Kamis, Mei 30, 2024

Wali Kota Makassar Berbagi Ilmu di UGM tentang Pengembangan Kota Rendah Emisi Karbon

KATADIA,YOGYAKARTA || Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan “Danny” Pomanto, berbagi ilmu dan berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengenai upaya mewujudkan kota rendah emisi karbon di Indonesia.

Dalam kuliah publik bertemakan “Pengembangan Kota Rendah Emisi Karbon di Indonesia” ini, Danny Pomanto memaparkan berbagai inovasi yang diterapkan di Makassar.

Salah satu mahasiswa, Ahmad Nuursyifa Fuady dari Fakultas Teknik Pertanian UGM, mengaku takjub dengan sosok Danny Pomanto yang memimpin Makassar dengan banyak inovasi.

“Aku baru sadar bahwa ada kota di Indonesia termasuk Makassar dan pak wali kotanya punya ambisi banget mewujudkan kota yang rendah emisi karbon,” kata Ahmad saat diwawancarai usai acara di UGM, Selasa (14/05/2024).

“Sebagai wali kota yang punya ambisi menurunkan emisi karbon di Makassar itu inspiring banget,” tutur Ahmad dengan senyum. Ia merasa terkesima dengan program seperti Transportasi Co’mo dan Lorong Wisata yang diinisiasi oleh Danny Pomanto.

“Apalagi, bagi saya yang tinggal di daerah itu benar-benar menginspirasi. Apakah saya jadi wali kota saja biar bisa bikin hal yang sama?” tanyanya sembari terkekeh.

Ahmad menyoroti keberhasilan program di Makassar yang kuat dalam aspek sosial, yang dikenal dengan konsep “Kota Dunia yang Sombere’ dan Smart City” oleh Danny Pomanto. Ia berharap program tersebut dapat diterapkan di kota-kota lain, khususnya di pulau Jawa.

Daffa Indraprawira Izaohar, mahasiswa Teknik Fisika UGM, juga mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru setelah berdiskusi dengan Wali Kota Makassar.

Dalam kuliah publik tersebut, Danny Pomanto memaparkan materi tentang Makassar sebagai kota rendah karbon. Ia menekankan bahwa upaya menurunkan emisi karbon merupakan persoalan hidup-mati bagi semua orang.

“Ini tidak bisa kita kerjakan sendiri. Kolaborasi hari ini, ITB, UGM, pemerintah Amerika dan Indonesia, inilah model yang sangat baik dikembangkan menjadi model yang ideal,” ujar Danny.

Wali kota berlatar pendidikan arsitektur ini menuturkan bahwa mewujudkan kota rendah karbon bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang perubahan perilaku masyarakat.

Ia mencontohkan bahwa di Makassar, perubahan perilaku dimulai dari lorong-lorong kota yang menjadi ruang kecil dari sel kota.

“Persoalan emisi karbon ini intinya adalah perilaku manusia. Semua ini terjadi karena perilaku manusia,” tegas Danny.

Di Makassar, lorong-lorong diubah menjadi lorong wisata dengan adanya Public Engagement dan Protokol Sentuh Hati.

Pemerintah mengintervensi dengan menyediakan bibit sayur atau perikanan, yang kemudian berkembang menjadi sirkulasi ekonomi, memberdayakan masyarakat, dan menjadikan lingkungan hijau.

Danny juga menjelaskan tentang restrukturisasi sosial di Makassar yang melibatkan institusi baru untuk mengengage masyarakat, yaitu Bassi Barania, yang terdiri dari local influencer dan Dewan Lorong dengan tiga komponen: Karismatik Leader, Woman Leader, dan Milenial Leader.

Selain itu, Danny menyoroti program Salat Subuh Berjamaah yang bertujuan mengkonsolidasikan satu kota, yang juga mendukung upaya penurunan emisi karbon dengan mengurangi penggunaan energi.

Menurutnya, untuk merendahkan emisi karbon diperlukan perencanaan matang, kepemimpinan yang kuat, keterlibatan publik, dan evaluasi yang berkelanjutan.

Danny berharap pertemuan ini dapat memperkuat kolaborasi dan menyempurnakan upaya Makassar serta kota lainnya menuju kota rendah karbon. (*)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles