Oleh: Kaengdaus, Aktivis Dakwah Bulukumba
KATADIA || Bagi umat Islam, umrah adalah ibadah mulia. Meski bukan rukun Islam yang wajib seperti haji, umrah tetap menjadi dambaan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena keberangkatan umrah tak semata didorong oleh niat ibadah. Ada dimensi bisnis. Ada pula aroma gengsi.
Ibadah atau Kompetisi Sosial?
Di daerah-daerah, umrah mulai menjadi semacam “simbol status sosial”. Bila dulu umrah dilakukan dalam suasana kesunyian spiritual, kini sebagian orang memamerkan keberangkatan mereka: dari postingan media sosial hingga testimoni berbau promosi. Tak jarang, niat awal ibadah bercampur dengan kebanggaan, bahkan gengsi.
Orang tua merasa malu jika anak-anak tetangga sudah pernah berangkat umrah. Seorang tokoh merasa harus umrah agar “layak” didengar ceramahnya. Bahkan ada keluarga yang rela berutang hanya demi satu unggahan di depan Ka’bah.
Umrah dan Komodifikasi Ibadah
Bersamaan dengan meningkatnya permintaan, umrah menjadi ladang bisnis menjanjikan. Travel-travel bermunculan. Paket-paket umrah dikemas menarik, lengkap dengan hotel bintang lima dan wisata ke tempat-tempat mewah. Tak jarang, agen umrah lebih menjual “kenyamanan dan kemewahan” ketimbang “ruh ibadah”.
Tentu, tak salah mencari kenyamanan. Namun bila kemasan dunia lebih ditonjolkan ketimbang makna ibadah, maka yang terjadi bukan lagi spiritualitas, melainkan komodifikasi. Ibadah yang seharusnya menjadi hubungan khusyuk antara hamba dan Tuhan, terjebak dalam logika pasar dan kemasan kapitalisme.
Solusi: Luruskan Niat, Perkuat Edukasi
Umrah tetaplah ibadah yang utama, bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai “penghapus dosa di antara dua umrah” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, sudah semestinya kita luruskan niat. Bukan karena gengsi. Bukan pula semata karena bisnis. Tapi demi mengharap ridha Allah SWT.
Pemerintah dan ormas Islam juga perlu memperkuat edukasi. Jangan hanya mengawasi travel umrah dari sisi perizinan dan bisnis, tapi juga dari sisi bimbingan ruhani. Jangan sampai umat Islam “beribadah” ke tanah suci tapi pulang tanpa makna, karena sejak awal niatnya salah arah.
Penutup
Umrah adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri, menyegarkan ruhani, dan menata hidup. Jangan rusak ibadah ini dengan niat yang tidak tulus. Jangan juga jadikan umrah sebagai ajang pamer. Biarkan ia kembali menjadi peristiwa sunyi yang agung: antara hamba dan penciptaNya.