Senin, Juni 17, 2024

Kedai Sahabat Kasumba, Bukan Sekadar Tempat Ngopi

KATADIA,MAKASSAR || Kedai kopi bukan sekadar tempat ngopi. Bisa untuk tempat diskusi, tempat mengekspresikan kreativitas, juga sebagai tempat kuliah ala outdoor. Penggambaran kedai kopi seperti itu, relevan disematkan pada Kedai Sahabat Kasumba, yang berada di area pelataran Sao Panrita Universitas Negeri Makassar (UNM) Parangtambung, Makassar.

Kedai Sahabat Kasumba ini dikelola oleh perupa AH Rimba dan istrinya, Nur Linda Sukma Waziza. Kedai ini bukanya di malam hari. Terlihat bahwa kedai yang menyediakan minuman kopi dan mie instan ini sudah punya segmen tersendiri, yakni mereka yang bergiat di bidang seni budaya.

Seperti yang tampak pada Senin malam, 20 Mei 2024. Koordinator Perkumpulan Penulis Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rusdin Tompo, bertemu Rimba untuk membicarakan rencana kolaborasi dengan Rumah Seni Kasumba, dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-116. Kolaborasi ini juga melibatkan Komunitas Puisi (KoPi) Makassar.

Rusdin Tompo mengatakan, karena kegiatan diadakan bertepatan dengan National Coffee Day maka diberi tajuk NASIONALISMEKOPI. Biar terasa heroik, tapi dibalut dalam budaya masyarakat urban, yang suka nongkrong di kedai, warkop, kafe, sembari bekerja dan berkreasi.

Kegiatan ini nanti memotret “sketsa kota kita: kedai, kopi & puisi”. Jadi mereka yang hadir pada malam acara, ada yang membaca puisi, ada yang membuat sketsa, atau juga bercerita tentang kota ini. Rusdin berharap, karya berupa puisi dan esai dari teman-teman penulis yang merekam kota, keda, dan kopi, nanti bisa dibukukan.

Kedai Sahabat Kasumba rutin menggelar Sketsa Jumat Malam. Pada Jumat pekan ini akan memasuki session 55, yang secara khusus akan menampilkan kolaborasi seni rupa dan gerakan literasi dalam kegiatan dengan nama yang unik: NASIONALISMEKOPI.

Tak jauh dari tempat diskusi Rusdin dan Rimba, sejumlah mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) asyik menyelesaikan lukisannya. Mahasiswa semester 4 ini tengah membuat tugas untuk mata kuliah ilustrasi.

Rimba bercerita tentang dosennya, seorang Guru Besar di Universitas Negeri Makassar (UNM). Disampaikan, dosennya itu kerap menggunakan karyanya sebagai contoh ketika memberi materi tentang ilustrasi. Dia tentu saja bangga. Apalagi sekarang dia jadi pengampu mata kuliah ilustrasi tersebut.

Dia lalu mendekati mahasiswanya, dan menyampaikan bahwa hakikatnya ilustrasi itu penyampai, yang bisa diaplikasikan bukan hanya untuk buku tapi juga keperluan lain. Ilustrasi memang bertujuan untuk memperjelas narasi dan ide cerita. Adanya ilustrasi akan memperkuat, mempertegas dan memperindah cerita yang dibuat.

Dia menggunakan teknik kolase saat mengajar. Katanya, secara manual teknik ini menggunakan gambar-gambar yang digunting, disusun, lalu ditempel secara artistik. Bisa pula menggunakan photoshop kalau pakai pendekatan teknologi. Nanti setelah dikolase, mereka akan melukis mengikuti komposisi gambar yang sudah disusun itu.

Mahasiswa mengaku, mereka mendapatkan contoh gambar dari Pinterest yang gratisan. Pinterest merupakan virtual pin board di mana pengguna bisa mengunggah gambar atau foto yang dimasukkan ke dalam kategori-kategori.

Mahasiswa yang rerata mengaku sudah suka melukis itu, mengatakan teknik kolase ini berbeda dengan teknik referensi yang mereka dapatkan. Kalau pakai pendekatan referensi, mereka akan ‘meniru’ gambar dari pelukis atau dari gambar dosen. Nanti konsep gambar itu diadaptasi sesuai kemampuan bersangkutan.

Selain obrolan tentang rencana kolaborasi Satupena Sulawesi Selatan dengan Kedai Sahabat Kasumba, serta kegiatan perkuliahan mahasiswa Jurusan Seni Rupa Unismuh, di kedai kopi itu juga duduk beberapa seniman. Ada pemain teater, perupa, aktor film, musisi, pegiat literasi, dan lain-lain. (*)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles