Senin, Juli 15, 2024

Kecil-Kecil Bunuh Diri, kok Bisa?

Oleh: Cia Ummu Shalihah (Pemerhati Sosial)

Seorang anak di Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri dan ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam kamarnya. Aksi nekad anak SD itu diduga dipicu karena dilarang bermain HP. Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan, Ipung Sunaryo, menyayangkan dan mengaku prihatin dengan adanya peristiwa tersebut.

Selain itu, disampaikan juga bahwa psikologi anak sekarang memang berbeda jauh. Anak sekarang sangat rentan emosionalnya. Sebagai orangtua kita memang perlu ekstra berhati-hati dalam menyikapinya dan peristiwa ini terjadi karena emosional sesaat anak, tanpa bisa memikirkan akibatnya.

Selain itu, menjadi PR bersama yang tidak hanya guru saja, peran orangtua, lingkungan, sangat penting untuk sedikit demi sedikit memberikan edukasi yang ramah pada anak-anak, agar tidak candu dalam bermain Hp, hingga melupakan segalanya. (detik.com, 23/11/2023).

Pemerintah mencatat, setidaknya ada 20 kasus bunuh diri anak-anak sejak Januari 2023. Hal itu disampaikan Deputi bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Nahar.

Nahar mengatakan bahwa para korban bunuh diri merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Menurutnya, kebanyakan mereka yang bunuh diri disebabkan oleh depresi.

“Catatan kami tahun 2023 saja kasus bunuh diri anak sudah sampai di angka 20 kasus. Penyebab, ada depresi, dugaan perundungan, dan banyak penyebabnya,” kata Nahar kepada wartawan di Kantor KemenPPPA Jakarta, Jumat (10/11/2023).

Abainya Peran Negara

Faktor terbesar pendorong semua kasus bunuh diri adalah depresi, gangguan kejiwaan yang muncul akibat adanya tekanan.

Ketidakmampuan seseorang menghadapi tekanan tersebut berasal dari mana saja membuat akalnya tidak mampu berpikir jernih. Mereka berani melakukan tindakan di luar nalar yang dianggap dapat mengurangi depresi, seperti melukai dirinya sendiri atau bahkan bunuh diri.

Ditambah pula banyaknya informasi yang bisa diperoleh dari dunia maya membuat anak kesulitan memfilter isinya. Terlalu banyak terpapar media sosial dapat membuat anak mengikuti apa yang sering dilihat dan didengar oleh mereka. Apa yang buruk dapat dianggap menjadi wajar. Misalnya bullying, self harm, dan bunuh diri.

Apabila kita mau merenung lebih dalam, semua ini akibat pola pikir dan hidup yang mengikuti Barat. Fungsi negara yang semestinya berperan sebagai tameng pertama pemikiran dan budaya Barat agar tidak masuk, ternyata tidak berjalan. Parahnya, negara malah menjadi pionir dalam menerapkan sistem kehidupan Barat (kapitalisme).

Sistem kapitalisme yang mengusung asas sekularisme memisahkan agama dalam mengatur kehidupan yang dianut negara ini menjadi biang kerok dari gangguan mental dan menjadi pemicu tindakan bunuh diri pada anak.

Tak adanya penanaman akidah, moral, dan minimnya pemahaman ilmu agama terhadap anak/remaja, menjadikan para anak/remaja tersesat dan di luar kendali, tidak punya prinsip, rendah diri, pasif, melanggar aturan, bahkan dapat membahayakan dirinya sendiri ataupun orang lain. Dari sinilah lahir para anak/remaja yang bermental sakit.

Inilah nasib buruk generasi saat ini dalam sistem kapitalisme. Negara tidak mampu melindungi generasi. Negara acuh seakan berlepas tangan membiarkan mereka dalam kehancuran pengaruh media yang meracuni pemikiran dan menghasilkan perilaku yang rusak.

Seperti buah strawberi. generasi strawberi juga lembek dan mudah rusak. inilah kondisi anak-anak dan remaja saat ini. Mereka memiliki mental yang lemah dan rapuh. Hal ini diakibatkan dari aqidah yang tidak kokoh.

Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin melampirkan nabi SAW bersabda; ‘’Barang siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, maka nanti pada hari kiamat ia akan disiksa dengan sesuatu itu.’’

Imam Nawawi menjelaskan hadits di atas keharaman bunuh diri. Dan bahwa pelaku bunuh diri akan diazab pada hari kiamat dengan cara ia membunuh dirinya sendiri. Demikian sebab balasan itu setimpal dengan perbuatannya. Pemahaman inilah yang tidak dimiliki oleh anak-anak dan remaja saat ini, sehingga mereka mudah sekali mengambil jalan pintas yang tidak jelas ini dan merugikan diri mereka di akhirat kelak. Padahal jika mereka paham akan balasan dari bunuh diri ini pasti mereka tidak akan mengambil jalan tersebut.

Kembali ke Solusi Islam

Islam sejatinya memberi perhatian besar pada generasi. Negara yang mengambil Islam sebagai landasan akan mengutamakan pembentukan generasi yang berkepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir Islam dan pola sikap Islam. Dengan begitu mereka akan menjadi pribadi yang kuat dan tidak gampang depresi.

Terbentuknya aqidah yang benar dan kokoh dimulai dari lingkungan kecil yaitu keluarga. lingkungan keluarga yang shalih dan shalihah. Pola didik dan pengasuhan yang berlandaskan aqidah Islam.

Seorang ibu yang bertanggung jawab memberikan pendidikan Islam. dan seorang ayah yang melakukan pengawasan terhadap anak-anaknya. Semua itu akan membentuk pola pikir dan pola sikap pada anak.

Anak ibarat kertas kosong akan dijadikan seperti apa itu tergantung pada orang tuanya. seumuran anak SD belum memiliki filter untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga orang tua menjadi penunjuk arah bagi anak-anaknya tentunya ke jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Pendidikan keluarga hanya lah lingkup kecil. Pada dasarnya negara lah yang memiliki tanggung jawab besar terhadap kesehatan mental anak-anak dan remaja. Negara memiliki peran besar karena negara memiliki kuasa untuk memilih tayangan yang ada di HP.

Dalam sistem pendidikan Islam negara akan memperhatikan tumbuh kembang anak dan menjaga kesehatan mental anak dan remaja. Melalui pendidikan yang berkualitas yang berlandaskan aqidah Islam anak-anak akan tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang berkarakter Islam yang kokoh aqidahnya.

Sehingga melahirkan generasi hebat dalam berkarya, kuat iman dan mentalnya. Dengan sistem pendidikan Islam tidak ada lagi nyawa yg hilang sia-sia karena mereka tahu tujuan hidup di dunia untuk beribadah dan mempersiapkan bekal pulang kembali ke negeri akhirat. Wallahu a’lam.(**)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles

Sorry Bro