Senin, April 22, 2024

Saling Mengenal Antara Bahasa Daerah, Budaya dan Pariwisata “Salamakki Engka Ri Desa Wisata Nepo”

KATADIA. BARRU ll Dari bahasa lahirlah budaya dan dari budaya lahirlah pariwisata. Antara bahasa, budaya, dan pariwisata saling mempunyai keterkaitan satu sama lain. Menurut Dr. Dirk Rukka Sandarupa, S. S., M. Hum (dosen S1 Prodi Pariwisata Unhas/Pengurus Himpunan Pelestari Bahasa Daerah) hubungan ketiga aspek tersebut selalu harus didukung dan dipromosikan secara bersamaan.

Mengapa? Lanjut dia, mengatakan bahwa negara seperti Jepang dan Korea Selatan merupakan contoh yang baik sebagai negara yang membudidayakan pariwisata melalui bahasa dan budaya.

Jika kita ke Jepang, tentu disetiap penunjuk jalan atau tempat wisata menghadirkan huruf bahasa Jepang, sama halnya di Korea Selatan jika kita jalan-jalan di “street food”.

Disini kita bisa melihat bahwa ketiga aspek hadir antara bahasa, budaya dan pariwisata sehingga menciptakan suatu keunikan dari negara Jepang maupun Korea Selatan.

Di negara maju lain pun seperti Amerika dan Eropa, disetiap tempat wisata ataupun tempat umum mempunyai map dinding sebagai penunjuk arah. Disinilah kekurangan kita di Sulawesi, maupun kota-kota lain tidak memiliki map sebagai penunjuk arah baik tempat umum atau tempat wisata.

Walaupun sudah ada “Google maps”, maps digital ini tetap perlu hadir baik ditempat umum atau tempat wisata karena ada informasi yang bisa didapatkan yang tak ada di “Google maps”.

Sehingga dengan adanya maps yang menghadirkan bahasa daerah pada desa wisata Nepo, bisa menambah poin lagi bagi budaya dan pariwisata daerah kita sendiri.

Bahasa Daerah perlu dan penting diperkenalkan di jaman sekarang agar generasi muda mengenal peradaban leluhur dan budaya kearifan lokal masyarakatnya. Sekalipun kita berada di zaman milenia, revitalisasi bahasa daerah sebagai bahasa Ibu terus digaungkan melalui berbagai kegiatan agar generasi muda bangga dan tidak gengsi terhadap bahasanya sendiri.

Misalnya mengadakan selebrasi praktik baik di sekolah atau melalui komunitas guru bahasa daerah tingkat provinsi Sulawesi Selatan yang bisa membuat para guru hebat termotivasi mengajarkan bahasa daerah dengan menarik kepada siswanya, ucap Nur Amalia Halid, S.S., M.Pd. ( Guru UPTD SMPN 7 Barru/ Pengurus Himpunan Pelestari Bahasa Daerah).

Bahasa daerah merupakan bagian dari budaya yang sangat perlu dilestarikan sehingga dapat dimanfaatkan dalam kepariwisataan yang akan memberikan dampak positif terhadap masyarakat sebagai pemilik kebudayaan.

Peta pariwisata sangat penting disetiap desa wisata karena berfungsi sebagai petunjuk arah dan informasi tentang data tarik wisata untuk para wisatawan kata bapak Amiruddin, S. Sos., M. Par (Kepala Bidang Pariwisata Barru).

Lanjut bapak Rusmin Nuryadin,A.Md.Par.,SE.,M.Siilbahwa nila budaya dan kearifan lokal termasuk bahasa daerah adalah merupakan modal dalam mengembangkan Pariwisata bersumber kearifan Lokal.

Map digital ini merupakan map pertama yang menghadirkan ketiga unsur tersebut, yakni bahasa daerah, budaya, dan pariwisata dan akan dimasukan sebagai dokumen pendukung lomba desa wisata Adwi Jadesta.

Map anime digital ini diusung dan digagas oleh bapak Amiruddin, S. Sos., M. Par, Dr. Dirk Rukka Sandarupa, S. S., M. Hum, dan bapak Rusmin Nuryadin,A.Md.Par.,SE.,M.Si.
Huruf lontarak bugis diterjemahkan oleh Nur Amalia Halif,S.S.,M.Pd. Digambar oleh Ferdy Sipasulta, S.E., M.M. (selaku designer anime).

Tentu juga dengan hadirnya maps anime digital ini sangat didukung oleh bapak Kepala Dinas Dispora Kabupaten Barru, Musmuntahar Syam, ST. dan Dr. Asis Nojeng M. Pd. (selaku ketua himpunan pelestari bahasa daerah/dosen jurusan sastra Indonesia UNM). Mereka berharap agar ide-ide seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi tempat-tempat wisata lainnya.

Strategi yang dapat dilakukan untuk mengenalkan sastra daerah ke dalam ranah global, bukan sekadar kegiatan aktivitas memperkenalkan khazanah kesusastraan lokal
tetapi juga mengenalkan berbagai destinasi wisata budaya.

Dengan dikenalnya sastra lokal di dunia internasional menjadi jalan bagi penggiat sastra mendapat beberapa prestasi, dan menjadi vitalitas pemertahanan bahasa ibu.

Semakin luas dan positif citra bahasa, sastra dan budaya di mata dunia akan menambah devisa dengan banyaknya orang asing yang masuk, sebagai sebagai wisatawan maupun investor, karena pengenalan tentang negara kita menjadi lebih maju promo wisatanya, ungkap Dr. Sumarlin Rengko HR, S.S, M.Hum (Dosen sastra daerah Unhas/Pengurus Himpunan Pelestari Bahasa Daerah) bahasa lahirlah budaya dan dari budaya lahirlah pariwisata.

Antara bahasa, budaya, dan pariwisata saling mempunyai keterkaitan satu sama lain. Menurut Dr. Dirk Rukka Sandarupa, S. S., M. Hum (dosen S1 Prodi Pariwisata Unhas/Pengurus Himpunan Pelestari Bahasa Daerah) hubungan ketiga aspek tersebut selalu harus didukung dan dipromosikan secara bersamaan.

Mengapa? Lanjut dia, mengatakan bahwa negara seperti Jepang dan Korea Selatan merupakan contoh yang baik sebagai negara yang membudidayakan pariwisata melalui bahasa dan budaya.

Jika kita ke Jepang, tentu disetiap penunjuk jalan atau tempat wisata menghadirkan huruf bahasa Jepang, sama halnya di Korea Selatan jika kita jalan-jalan di “street food”.

Disini kita bisa melihat bahwa ketiga aspek hadir antara bahasa, budaya dan pariwisata sehingga menciptakan suatu keunikan dari negara Jepang maupun Korea Selatan.

Di negara maju lain pun seperti Amerika dan Eropa, disetiap tempat wisata ataupun tempat umum mempunyai map dinding sebagai penunjuk arah. Disinilah kekurangan kita di Sulawesi, maupun kota-kota lain tidak memiliki map sebagai penunjuk arah baik tempat umum atau tempat wisata.

Walaupun sudah ada “Google maps”, maps digital ini tetap perlu hadir baik ditempat umum atau tempat wisata karena ada informasi yang bisa didapatkan yang tak ada di “Google maps”.

Sehingga dengan adanya maps yang menghadirkan bahasa daerah pada desa wisata Nepo, bisa menambah poin lagi bagi budaya dan pariwisata daerah kita sendiri.

Bahasa Daerah perlu dan penting diperkenalkan di jamang sekarang agar generasi muda mengenal peradaban leluhur dan budaya kearifan lokal masyarakatnya.

Sekalipun kita berada di zaman milenia, revitalisasi bahasa daerah sebagai bahasa Ibu terus digaungkan melalui berbagai kegiatan agar generasi muda bangga dan tidak gengsi terhadap bahasanya sendiri.

Misalnya mengadakan selebrasi praktik baik di sekolah atau melalui komunitas guru bahasa daerah tingkat provinsi Sulawesi Selatan yang bisa membuat para guru hebat termotivasi mengajarkan bahasa daerah dengan menarik kepada siswanya, ucap Nur Amalia Halid, S.S., M.Pd. ( Guru UOTD SMPN 7 Barru/ Pengurus Himpunan Pelestari Bahasa Daerah).

Bahasa daerah merupakan bagian dari budaya yang sangat perlu dilestarikan sehingga dapat dimanfaatkan dalam kepariwisataan yang akan memberikan dampak positif terhadap masyarakat sebagai pemilik kebudayaan.

Peta pariwisata sangat penting disetiap desa wisata karena berfungsi sebagai petunjuk arah dan informasi tentang data tarik wisata untuk para wisatawan kata bapak Amiruddin, S. Sos., M. Par (Kepala Bidang Pariwisata Barru).

Lanjut bapak Rusmin Nuryadin,A.Md.Par.,SE.,M.Siilbahwa nila budaya dan kearifan lokal termasuk bahasa daerah adalah merupakan modal dalam mengembangkan Pariwisata bersumber kearifan Lokal.

Map digital ini merupakan map pertama yang menghadirkan ketiga unsur tersebut, yakni bahasa daerah, budaya, dan pariwisata dan akan dimasukan sebagai dokumen pendukung lomba desa wisata Adwi Jadesta.

Map anime digital ini diusung dan digagas oleh bapak Amiruddin, S. Sos., M. Par, Dr. Dirk Rukka Sandarupa, S. S., M. Hum, dan bapak Rusmin Nuryadin,A.Md.Par.,SE.,M.Si.
Huruf lontarak bugis diterjemahkan oleh Nur Amalia Halif,S.S.,M.Pd. Digambar oleh Ferdy Sipasulta, S.E., M.M. (selaku designer anime).

Tentu juga dengan hadirnya maps anime digital ini sangat didukung oleh bapak Kepala Dinas Dispora Kabupaten Barru, Musmuntahar Syam, ST. dan Dr. Asis Nojeng M. Pd. (selaku ketua himpunan pelestari bahasa daerah/dosen jurusan sastra Indonesia UNM). Mereka berharap agar ide-ide seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi tempat-tempat wisata lainnya.

Strategi yang dapat dilakukan untuk mengenalkan sastra daerah ke dalam ranah global, bukan sekadar kegiatan aktivitas memperkenalkan khazanah kesusastraan lokal tetapi juga mengenalkan berbagai destinasi wisata budaya.

Dengan dikenalnya sastra lokal di dunia internasional menjadi jalan bagi penggiat sastra mendapat beberapa prestasi, dan menjadi vitalitas pemertahanan bahasa ibu.

Semakin luas dan positif citra bahasa, sastra dan budaya di mata dunia akan menambah devisa dengan banyaknya orang asing yang masuk, sebagai sebagai wisatawan maupun investor, karena pengenalan tentang negara kita menjadi lebih maju promo wisatanya, ungkap Dr. Sumarlin Rengko HR, S.S, M.Hum (Dosen sastra daerah Unhas/Pengurus Himpunan Pelestari Bahasa Daerah)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles