KATADIA MAKASSAR || Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Makassar kembali hadir di lingkungan sekolah sebagai mitra dalam memberikan edukasi kesehatan kepada peserta didik.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di UPT SPF SDN Rappocini Kota Makassar, Sabtu (29/8/2026), dengan mengangkat tema “Bahaya Pencemaran Bahan Fisik, Mikrobiologis, dan Kimia dari Pemeriksaan Laboratorium Siswa Sekolah Dasar Negeri Rappocini Kota Makassar.”
Kepala UPT SPF SDN Rappocini, Juli Astutik, menyambut baik kehadiran Poltekkes Kemenkes Makassar yang selama ini menjadi mitra penting dalam mendukung edukasi kesehatan bagi para siswa.
“Kehadiran Poltekkes Kemenkes Makassar di sekolah adalah sebagai mitra yang selalu hadir memberikan edukasi kepada murid-murid. Kerja sama dengan kalangan akademisi juga memberikan ruang bagi sekolah untuk mendapatkan berbagai inovasi dan pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam mendukung proses pendidikan,” ujar Juli Astutik.
Juli menambahkan, Poltekkes Kemenkes Makassar cukup aktif hadir di sekolah melalui berbagai kegiatan edukasi kesehatan, termasuk mendukung program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang menjadi bagian dari program Wali Kota Makassar terkait UKS di setiap sekolah.
Keterlibatan perguruan tinggi di lingkungan sekolah bukan hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga memperkuat hubungan antara dunia akademik dengan satuan pendidikan.
Sementara itu, Dosen Poltekkes Kemenkes Makassar, Yaumil F. Tandjungbulu, S.ST., M.Kes., yang turut terlibat dalam kegiatan tersebut menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi akademisi dalam memberikan pemahaman mengenai aspek kesehatan dan potensi bahaya pencemaran yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pemeriksaan laboratorium.
Salah satu materi yang disampaikan adalah bahaya boraks yang dilarang digunakan dalam makanan karena berbahaya bagi kesehatan.
Menariknya, dalam kegiatan ini diperkenalkan cara sederhana mendeteksi boraks menggunakan bahan dapur sehari-hari — kunyit. Di dalam kunyit terdapat zat bernama kurkumin yang memiliki kemampuan mengikat boraks.
“Kertas atau tusuk gigi yang sudah direndam air kunyit, jika ditempelkan atau ditusukkan ke makanan yang mengandung boraks, warnanya akan berubah dari kuning menjadi merah bata atau kecokelatan dalam waktu 3–5 menit. Jika warnanya tetap kuning, makanan tersebut bebas boraks,” jelas Yaumil.
Ia juga mengingatkan ciri-ciri makanan yang kemungkinan mengandung boraks: tekstur kenyal berlebih, tahan lama tidak mudah busuk, dan jarang didatangi lalat.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa sekaligus menjadi bekal bagi mereka untuk waspada terhadap keamanan makanan di lingkungan sekitar.
Laporan: (As)