Senin, Februari 26, 2024

KDRT, Cermin Rusaknya Keluarga Dalam Sistem Kapitalisme

Oleh : Nur Amalia (Tim Pena Ideologis Maros)

KDRT Kembali terjadi, anak dan istri menjadi korban. Seperti yang dilansir dari KOMPAS.com – Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Bintoro mengatakan, Panca Darmansyah (41) mengaku  keempat anak kandungnya di dalam rumah kontrakan wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Sedang istri Panca Darmansyah berinisial D diketahui sedang dirawat di RSUD Pasar Minggu. D dirawat intensif akibat kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Panca pada Sabtu (2/12/2023).

KDRT, Buah dari Penerapan Sistem Rusak

Kasus KDRT bukan kali pertama terjadi. Fakta kasus diatas menambah deretan panjang banyaknya kekerasan demi kekerasan dalam rumah tangga. Semakin kesini, kasus KDRT sudah diluar nalar. Mana mungkin, sosok suami atau ayah yang seharusnya menjadi orang pertama yang menjaga keluarganya dari bahaya malah suami atau ayahnya sendiri yang mencelakai istri dan anak-anaknya.

KDRT seolah menjadi hal yang wajar, kepala keluarga pada khususnya punya kuasa dan apapun sah-sah saja dilakukan atas keluarganya termasuk kekerasan dalam rumah tangga. Saat ini sudah ada Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (KOMNAS Perempuan) dan Dinas Pengendalian Penduduk, KB dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) dengan beragam undang-undang perlindungan perempuan dan anak telah ditetapkan. Namun semua kebijakan ini tidak mampu menyelesaikan masalah kekerasan malah kekerasan makin marak terjadi dimana-mana dari tingkat kota hingga daerah terpencil sekalipun.

Maraknya kasus kekerasan merupakan bukti gagalnya sistem kapitalisme-sekuler dalam mengatur kehidupan. Kekerasan dalam rumah tangga merupakan salah satu efeknya. Adapun faktor terjadinya kekerasan dalam rumah tangga menurut pendapat beberapa ahli ditengarai oleh banyak sebab dan faktor yang paling dominan adalah faktor ekonomi. Sistem ekonomi kapitalis menjadikan si kaya makin kaya dan si miskin makin dimiskinkan. Dalam sistem kapitalisme-sekuler kemiskinan terstruktur dan tersistematis.

Lapangan pekerjaan contohnya sangat sulit didapatkan bagi kaum laki-laki dan mudah bagi kaum perempuan, belum lagi ada batasan usia yang ditetapkan dan gaji yang jauh dari kata cukup makin memperparah kondisi keluarga. Ketika laki-laki tidak mampu menafkahi keluarga, hilanglah marwahnya di depan istri dan keharmonisan keluarga pun terganggu sehingga memicu KDRT, perselingkuhan hingga perceraian.

Ibu pekerja pun perannya kian terkikis. Sebagai ibu pekerja  otomatis peran utamanya sebagai ibu rumah tangga dan pendidik utama bagi anak-anaknya tidak bisa berjalan dengan maksimal. Rumah yang seharusnya menjadi surga, tempat aman dan nyaman berubah menjadi neraka akibat rusaknya bangunan keluarga di sistem kapitalisme-sekuler.

Islam Solusi Pemelihara Keluarga

Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna mampu menjadi solusi berbagai persoalan kehidupan termasuk dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dalam islam kehidupan suami istri adalah hubungan persahabatan. Rasulullah SAW. bersabda, “Orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling baik pada keluarga (istrinya) dan aku adalah yang paling baik pada keluarga (istriku)” (HR. Al Hakim dan Ibnu Hibban dari jalur Aisyah ra.)

Suami Istri yang paham akan syariat akan mampu mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Islam juga telah menetapkan tujuan berkeluarga, yaitu untuk melestarikan keturunan dengan landasan beribadah kepada Allah SWT semata bukan yang lain. Dengan menyadari tujuan ini maka semua anggota keluarga akan berusaha bersama-sama menjalankan hak dan kewajiban masing-masing yang telah digariskan syariat. Diperkuat dengan peran negara untuk menerapkan syariat Islam secara menyeluruh di seluruh aspek kehidupan termasuk menerapkan sistem ekonomi Islam.

Sistem Islam menetapkan kepentingan rakyat adalah hal utama. Termasuk penyediaan lapangan pekerjaan yang layak bagi setiap kepala keluarga menjadi tanggung jawab dalam sistem islam. Walhasil, hanya islamlah yang mampu memelihara keluarga dan umat dengan sebaik-baiknya maka memperjuangkannya adalah kewajiban kita bersama.

 

Wallahu a’lam bishshawab

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles