Kamis, Februari 22, 2024

Poniyo Dua Puluh Tahun Jadi Penjual Bakso Keliling di Kota Makassar

KATADIA,MAKASSAR || Poniyo adalah seorang pedagang bakso goreng keliling di Kota Metropolitan Makassar berusia 40 tahun asal Klaten Jawa Tengah.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pertama di Klaten memilih merantau ke Makassar dan melakoni kerja sektor informal, tidak terasa dia telah menjalani kerja jualan kurang lebih 20 tahun.

Pada awal kedatangan di Makassar tahun 2000-an, dia ikut dengan seseorang untuk mendapatkan modal awal, hal tersebut berlangsung selama 3 tahun setelah itu jalan dengan modal sendiri.

Kepada media, Sabtu 2 Juli 2022, Poniyo mengatakan sebelum jualan bakso goreng keliling, dia jualan es namun dengan kebutuhan dan permintaan pasar di zaman sekarang ini, lemari es sudah ada pada hampir rumah sehingga mudah diakses dan membuat merosotnya pasaran es sehingga dia beralih jualan bakso goreng.

Rutinitas keseharia menjajakkan jualan keliling di sepanjang Jalan Maccini Raya dan sekitarnya, mulai dari jam 09.00 Wita, pagi sampai jam 12.00 Wita, lalu kembali berkeliling jam 16.00 Wita hingga dagangannya habis. Setiap jam 12.00 Wita sampai 16.00 Wita dipergunakan untuk beristirahat di rumah, katanya.

Pendapatan bersih seharinya itu kurang lebih Rp.100.000,- , pendapatan itu semua terasa cukup ketika kita menyukuri, ungkapnya.

Masa pandemik Covid-19 mengakibatkan sekolah jadi daring dan ini cukup meresahkan para pedagang kaki lima salah satunya Poniyo yang berefek pendapatan merosot sehingga ia tidak bisa menabung, cukup dengan kebutuhan sehari-harinya saja.

Saat ini dia tinggal pada rumah kontrakan di Jl. Maccini Raya lr.2 No.14 Makassar. Rumah kontrakannya dia harus bayar Rp 5 juta pertahun, tinggal bersama istri dan satu anaknya, sekolah di SMP 47 Makassar berusia 13 tahun, tegasnya.

Pak Poniyo dikenal akrab dengan para pembelinya, sebab mudah mencairkan suasana dan suka mengajak ngobrol dengan pembeli, itu menjadi salah satu daya tarik yang dilakukan agar pembeli betah membeli jualan bakso bakarnya.

Meluangkan waktu dengan anak dan istri adalah hal selalu diusahakan walau hanya sekedar ngobrol santai saja, bagaimana pun keluarga
adalah tempat pulang setelah menjalani kerasnya dunia dengan tidak kenal panas, hujan, lelah ia lewati, cucuran keringat seorang ayah menghidupi keluarga.

Harapannya adalah dia mampu menghidupi kebutuhan keluarga utamanya dalam urusan pendidikan anak, yang menjadi harapan
orang tua.

Apalagi sang anak bisa lebih dari pencapaian orang tua, besar kecilnya penghasilan itu tidak bisa diukur, dari diri pribadi mampu menyikapinya seperti apa, ketika kita bersyukur itu akan terasa cukup, katanya.

 

 

 

Laporan: Mutmainnah Anwar
Mahasiswa Komunikasi Unismuh Makassar

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles