KATADIA MAKASSAR || Lahan yang sebelumnya terbengkalai, dipenuhi sampah dan terdapat bangunan tua bekas kantin, kini mulai disulap menjadi kawasan Urban Farming di SMPN 15 Makassar. Kamis 10/09
Program tersebut menjadi salah satu upaya sekolah menciptakan lingkungan yang lebih bersih, hijau, indah sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi siswa.
Kepala SMPN 15 Makassar, Mutmainah, S,Pd meninjau langsung proses pembuatan Urban Farming yang saat ini terus dikerjakan secara bertahap bersama warga sekolah.
Mutmainah mengatakan, area tersebut sebelumnya tidak dimanfaatkan dengan baik. Kondisinya bahkan dipenuhi sampah dan terdapat bangunan tua yang kerap menjadi tempat siswa berkumpul.
“Dulu area ini tidak terpakai dan penuh sampah. Ada bangunan tua seperti bekas kantin. Saya minta dibongkar dan sampahnya dikeluarkan semua,” ujar Mutmainah saat meninjau lokasi.
Setelah area dibersihkan, pihak sekolah melihat potensi lahan tersebut untuk dikembangkan menjadi Urban Farming.
Menurutnya, kawasan itu memiliki beberapa bagian lahan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Sebagian lahan akan digunakan untuk penanaman langsung, sementara area yang sudah dipaving disiapkan untuk penempatan polybag.
“Setelah bersih, saya berpikir area ini bagus kalau dibuat Urban Farming. Ada beberapa bagian lahan yang bisa kita olah, sementara yang sudah dipaving kita manfaatkan untuk polybag,” jelasnya.
Pengembangan Urban Farming dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, siswa mulai mempersiapkan media tanam, termasuk menyiapkan polybag serta mengolah lahan yang sebelumnya dipenuhi batu dan sampah.
Memasuki tahap berikutnya, siswa juga telah melakukan penyemaian berbagai tanaman yang nantinya dikembangkan di kawasan Urban Farming tersebut.
Selain tanaman, SMPN 15 Makassar juga menyiapkan kolam ikan. Dua bagian kolam yang sebelumnya tidak terpakai akan dimanfaatkan sebagai tempat budidaya ikan.
Mutmainah mengungkapkan, pihak terkait dari sektor perikanan dan pertanian telah melakukan survei ke lokasi. Sekolah juga telah mendapatkan dukungan berupa tanaman untuk mendukung program tersebut.
“Dari perikanan sudah datang survei, dari pertanian juga sudah datang dan memberikan tanaman. Kalau kolamnya sudah siap, tinggal kita hubungi untuk pengisian ikan,” katanya.
Ia menyebut, fasilitas pendukung berupa instalasi air juga telah dipersiapkan. Pembangunan instalasi tersebut dianggarkan sekolah untuk mendukung kegiatan kokurikuler.
“Airnya sudah ada. Instalasinya kita pasang karena memang saya anggarkan di ARKAS untuk kokurikuler. Jadi kita manfaatkan untuk program ini,” ungkapnya.
Ke depan, sekolah juga berencana menata kawasan Urban Farming agar tidak hanya berfungsi sebagai lahan produksi tanaman dan ikan, tetapi sekaligus menjadi taman yang nyaman dan menarik.
Sejumlah tanaman merambat seperti melon, paria dan kacang panjang direncanakan menghiasi bagian tertentu kawasan tersebut. Sekolah juga akan memanfaatkan bambu sebagai media rambatan tanaman.
Mutmainah mengatakan, konsep penataan tersebut telah dibuat dalam bentuk sketsa. Kawasan Urban Farming nantinya diharapkan dapat menyatu dengan konsep taman sekolah.
“Saya sudah punya sketsa. Nanti saya mau dibuat seperti taman atau kebun, keliling dengan pagar. Kebetulan ada anak yang bagus menggambar dan bisa membuat sketsa, sehingga kami manfaatkan untuk mendukung penataan taman,” tuturnya.
Bagi Mutmainah, kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah merupakan bagian penting dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi siswa maupun guru.
Ia berharap, setelah seluruh tahapan selesai, kawasan tersebut dapat menjadi salah satu ikon lingkungan SMPN 15 Makassar sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai pertanian perkotaan, budidaya tanaman dan perikanan.
“Kalau sekolah bersih dan indah, suasananya nyaman. Ketika tamu masuk, pandangannya juga segar. Kami ingin semuanya dikerjakan pelan-pelan, tetapi hasilnya bisa berkembang dan berhasil,” pungkasnya.
Pihak sekolah juga membuka peluang agar kawasan Urban Farming tersebut nantinya dapat dikunjungi sebagai contoh pemanfaatan lahan sekolah yang sebelumnya tidak produktif menjadi ruang edukasi dan lingkungan hijau.(**)