KATADIA, MAKASSAR || Sering kita mendengar anak-anak, ketika ditanya apa cita-citanya, jawabannya ingin jadi dokter, insinyur, tentara atau polisi. Semua cita-cita itu tentu sangat mulia. Khusus dokter, anak-anak sejak dini sudah punya wadahnya. Di sekolah ada yang disebut Dokter Kecil atau disingkat Dokcil.
Terkait Dokcil ini, di SD Inpres Banta-bantaeng I Makassar akan mengadakan pelatihan dengan narasumber dari Puskesmas Ballaparang. Kepala SD Inpres Banta-bantaeng I, Hj Baena, S.Pd, M.Pd menyampaikan hal itu saat berdiskusi tentang pengembangan program di sekolahnya dengan penggiat literasi, Rusdin Tompo, Senin, 14 Februari 2022.
Hj Baena menjelaskan, pelatihan Dokcil itu bagian dari upaya penanaman budaya hidup bersih dan sehat untuk anak-anak di sekolahnya. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan program yang dilakukan oleh anak-anak yang tergabung dalam Dokcil. Program ini juga terkait dengan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
“Melalui kegiatan ini, anak-anak diharapkan memahami kegiatan UKS dan Dokter Kecil plus dokter kelas,” jelas Hj Baena.

Selain itu, lanjutnya, anak-anak diharapkan memahami tanda-tanda penyakit, memahami pelayanan ketika membantu tenaga kesehatan, serta memahami kesehatan lingkungan sekolah. Anak-anak nantinya, kata Hj Baena, akan melakukan pengamatan kebersihan sekolah dan cara melaporkannya sebagai Dokcil.
Output dari kegiatan ini, dalam jangka panjang, yakni warga sekolah memahami pengetahuan dan keterampilan berperilaku hidup sehat, baik di sekolah, di rumah maupun di lingkungan masyarakat.
Saat berdiskusi dengan Rusdin Tompo itu, direncanakan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan Sekolah Ramah Anak (SRA), sekolah Adiwiyata, dan gerakan literasi sekolah. Kegiatan yang dilakukan, antara lain, menulis kreatif, menulis puisi, berpidato, mendongeng, dan teater.
“Karya anak-anak nanti akan didokumentasikan dalam bentuk buku pada akhir tahun,” terang Rusdin Tompo.
Dalam pelaksanaan program yang akan dilakukan itu, Rusdin Tompo, yang juga dikenal sebagai penulis buku itu, akan didampingi oleh seniman dan penyair bahasa Makassar, serta pendongeng. Kegiatan tersebut tak cuma menyasar murid-murid tapi juga orang tua siswa dan guru. (*)