Kamis, Februari 29, 2024

Perlawanan Milisi tak Cukup jadi Solusi, Penguasa Muslim pun Wajib ambil Bagian!!

Oleh: Nurhikmah
(Tim Pena Ideologis)

KATADIA || Penjajahan Zionis Yahudi atas Palestina masih terus membara, kebiadabannya malah semakin menjadi-jadi. Tak puas dengan memborbardir pemukiman-pemukiman warga Palestina, Baru-baru ini Rumah Sakit Indonesia yang menjadi salah satu layanan kemanusiaan yang menampung para korban genosida Zionis pun turut dibombardir.

Sampai hari ke-37 jumlah korban sudah tembus 11.800 jiwa. Korban paling banyak justru anak-anak. Ada yang menghitung setiap 10 menit satu anak Palestina meninggal. Sekitar 70 persen warga Gaza kini mengungsi. Dengan ini, dunia bisa melihat bahwa serangan Zionis Yahudi sejatinya bukan untuk melawan Hamas, tetapi untuk memusnahkan seluruh penduduk Gaza.

Sungguh tak punya nurani, tak pandang bulu baik anak-anak, perempuan, ataupun orang tua secara rata mereka dibom, ditembaki, dibantai dengan sangat brutal oleh Zionis Yahudi. Siapa yang tak tergerak melihat berbagai genosida keji tersebut?

Terbaru, beberapa milisi muslim memberikan bantuan kepada Palestina berupa perlawanan secara militer terhadap Zionis Yahudi. Misalnya saja, milisi Hizbullah di selatan Lebanon yang menembakkan puluhan roket ke Kota Kiryat Shmona Israel pada Kamis (2/10). Termasuk milisi Houthi di Yaman turut meluncurkan dronenya untuk menyerbu Israel pada Selasa (31/10).

Sejak perlawanan Hamas pada 7 Oktober lalu, Houthi mengklaim telah menyerang wilayah utara Israel sebanyak tiga kali. Pada rabu (8/11) lalu, sebuah pesawat tak berawak (drone) militer Amerika Serikat ditembak jatuh di lepas pantai Yaman oleh pemberontak Houthi. (CNN Indonesia, 9/11/2023)

Tak ketinggalan Jihad Islam yang merupakan salah satu milisi Palestina yang bermarkas di Jalur Gaza sekaligus merupakan Sekutu Hamas juga dikabarkan turut membantu kelompok Hamas menggempur Israel pada 7 Oktober lalu hingga peperangan berlangsung sampai hari ini.

Inilah bentuk dorongan kesadaran milisi-milisi muslim atas hubungannya dengan muslim Palestina. Sebab, dimanapun mereka berada, selama mereka muslim, mereka adalah bersaudara. Sayangnya semangat mereka menolong Palestina, tak sejalan dengan para penguasa negeri muslim yang justru sangat abay dengan penderitaan Palestina.

Arab Saudi misalnya, salah satu negara produsen minyak bumi, mereka justru menolak usulan Iran untuk melancarkan embargo minyak ke “negara” entitas Yahudi. Meskipun pemerintahannya mengecam penjajahan Zionis Yahudi, tetapi normalisasi hubungan Arab Saudi dengan mereka masih saja dipelihara. Bahkan, dengan teganya Arab menggelar konser megah bertajuk Riyadh Season 2023 (28/10), di tengah penderitaan yang dialami Palestina.

Turki tidak jauh berbeda. Saat Erdogan menggelar aksi besar-besaran untuk mengutuk serangan entitas Yahudi ke Palestina (28/10), ia tidak mengatakan memutus hubungannya dengan entitas Yahudi, bahkan menyerukan “two-state solution” yang itu berasal dari AS. Bukankah itu artinya Erdogan sedang melegitimasi perampasan 80% wilayah Palestina oleh entitas Yahudi? (Muslimah News.Id)

Lalu apa kabar dengan Indonesia? Lagi-lagi tidak jauh beda. Presiden Jokowi pun hanya mampu memberikan kecaman demi kecaman, namun tak ada aksi nyata berupa pengiriman tentara atau bantuan militer. Bahkan, kerja sama dagang Indonesia dengan Israel masih terus berjalan. Menurut data BPS, nilai ekspor Indonesia ke entitas Yahudi jauh lebih besar dari nilai ekspor Indonesia ke Palestina. (Kompas, 15/11/2023)

Padahal penjajahan atas Palestina bukanlah penjajahan Individu ataupun kelompok, yang membombardir adalah negara dan yang membeking mereka di belakang juga negara-negara besar (Barat), maka untuk melawan mereka semua juga tak cukup hanya perlawanan individu ataukah kelompok tetapi juga negara.

Tersekat oleh Batas Nasionalisme

Adanya fakta memilukan atas abainya negeri-negeri muslim dari tindak nyata yang dapat menolong Palestina tak terlepas dari sekat-sekat Nation State (Negara-negara bangsa). Setelah keruntuhan daulah Islam di Turki Utsmani, negeri-negeri muslim berhasil dipetak-petakkan oleh pihak penjajah menjadi beberapa negara bagian.

Semenjak itu berbagai persoalan dalam negeri dikembalikan pada negara masing-masing. Alhasil penjajahan atas Palestina seolah tak menjadi persoalan seluruh umat muslim, tapi hanya menjadi persoalan negara Palestina semata.

Lihatlah bagaimana penguasa negeri-negeri muslim kemudian justru menyerahkan nasib Palestina pada solusi dua negara (two state solution) buatan PPB, yang berarti hal itu justru memberikan pengakuan pada keberadaan negara Zionis Yahudi di tanah Palestina.

Padahal sejatinya, mereka hanyalah tamu yang tak punya hak atas tanah Palestina dan dengan rasa tidak malunya mereka berusaha merampas dengan kejam tanah Palestina dari pemiliknya, yakni kaum Muslim. Lalu, adilkah jika yang ditawarkan pada Palestina adalah ‘two state solution’?

Solusi Palestina Hanyalah pada Kekuasaan Islam

Sejak keruntuhan daulah Islam di Turki Utsmani tahun 1924, umat Islam bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya. Banyak ancaman yang mengintainya, namun tamengnya telah tiada. Kita dapat lihat bagaimana kondisi umat Islam di berbagai negeri terus mengalami penjajahan, baik secara fisik maupun penjajahan secara pemikiran (Barat).

Kekuasaan dalam Islam memang adalah hal yang sangat penting bahkan menjadi sebuah keniscayaan. Sehingga, keliru jika pemikiran sekularisme saat ini yang memisahkan kekuasaan dari Islam masih terus dipertahankan. Bahkan para ulama sampai mengungkapkan mengenai hal ini, bahwa “Agama dan kekuasaan itu ibarat dua saudara kembar.

Dikatakan pula, agama adalah fondasi, sementara kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak berfondasi bakal hancur. Apa saja yang tidak memiliki penjaga akan lenyap (Abu Abdillah al-Qali, Tadrîb ar-Riyâsah wa Tartîb as-Siyâsah, 1/81).

Inilah yang terjadi saat ini, kondisi Palestina akan terus semakin memprihatinkan, takkan ada solusi hakiki yang dapat menyelesaikan nasib Palestina, kecuali dengan mengusir para penjajah zionis Yahudi dari tanah Palestina dan pengusiran itu tidak akan mungkin dapat dilakukan hanya oleh kelompok/milisi-milisi kaum Muslim saja, tetapi Palestina membutuhkan persatuan pasukan muslim dari seluruh negeri muslim.

Rasulullah SAW. Bersabda: “Sungguh Imam/Khalifah (Kepala Negara) itu laksana perisai; (orang-orang) akan berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Wallahu’alam Bisshawab

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles