Terhubung dengan kami

Makassar

Refleksi Hari Pers Nasional, JOIN Sulsel dan SatuPena Gelar Dialog

Dipublikasikan

pada

KATADIA,MAKASSAR || Masih dalam suasana Hari Pers Nasional yang digelar di Sumatera Utara pada 9 Februari 2023. Dua orang Praktisi di Makassar juga menggelar Refleksi Hari Pers Nasional di jalan Adiyaksa, tepatnya di Café Baca pada Sabtu, 25 Februari 2023.

Kedua praktisi tersebut adalah Zulkarnain Hamson S.Sos., M.Si (Direktur Pusat Diklat JOIN), Rusdin Tompo (Koordinator Satupena Sulsel) yang dibimbing oleh Dr. Fadli Andi Nasif (akademisi).

Dialog dengan tema “Media Massa dan Literasi Warga” ini dihadiri oleh Presiden Forum Sastra Indonesia Timur (Fosait) M. Amir Jaya yang juga memiliki dasar jurnalistik.

Hadir pula Pembimbing Satupena Sulsel Yudhistira Sukata, pustakawan, sastrawan dan juga wartawan dari lintas organisasi jurnalistik.

Mengawali dialog, Zulkarnain menjelaskan tentang media massa, artinya dunia jurnalistik di Indonesia sedang memasuki era baru globalisasi informasi, yang tentunya tidak lepas dari tantangan.

Era global bisa dikatakan berdampak pada segala bidang kehidupan manusia, tidak terkecuali jurnalistik. Kemunculan internet memunculkan julukan baru bagi media seniornya yaitu televisi, radio, media cetak sebagai media tradisional.

Lebih lanjut Direktur Pusdiklat JOIN Nasional, sebelum diadakan dialog terlebih dahulu bertemu dengan Prof. Hafied Cangara, seorang guru komunikasi di Indonesia mengatakan bahwa jurnalisme tidak akan pernah mati.

Hafid Changara juga mengatakan Matinya Teori, karena kalau tidak mati maka menjadi hukum, jadi teori kalau tidak bisa lagi digugat dengan kajian penelitian lebih lanjut maka sudah berubah menjadi hukum dan kalau menjadi hukum maka tidak perlu ditinjau kembali, ujarnya kepada sapaan akrab Zul Zulkarnain Hamson

Selain itu, kata Hafid Changara kepada Zul, mantan wartawan tidak ada. Wartawan akan mati dan dikuburkan oleh profesinya, seperti halnya seorang dokter akan mati dan dikuburkan oleh profesinya.

Sementara itu, Rusdin Tompo mengangkat tema Literasi Warga atau dikenal di dunia pers sebagai citizen journalisme.

Rusdin mengatakan, semua orang sebenarnya adalah presenter acara. Ketika mereka bertemu, orang akan bertukar cerita tentang apa yang mereka lihat dan saksikan. Apalagi jika memiliki tingkat keseruan tertentu.

“Itulah yang menjadi dasar pemikiran kami sehingga sejak tahun 2001 kami melakukan sosialisasi literasi warga. Saat itu, kami menciptakan literasi warga melalui LISAN (Lembaga Investigasi Media dan Kajian Advokasi Anak) saat membuat kerangka acuan Pelatihan Jurnalis Muda untuk anak binaan Plan Indonesia PU Takalar, tahun 2001,” katanya.

Rusdin juga mengutip dalam ‘The Third Wave’, atau tiga gelombang karya Alvin Toffler.

“Alvin Toffler menjelaskan ada 3 gelombang perkembangan teknologi yaitu gelombang pertama gelombang pertanian, gelombang kedua industri dan gelombang ketiga informasi,” komentarnya.

“Dan saat ini kita sedang memasuki gelombang ketiga perkembangan teknologi yaitu informasi dengan lahirnya sejumlah platform media sosial baik itu Facebook, Tiktok, Instagram, YouTube dan juga Twitter,” ujar mantan Ketua KPID Sulsel ini.

Dalam dialog akhir pekan ini, Maysir Yulanwar yang juga memiliki kemampuan dasar jurnalistik membacakan puisi karya Rusdin Tompo berjudul Wartawan’ Adalah Sebuah Pengingat.

Maysir juga memberikan kritik terkait independensi media saat ini yang menurutnya kerap “bercumbu” dengan penguasa serta pengusaha dan partai politik.

“Akhirnya saya sampaikan bahwa seleksi alam menentukan siapa yang bertahan,” pungkasnya.

Berbeda dengan diskusi biasa, di mana pembicara mendapatkan lebih banyak slot berbicara. Kali ini Fadli Andi Nasif selaku moderator sangat piawai memberikan slot untuk berbicara dengan audiens dari berbagai latar belakang atau era untuk memberikan pendapatnya.

Sehingga wartawan senior seperti Rusdi Embas, Asnawin Aminudin, Zaenal Altim bisa memberikan masukan berharga dalam dialog akhir pekan ini.

Begitu juga dengan Sri Gusty yang berlatar belakang akademis dapat memberikan masukan dalam hal literasi di bidang pendidikan.
Seperti “Presiden” Amir Jaya yang memprediksikan dalam 5 atau 10 tahun ke depan, media cetak akan digantikan oleh media berbasis online, baik teks maupun audio visual.

Fadli Andi Nasif selaku moderator memaparkan di era saat ini jurnalis tidak akan mati dan skil skil dan keterampilan tetap ada

Presiden FOSAIT Muhammad Amir Jaya, saya yakin media cetak akan mati dalam lima sepuluh tahun ke depan, kalau hanya menyajikan berita, karena media daring lebih cepat dalam menyajikan berita(**)

 

 

Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending