Terhubung dengan kami

Uncategorized

Logo HUT ke-419 Makassar Dicari, ADGI Buka Sayembara untuk Desainer

Dipublikasikan

pada

Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar melalui Dinas Pariwisata kembali menggandeng Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) Chapter Makassar

KATADIA MAKASSAR || Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar melalui Dinas Pariwisata kembali menggandeng Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) Chapter Makassar untuk menggelar sayembara desain logo dan identitas visual Hari Jadi ke-419 Kota Makassar.

Program tersebut menjadi bagian dari ADGI Hub sekaligus membuka ruang bagi desainer grafis lokal untuk menerjemahkan karakter, sejarah, semangat masyarakat, hingga visi masa depan Makassar ke dalam sebuah identitas visual.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, Ahmad Hendra Hakamuddin, mengatakan sayembara tersebut kembali digelar setelah pelaksanaan tahun sebelumnya mendapat respons positif dari masyarakat maupun pelaku industri kreatif.

Menurut Hendra, identitas visual Hari Jadi Kota Makassar tahun ini diharapkan tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga memiliki konsep yang kuat, relevan dengan karakter kota, mudah diaplikasikan dan konsisten digunakan di berbagai media komunikasi.

“Menyambut HUT Kota Makassar, kita melakukan sayembara seperti tahun lalu, bekerja sama dengan ADGI Chapter Makassar sebagai wadah mereka untuk mengumpulkan ide-ide gagasan berkaitan dengan Hari Ulang Tahun Kota Makassar tahun 2016,” ujar Hendra usai melakukan audiensi dengan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, di Balai Kota Makassar, Kamis (3/9/2026).

Ia menjelaskan, tema Hari Jadi ke-419 Kota Makassar telah diajukan kepada Wali Kota Makassar. Tema tersebut nantinya menjadi pijakan bagi para peserta dalam mengembangkan logo dan identitas visual.

“Untuk tema, sudah kita ajukan ke Pak Wali. Nanti berdasarkan tema tersebut, itu nanti akan dijadikan logo,” katanya.

Hendra menegaskan, kolaborasi dengan ADGI membuat proses sayembara tidak sekadar menjadi kompetisi untuk menghasilkan sebuah logo.

Peserta nantinya akan melalui tahapan seleksi dan kuratorial sehingga gagasan yang dihasilkan dapat dikembangkan secara lebih matang.

“Kita ingin melihat bagaimana desainer menerjemahkan identitas Makassar bukan hanya dari sisi simbol, tetapi juga dari kekayaan sejarah, energi masyarakatnya, dan visi Pemerintah Kota Makassar,” tuturnya.

Menurutnya, kolaborasi pemerintah dengan komunitas kreatif dan profesi desain diharapkan dapat memperkuat citra Makassar sebagai kota tujuan pariwisata sekaligus pusat kreativitas di kawasan Indonesia Timur.

“Kami berharap identitas visual Hari Jadi ke-419 Kota Makassar nantinya tidak hanya menjadi simbol perayaan, tetapi mampu merepresentasikan kondisi Makassar saat ini dan visi kota yang hendak diwujudkan ke depan,” harapnya.

Sementara itu, Sekretaris ADGI Chapter Makassar, Andi Weri, menjelaskan mekanisme sayembara tahun ini berbeda dengan sayembara desain pada umumnya.

Peserta terlebih dahulu diwajibkan mengirimkan portofolio untuk melalui proses seleksi. Dari seluruh portofolio yang masuk, ADGI akan memilih sekitar tiga hingga lima peserta atau tim untuk mengikuti tahapan kuratorial dan pengembangan desain.

“Kalau sayembara pada umumnya, sembarang orang bisa mengirimkan desain. Kalau yang ini tidak, mereka mengirimkan portofolio dulu. Yang lolos seleksi akan masuk final dan lanjut proses perancangan,” jelasnya.

Peserta open call diwajibkan memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain memiliki KTP Makassar dan/atau berdomisili di Kota Makassar.

Peserta dari luar daerah tetap dapat mengikuti proses tersebut sepanjang mampu membuktikan domisilinya di Makassar, salah satunya melalui surat keterangan domisili.

Selain itu, peserta minimal memiliki pengalaman dua tahun sebagai profesional graphic designer serta mempunyai portofolio sebagai bahan penilaian awal.

“Minimal pengalaman dua tahun sebagai profesional graphic designer dan memiliki portofolio,” ujarnya.

Untuk peserta yang mendaftar dalam bentuk tim, jumlah anggota minimal tiga orang. Ketentuan tersebut mempertimbangkan luasnya cakupan pekerjaan dalam merancang sebuah identitas visual.

Andi mengatakan pekerjaan tersebut dinilai tidak ideal apabila hanya dikerjakan seorang diri karena kebutuhan desain yang cukup luas.

“Proses perancangan ini tidak mungkin dikerjakan oleh satu orang karena cakupannya luas dan yang mau dibuat banyak,” ungkapnya.

Bagi desainer yang belum memiliki studio, kata dia, tetap diperbolehkan mengikuti proses secara individu dengan membentuk tim bersama desainer lainnya.

Mahasiswa maupun peserta yang sudah tidak berstatus mahasiswa juga tetap dapat mengikuti sayembara sepanjang memenuhi seluruh persyaratan.

Open call sayembara telah dibuka sejak 27 Agustus 2026 dan akan ditutup pada 5 September 2026.

Selanjutnya, pengumuman peserta yang lolos seleksi dijadwalkan pada 6 September, kemudian dilanjutkan briefing awal pada 7 September 2026.

Dalam tahapan briefing, peserta akan mendapatkan pengarahan sekaligus materi mengenai budaya Makassar sebagai bekal dalam mengembangkan konsep desain.

Peserta terpilih kemudian akan menjalani proses kuratorial selama kurang lebih satu bulan.

Hasil rancangan nantinya akan dipresentasikan di hadapan Wali Kota Makassar dan Kepala Dinas Pariwisata pada 9 Oktober 2026.

Proses kuratorial akan mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari estetika, distingsi atau keunikan konsep, hingga kemampuan desain untuk diterapkan pada berbagai kebutuhan komunikasi.

Setelah seluruh proses kuratorial selesai, hasilnya akan diserahkan kepada Pemkot Makassar untuk menentukan desain yang paling representatif dengan tema Hari Jadi ke-419 Kota Makassar.

“Semua poin-poin sudah terpenuhi, sudah layak, kita serahkan ke pihak panitia Pemkot, dalam hal ini Pak Wali untuk menentukan pilihan mana yang paling representatif mewakili Hari Jadi Kota Makassar sesuai tema yang dibuat oleh Pemerintah Kota Makassar,” jelas Andi.

Salah satu hal yang membedakan sayembara ini adalah peserta yang masuk dalam proses perancangan tetap mendapatkan fee desain, termasuk peserta yang nantinya tidak terpilih sebagai pemenang.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari prinsip ADGI yang menolak praktik speculative work, yakni pekerjaan desain yang dilakukan tanpa kepastian kompensasi.

“Siapa pun yang menang, semua dapat fee desain. Beda kalau sayembara terbuka, orang kirim, yang tidak menang tidak dapat apa-apa,” sebutnya.

Ia menambahkan, ADGI berupaya mendorong ekosistem industri kreatif yang lebih profesional dengan menghargai proses dan keahlian para desainer.

“Sementara kita di ADGI menolak istilah speculative work, kerjaan yang Anda mendesain kemudian tidak dibayar,” sambungnya.

Lebih dari sekadar menghasilkan logo Hari Jadi Kota Makassar, proses kuratorial tersebut juga diharapkan menjadi ruang peningkatan kapasitas bagi talenta kreatif lokal.

“Minimal dalam proses kuratorial, teman-teman secara level, standar, dan skill-nya bisa naik,” pungkasnya.

Informasi lengkap mengenai ketentuan, persyaratan dan mekanisme submisi sayembara dapat diakses melalui akun Instagram ADGI Chapter Makassar.

Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending