Rabu, April 17, 2024

Belajar Jurnalisme Radio Dengar Symphony No 5 Beethoven

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator Satupena Provinsi Sulawesi Selatan)

KATADIA, MAKASSAR || Saya membuat tulisan ini sembari mendengar Symphony No 5, salah satu mahakarya Ludwig van Beethoven’s. Komposisi ini membawa ingatan saya ke suasana sejuk Wisma Tempo, di Sirnagalih, Megamendung, puncak Bogor, lebih seperempat abad lalu.

Di bulan Juni 1998 itu, saya dan teman-teman dari Jakarta, Surabaya, Jember, Pontianak, Medan, dan beberapa daerah lain, mengikuti Public Training Radio, yang diadakan oleh Institut Studi Arus Informasi (ISAI) kerjasama dengan The Canadian Committee to Protect Journalists (CCPJ). Ada dua trainer dari Kanada, yakni David W Candow dan Wayne Sharpe.

Saat berada di ruang pelatihan itulah, kami diperdengarkan Symphony No 5, sebagai bagian dari pendekatan jurnalisme yang dipelajari. Ini merupakan salah satu karya paling gemilang dan terkenal dari komponis asal Jerman itu. Ludwig van Beethoven (1770-1827), menulis komposisi ini tahun 1800, tapi penyelesaiannya baru dilakukan antara 1807 hingga 1808.

Symphony No 5, oleh Anton Schindler, penulis biografi Beethoven, diberi nama “Simfoni Takdir”. Dalam interpretasi terhadap karya ini sampai Abad ke-20, komposisi ini dianggap sebagai cerita tentang kekalahan dan kemenangan, tentang pertarungan nasib manusia yang berlangsung seumur hidup. Selain itu, juga tentang penderitaan dan pembebasan dari kesengsaraan, yang dituangkan dalam musik.

Marjory Linardy, Redaktur Deutsche Welle (DW), dalam laman www.dw.com menulis, Symphony No 5 punya ide dasar “per aspera ad astra” atau melalui kegelapan malam menuju cahaya. Maknanya, melalui kesulitan untuk mencapai kebahagiaan. Ini dituangkan dalam penggunaan tangga nada C-minor dan C-mayor, yang jadi dasar pemikiran kebudayaan Eropa.

Selesai memperdengarkan karya Beethoven itu, David W Candow tidak langsung memberikan pemahaman teknis terkait jurnalistik radio. Melainkan, dia mengantar peserta pada pemahaman-pemahaman yang bersifat filosofis-humanis. Dia mengatakan, radio itu sejatinya adalah manusia. Manusia yang berkomunikasi dengan manusia. Radio merupakan sarana, sekaligus penyampai pesan.

Radio memiliki keunikan yang menjadi kekuatannya. Radio memiliki apa yang disebut dengan theatre of mind, imajinasi dalam benak pendengar, yang dapat dihasilkan dari kemampuan gaya bicara dan teknis bercerita seorang penyiar radio. Dari warna vokal seorang pembawa acara, dan cara menyiarnya, pendengar bisa jatuh hati, dan membayangkan sosok di bilik ruang siar tersebut.

Sebagai broadcaster dan jurnalis radio, kita mesti memahami ciri radio yang intimate, hangat dan akrab. Juga bersifat auditif, berarti selintas dan anti detal. Salah satu kekuatannya ada pada suara dan gaya percakapan atau bercerita. Tak heran jika orang suka bila acara radio lebih interaktif, melibatkan pendengar, request lagu, atau sekadar kirim-kirim salam lewat udara.

Untuk bisa memanfaatkan apa yang jadi ciri dan karakter radio itu, David W Candow mengajari kami, bagaimana membuat feature radio dengan memperhatikan “tone” (nada), “pitch” (tinggi rendah suatu bunyi yang terdengar), dan “speed” (kecepatan). Biar mudah dipahami, dia menjelaskan, kalau mau memasukkan suara asli narasumber (actuality voice), perlu memperhatikan, apakah kualitas rekamannya baik, apakah dia menjelaskan dengan tempo yang cepat, atau apakah nada suaranya pelan? Ingat, kembali pada suara yang jadi ciri dan kekuatan radio.

Naskah siaran radio, pada hakikatnya ditulis untuk didengar. “Menulis untuk telinga,” begitu biasa disampaikan. Sehingga, dalam kaitan dengan jurnalisme radio, perlu memperhatikan alur ceritanya, dinamika beritanya, dan aspek yang bisa memainkan imajinasi serta emosi pendengar.

Saat pelatihan itu, saya baru tahu bahwa naskah radio tidak ditulis mengambil seluruh halaman kertas. Naskah ditulis hanya menggunakan sepertiga halaman, tapi ditempatkan pada bagian tengah secara vertikal. Tujuannya, mata tidak terlalu jauh melirik ke kiri dan kanan, saat dibaca. Coba perhatian penyiar TV, saat membaca berita, terlihat matanya fokus di layar.

Pelatihan jurnalisme radio yang saya ikuti, dengan trainer David W Candow itu, tidak menangkap peristiwa-peristiwa besar, tapi dampak dari suatu peristiwa terhadap kehidupan. Lebih pada sisi human interest-nya. Dalam peristiwa pemilu 2024 ini, misalnya, pemilihan presiden dan wakil presiden untuk periode 2024-2029, hanya latar saja. Liputannya akan mengungkap kisah hidup orang-orang yang terpinggirkan, yang suaranya tidak tertangkap kamera televisi dalam gelaran besar pesta demokrasi lima tahunan ini. (*)

Gowa, 16 Februari 2024

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles