Rabu, April 24, 2024

Pasturi Abdullah dan Juliana Bertahan Hidup dengan Jualan Es di Kota Pangkep

KATADIA, PANGKEP || Di bawah terik matahari sore, sepasang suami istri (pasturi) Abdullah dan Juliana sibuk melayani pembeli  es Mataram dan es Kelapa di simpang Jalan Andi Mauraga di Kota Pangkep.

Lokasi tempat jualan ini termasuk cukup strategis karena merupakan rute jalan umum dilewati banyak pelajar mulai dari TK, SD, SMP, dan juga SMA.

Jual es di tempat tersebut banyak disinggahi para pelajar saat jam waktu pulang sekolah telah tiba.

Gerobak jualan es berlokasi tepatnya disamping halte, dengan memasang terpal warna biru guna menghalangi pembeli dari sengatan matahari, serta melindungan dari air dikala hujan.

Kepada media Sabtu 2 Juli 2022 Abdullah dan Juliana mengatakan telah melakoni jualan es sejak 2016 sampai hari ini. Mereka memulai rutinitas harian dengan membuka jualan di gerobak pada pukul 10.00 WITA, dan akan akan tutup jualan jelang magrib 18.00 WITA.

Saat memulai membuka usaha jualan es ini membutuhkan modal sekitar Rp.8 juta, sudah termasuk gerobak alat jualan piring sendok dan lainnya serta bahan-bahan jualan lainnya, katanya.

Gerobak jualan selalu ramai pada siang apalagi kalau matahari sangat terik, minuman yang dijual adalah es mataram dan es kelapa dengan harga sama masing masing satu gelas Rp.5000,-. Tarif serba lima ribu rupiah sejak dari dulu awal memulai usaha jualan ini.

Bahan jualan es mataram dan es kelapa dipersiapkan racikan di rumah, setelah selesai di racik dengan menggunakan sepeda motor mengantar minuman itu untuk siap jual di gerobaknya. Modal usahanya ini sekitar Rp 8 juta, ungkapnya.

Pendapatan kotor yang diperoleh pasang suami isteri ini rata-rata perhari dapat mencapai antara Rp.500.000,- sampai Rp.600.000,- pendapatan itu sudah termasuk modal yang dipakai selama ini.

Cuaca panas terik matahari senantiasa didambakan pasture ini agar jualan esnya semakin laku dan dicari banyak orang. Tetapi sebaliknya jika cuara kurang bersahabat dengan hujan sepanjang hari, sehingga kalau cuaca hujan tidak jualan dan tinggal di rumah bersama anak-anaknya.

Saat menjelang senja, penjual es ini berkemas kembali ke rumahnya dan meninggalkan beberapa biji kelapa muda di gerobaknya. Selama ini kalau simpan kelapa muda di gerobak, seringkali ada orang jahil yang mengambil buah kelapa mudanya itu.

Kelapa muda di simpan di gerobak sedangkan bahan lainnya dibawa ke rumah berupa air gula dan agar-agar yang awet dan tahan beberapa hari untuk di jual kembali, tandasnya.

Abdullah lahir tahun lahir 12 Januari 1992 isterinya Juliana lahir 29 Juli 1994 dan telah dikaruniai 3 orang anak, saat ini dia tinggal di Jalan Produksi, Baru-baru, Kabupaten Pangkep, tepat di depan Kantor Bupati Pangkep.

Juliana menamatkan pendidikan hanya sampai jejang Sekolah Dasar di SD Negeri 17 Langnga-Langnga, Kabupaten Pangkep. Sedangkan Abdullah menamatkan pendidikan hingga jenjang SMA. Dia memulai pendidikannya di SDN 58 Baru-baru Utara, kemudian di SMP Muhammadiyah Pangkajene, lanjut di DDI Baru-baru Tangnga di Bonto Perak, Kab. Pangkep.

Lewat berjualan es ini pasture ini mampu bertahan hidup dan mampu membiayai ketiga anaknya yang bersekolah di SDN 58 Baru-baru Utara.

Anak pertamanya bernama Reski Amelia di kelas 5, Nada Nurhalifa di kelas 4, dan yang terakhir Hafizah Azzahra yang masih berusia dua tahun. Ibu dari 3 putri ini mengatakan saat ini tinggal di rumah mertuanya, di Baru-baru Pangkep. *

 

 

Laporan: Vika Amalia Fathihany
Mahasiswa Komunikasi Unismuh Makassar

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles