Rabu, Februari 21, 2024

Mahasiswa PGMI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar Gelar Pementasan dan Bincang Sastra Anak

KATADIA, MAKASSAR || Mahasiswa Angkatan Pedagogis Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Makassar, punya cara kreatif menutup perkuliahan.

Mereka mengadakan Pementasan dan Bincang Sastra Anak, bertema “Membumi dengan Budaya, Melangit dengan Kreativitas”. Kegiatan yang merupakan tugas akhir tersebut, diadakan di Auditorium UIN Alauddin, Samata, Senin, 22 Januari 2024.

Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Dr Munawir K, M.Ag, mengapresiasi tema kegiatan ini yang dinilai menarik. Dia melihat semangat mahasiswa yang hadir, sebagai bentuk kreativitas. Penampilan dan acara yang disuguhkan juga sesuai tema kegiatan, yang hendak membumikan budaya dan melangitkan kreativitas.

Munawir menambahkan, sastra memang penting bukan saja karena keindahan bahasanya tapi muatan pesan yang dikandungnya. Banyak sastrawan terkenal bisa menjadi sumber inspirasi, seperti Ibnu Sina, WS Rendra, Chairil Anwar, dan lain-lain. Mereka mengabdikan diri bagi kemanusiaan lewat karya-karyanya.

Karena itu, dia mengaku bangga pada mahasiswa yang menghidupkan karya sastra. Dikatakan, memang penting ketrampilan berbahasa agar dalam menyampaikan ideologi, pikiran, gagasan, pandangan, bukan saja komunikatif tapi juga santun dan indah.

Dia mengingatkan bahwa seseorang itu bisa tergelincir hanya lantaran dalam memilih kata, diksi, atau istilah kurang tepat. Sehingga disarankan kepada mahasiswa, perlu mengakselerasi nilai-nilai sastra bukan saja bagi UIN Alauddin, tapi juga masyarakat diuar kampus. Bila perlu dibentuk paguyuban agar kegiatan kemahasiswaan lebih terorganisasi dengan baik.

Sementara itu, Dosen Pengampu Mata Kuliah Kajian Sastra Anak, Hj Andi Hasrianti, SS, M.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan Pementasan dan Bincang Sastra Anak merupakan tugas akhir mahasiswa. Kegiatan ini diorganisir oleh mahasiswa peserta Mata Kuliah Kajian Sastra Anak. Jadi mereka semua terlibat dalam acara pementasan ini.

Rusdin Tompo, sebagai narasumber dalam bincang sastra anak, memulai materinya dengan mengutip kajian yang dilakukan David McClelland, seorang psikolog sosial yang tertarik pada masalah-masalah pembangunan. Dia mengkaji dongeng dan cerita-cerita anak di Inggris dan Spanyol.

Dia juga melakukan kajian sejarah pada dokumen-dokumen kesusastraan dari zaman Yunani kuno. Selanjutnya, dia mengumpulkan 1.300 cerita anak-anak dari berbagai negara, dari era 1925 dan 1950.

McClelland berkesimpulan, karya-karya sastra yang menunjukkan optimisme yang tinggi, keberanian untuk mengubah nasib, dan tidak mudah menyerah, akan mempengaruhi anak-anak di masa depannya. Karya-karya sastra semacam itu disebut oleh McClelland mengandung virus “n-Ach” atau the need for achievement (kebutuhan untuk berprestasi).

Menurut Rusdin Tompo, penulis buku yang juga sebagai pegiat Sekolah Ramah Anak, sekalipun ada kebutuhan pada sastra anak, tapi dibutuhkan ketrampilan menguasai teknik penulisan sastra anak, tahu rambu-rambunya, memahami tahap perkembangan anak, dan bisa menangkap sudut pandang anak.

Penulisan dan pembelajaran sastra anak, jelas Rusdin, perlu berbasis muatan lokal, karena untuk memperkenalkan anak-anak pada bahasa ibunya, sekaligus sebagai upaya pelestarian bahasa daerah. Selain itu, sebagai upaya penguatan literasi budaya dan kewargaan. Sastra anak bisa pula jadi metode pembelajaran dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

Ketua Panitia, Muh Ilham S mengatakan, tema “Membumi dengan Budaya, Melangit dengan Kreativitas” ini diangkat karena kita hidup di Indonesia yang masyarakatnya sangat beragam. Kita bisa melangit melalui kreativitas sebagai bentuk aktualisasi diri. Sebab tanpa kreativitas, menurutnya, kita bukan apa-apa. Kegiatan ini bagian dari kajian sastra anak yang perlu dirawat dan dikembangkan.

Pementasan dan Bincang Sastra Anak ini diadakan oleh Angkatan 2022 PGMI. Namun acara ini dhadiri dari berbagai angkatan, mulai Angkatan 2018 sampai Angkatan 2023.

Acara diawali dengan anngaru, tari paduppa, pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Ada sejumlah pembacaan puisi, yang ditampilkan secara kreatif, yang dipadukan dengan musik dan lagu. Puisi-puisi yang dibacakan, antara lain “Panggil Aku Daeng”, “Sukmaku di Tanah Makassar”, dan “Mangkasarakku”. Juga kolaborasi pembacaan puisi “Mata Luka Sengkon dan Karta”, serta “Sajak Anak Muda”. (*)

 

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles