Rabu, Juli 17, 2024

Menantang Stereotip: Peran Nahdliyin dalam Memilih Pemimpin Papua Tengah di Era Digital

KATADIA,PAPUA TENGAH || Pemilihan umum di Papua Tengah selalu menjadi sorotan utama dalam konteks politik nasional. Tahun 2024 tidak terkecuali, di mana peristiwa tersebut kembali menjadi panggung bagi instrumentalisasi politik melalui berbagai strategi yang memanfaatkan identitas Nahdliyin. Rabu 27 Februari 2024

Reproduksi sikap dan perilaku dukungan politik terus berlangsung, dengan berbagai upaya memanfaatkan simbolisme dan citra keagamaan.

Salah satu bentuk reproduksi tersebut adalah dengan memainkan identitas Nahdliyin melalui berbagai simbolisasi, termasuk tokoh-tokoh terkemuka, silaturahim ke pesantren, dan dukungan dari tokoh agama dan adat.

Beberapa calon bahkan secara terang-terangan menggunakan simbolisme Nahdliyin untuk mendapatkan pengakuan dan dukungan.

Dinamika politik semakin memanas ketika para calon pemimpin berlomba-lomba mencari simpati dan dukungan masyarakat. Dalam periode politik antara tahun 2024 hingga 2029, sikap dan perilaku politik Nahdliyin akan menjadi sorotan utama.

Hal ini terutama berlaku di wilayah Papua Tengah, di mana hampir seluruh calon diisi oleh figur-figur yang terkait dengan Nahdliyin.

Namun, di tengah-tengah persaingan politik ini, Nahdliyin dituntut untuk mempertimbangkan pilihan mereka dengan sikap politik yang terbuka dan penilaian yang rasional.

Kapasitas individu untuk melakukan penalaran yang kritis terhadap calon pemimpin menjadi kunci dalam menghadapi berbagai upaya penokohan dan penarikan simpati melalui simbol-simbol kultural Nahdliyin.

Pentingnya kesadaran personal dan kolektif dalam menguji sudut pandang kandidat tidak dapat dipandang remeh.

Nahdliyin perlu memiliki kemampuan untuk melakukan penalaran dasar dan terbuka terhadap seluruh informasi yang diterima, terutama di era di mana informasi politik seringkali disajikan melalui media sosial dengan beragam konten yang tidak selalu akurat.

Untuk itu, Nahdliyin perlu melatih kapasitas mereka dalam membangun penalaran yang mengandalkan data otentik dan melakukan konfirmasi dari berbagai sumber, sehingga informasi yang diterima dapat dipastikan akurat dan kredibel.

Hal ini menjadi semakin penting mengingat dominasi informasi semu dan hoaks yang seringkali mempengaruhi persepsi publik, terutama di kalangan pemilih pemula yang terpapar dengan banyaknya informasi yang beredar di gawai mereka.

Dengan memperkuat penalaran rasional dan memfilter informasi politik secara kritis, Nahdliyin dapat menjaga obyektivitas dalam memilih pemimpin yang sesuai dengan rekam jejak prestasi dan visi mereka, tanpa terpengaruh oleh identitas, simbol, atau kepentingan trah semata.

Dalam era digital yang dipenuhi dengan informasi yang saling bertentangan, tekad untuk menjadi subyek kritis dengan melakukan konfirmasi informasi dari berbagai sumber menjadi prasyarat bagi Nahdliyin dalam memilih pemimpin yang tepat untuk masa depan Papua Tengah.

 

Reporter: Jeri P Degei

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles

Sorry Bro