

Namun Prof Sukardi pun mengingatkan, “rekayasa bahasa ini sesungguhnya memiliki tujuan yang tulus. setulus dengan tujuan kekuasaan para negarawan sejati, dan setulus pula cita-cita politik/ilmu politik sebagai ratunya ilmu sosial (politics is the queen of social science), yaitu terwujudnya kesejahteraan, keadilan, kemakmuran, rasa aman, harmoni, dan demokrasi. dengan demikian bila tujuan tersebut telah dicapai oleh para pemimpi kekuasaan (power dreamer), hendaknya mereka berupaya maksimal untuk mewujudkan target-target kekuasaan yang dijual ketika berkampanye.”

Diiringi gemericik hujan, pertemuan pertama ini sungguh membuat saya takjub. Selain mendapatkan koleksi-koleksi bukunya. Saya pun menjadi tahu bahwa Prof Sukardi ini seperti menjadi makhluk pembelajar ala kajian Andrias Harefa. Prof Sukardi begitu gigih meniti jenjang pendidikan, mengurai teori dari berbagai disiplin ilmu tanpa terpaku kaku untuk menjadi seorang spesialis.

“Sementara menjadi pembelajar yang generalis, sudah menjadi pilihan Sukardi Weda. Tak perlu kita berdebat soal julukan ini. Indikatornya jelas. Berbagai gelar yang memagari namanya, di depan dan di belakang, tentu bukan sekadar untuk gagah-gagahan tapi menyiratkan kegigihan, ketekunan, dan kerja keras,” urai Rusdin Tompo (hal. xxi)

Jika kita ingin sukses seperti Prof Sukardi Weda, kuncinya adalah harus dipersiapkan dan dimulai dari usia dini. seperti dinarasikan Rusdin Tompo di halaman x:

manusia itu sejak kecil sebenarnya belajar secara holistik. Ia belajar apa saja dari siapa saja. Tapi, tanpa disadari, orang tua –dan juga lingkungan– mengenalkan kata-kata “jangan”, “larang”, “tidak boleh”, dan “gagal”. Jadilah ia kemudian sebuah konsep diri yang membatasi kemampuan kreativitas dan keberanian berekspresi si anak. Anak jadi peragu dan dihantui kebimbangan untuk bertindak dan mencoba. Serba canggung dan takut salah. Padahal, kata George Bernard Show, hidup dengan melakukan kesalahan akan lebih terhormat daripada selalu benar karena tidak melakukan apa-apa.

Maka, sejatinya kita menumbuhkan sebuah proses pembelajaran sejak dini pada anak-anak kita. Dorothy Law Nolte (2003) lewat puisi klasiknya yang amat terkenal “Children Learn What They Live” menyatakan, kalau anak-anak banyak diberikan dorongan dalam

kehidupannya, mereka akan belajar percaya diri. Kepercayaan diri ini bisa menjadi kata kunci untuk meraih kesuksesan. Sebagaimana kata Robert Collier bahwa kesempatan Anda untuk sukses di setiap kondisi selalu dapat diukur oleh seberapa besar kepercayaan Anda pada diri sendiri.

Lampung, 26-03-2023: 02.20

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles