KATADIA,WATAMPONE || Puskesmas Mare dengan lokus binaan Desa Mario menjadi satu dari Sembilan puskesmas di Sulawesi Selatan yang menjadi piloting penerapan metode HCD (Human Centered Design) untuk meningkatkan cakupan imunisasi.
Propinsi Sulawesi Selatan sendiri diwakili oleh tiga Kabupaten yakni Kabupaten Bone, Bulukumba dan Kota Makassar. Setiap kabupaten/ kota diwakili oleh tiga wilayah puskesmas dengan salah satu desa dipilih sebagai lokus binaan untuk penerapan metode HCD dan Puskesmas Mare adalah salah satu diantaranya dari kabupaten Bone.
Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kerjasama Kementerian Kesehatan dan UNICEF yang telah meluncurkan inisiatif inovatif dalam menggunakan pendekatan HCD untuk mendukung peningkatan pelayanan imunisasi di Indonesia.
Human-centered design (HCD) adalah pendekatan yang dipakai untuk memecahkan masalah yang mengacu pada motivasi, keseharian, kebiasaan dan hambatan kelompok sasaran agar kemudian dapat diciptakan solusi yang tepat, terutama untuk meningkatkan akses dan pelayanan imunisasi di Indonesia
Dimulai dari proses perencanaan yang berfokus pada motivasi kelompok sasaran untuk ikut kegiatan imunisasi (bukan hanya berfokus pada pengetahuan/ kesadaran kelompok sasaran).
Pendekatan HCD juga mampu melihat hambatan dan mendapat masukan dari kelompok sasaran terkait ide/solusi yang diciptakan.
Proses ‘penyelidikan cepat’ dalam pendekatan HCD berguna untuk memahami pengaruh kelompok sasaran sekaligus berfokus pada proses pembuatan ide kreatif untuk menghasilkan solusi yang tepat sehingga kelompok sasaran mau mengikuti kegiatan imunisasi.

Proses berulang dalam pendekatan HCD merupakan salah satu kelebihan sehingga solusi yang dikembangkan tepat sesuai kebutuhan kelompok sasaran.
Pendekatan ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan pelayanan imunisasi di Indonesia.
Tim HCD Puskesmas Mare yang terdiri atas Kepala Puskesmas, Petugas Promkes, Korim, Kepala Desa Mario dan dua orang kader posyandu, didampingi oleh Tim Fasilitator Kabupaten dan Propinsi saling bersinergi menggali motivasi dan hambatan setiap individu dari kelompok sasaran guna mendapatkan masukan terkait ide/solusi yang diwujudkan dalam bentuk purwarupa.
Kegiatan penyelidikan cepat ini, dengan menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dan In-depth Interview (wawancara mendalam), menghadirkan dua kelompok sasaran imunisasi sebagai partisipan, yakni kelompok yang mendukung imunisasi dan kelompok yang tidak/kurang mendukung imunisasi dilaksanakan di Aula Pertemuan Puskesmas Mare pada hari Sabtu 2 Juni 2022,
Partisipan/kelompok sasaran dalam kegiatan ini dibagi dalam dua kelompok yang masing-masing dipandu oleh anggota Tim HCD dan fasilitator.
Menurut salah satu fasilitator HCD dari Dinkes Kabupaten Bone, H. Marsuki, SKM,M.Kes, bahwa kegiatan penyelidikan cepat dengan metode FGD ini dimaksudkan untuk menggali pendapat dan masukan masyarakat terkait pelayanan imunisasi oleh puskesmas.
“Kita mau mencari ide solusi pemecahan masalah itu berdasarkan apa maunya masyarakat, tentu dengan tetap memperhatikan kondisi dan kemampuan pemberi layanan”, kata H. Marsuki.
Sedangkan menurut Jusman, SKM,M.Kes, salah satu dari Tim HCD Puskesmas Mare mengungkapkan bahwa hasil yang diperoleh dari FGD dan wawancara mendalam dari dua kelompok sasaran tidak jauh berbeda dari hasil identifikasi hambatan dan perumusan purwarupa awal berdasarkan asumsi tim sebelumnya.
“Ya jadi apa yang kita peroleh dari hasil FGD dan wawancara tadi sebagian besarnya sudah seperti asumsi awal, namun tetap ada hal baru yang menarik untuk menjadi masukan dalam menyempurnakan purwarupa kedepannya,” jelas Jusman.
Seperti yang terungkap dalam kegiatan FGD dan wawancara mendalam tersebut bahwa memang hambatan terbesar masyarakat Mare khususnya Desa Mario dalam memperoleh layanan imunisasi adalah masih terkait kesibukan orang tua dalam pekerjaan, pengaruh keluarga dekat, keyakinan, dan kecemasan akibat efek pasca imunisasi.
Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh seorang ibu yang berprofesi sebagai perias pengantin, “Kalau kebetulan ada lagi job-ku bertepatan dengan posyandu baru tidak ada yang bawa anakku, yaa terpaksa tidak pergi lagi posyandu,”terangnya.
Berdasar masukan-masukan tersebut, tim HCD Puskesmas Mare telah menyiapkan rumusan purwarupa yang bisa mengakomodir hambatan-hambatan yang dirasakan oleh kelompok sasaran sebagai penerima layanan.
Laporan Andi Syafri Azis
Sumber : H.Marsuki, SKM.,M.Kes dan Jusman, SKM.,M.Kes