Selasa, Juni 18, 2024

MIWF Berkomitmen Pada Nol Limbah dan Rendah Karbon

KATADIA,MAKASSAR || Sejak tahun 2019, Makassar International Writers Festival (MIWF) telah berkomitmen menjadi ajang zero waste. Ide ini digagas oleh mendiang Lily Yulianti Farid, pendiri MIWF, setelah mengamati tingginya volume sampah dari peserta di setiap edisi.

“MIWF telah berkomitmen untuk memilah sampahnya sejak tahun 2019. Hal ini bermula dari keprihatinan sang pendiri, Lily Yulianti Farid yang melihat banyaknya sampah plastik yang dihasilkan pengunjung di MIWF pada tahun 2018,” ujar Pamula Mita Andary, Koordinator MIWF Divisi Nol Limbah dan Rendah Karbon.

Zero waste di MIWF tidak berarti tidak ada sampah sama sekali, tetapi memastikan sampah yang dihasilkan tidak semuanya berakhir di TPA. Sampah dipilah sesuai jenisnya. Selama festival berlangsung, MIWF menyediakan empat jenis tempat sampah: organik (sisa makanan), plastik, kertas, dan puntung rokok.

Meski hanya ada empat kategori tempat sampah, proses pemilahan sampah menjadi lebih rumit pada tahap selanjutnya. Misalnya, sampah dari berbagai vendor seperti botol sirup dan kaleng dipilah lebih detail.

Namun, karena lokasi penyelenggaraan terbuka untuk umum, sulit untuk mengidentifikasi semua sampah plastik yang berasal dari MIWF itu sendiri.

“Cara memilahnya seperti yang kita tahu: kertas dengan kertas, kaleng dengan kaleng. Tapi untuk plastik sangat minim. Fort Rotterdam terbuka untuk umum, jadi kita tidak bisa menilai semua sampah plastik itu milik MIWF karena kawasan itu bersifat publik dan bisa diakses semua orang,” jelas Mita.

Komitmen MIWF lebih dari sekadar nol limbah namun juga mencakup prinsip-prinsip rendah karbon. Emisi karbon dari limbah, kendaraan operasional, penggunaan listrik, penerbangan, dan pertemuan Zoom dihitung dan diimbangi melalui proyek penggantian kerugian karbon, seperti penanaman pohon.

“Lily Yulianti Farid juga merasa penting untuk menghitung emisi dari festival yang diadakan setiap tahunnya. Pada tahun 2022, komitmen ini diperluas dari sekadar pemilahan sampah menjadi pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di venue MIWF,” tambah Mita.

“Selain dipilah, sampah juga ditimbang dan dicatat. Data tersebut kemudian digunakan untuk menghitung emisi yang dihasilkan dari peristiwa tersebut,” lanjutnya.

Tahun ini, emisi karbon yang dihitung meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu. Total emisi dari pra-event hingga pasca-event mencapai 17.171,93 kg CO2, dengan total carbon offset sebanyak 335 pohon mangrove. Total puntung rokok yang berhasil dikumpulkan selama festival mencapai 4.636 buah.

Kemitraan dengan pemerintah dan startup memainkan peran penting dalam upaya ini. Tahun ini, MIWF bekerja sama dengan Unit Bank Sampah (UPTD) Kota Makassar untuk mengelola sampah kertas menjadi egg tray, sedangkan sampah plastik akan dikirim ke Pulau Jawa untuk diolah lebih lanjut.

Sampah organik ditangani oleh Urban Agrofarm, sebuah startup asal Makassar yang fokus pada sampah organik, di mana belatung (larva) akan menguraikan sisa makanan yang dihasilkan selama festival dan mengubahnya menjadi pakan ternak.

“MIWF memilah sampah menjadi tiga jenis utama: organik, plastik, dan kertas. Kami menyediakan tempat sampah khusus untuk masing-masing jenis di berbagai titik acara,” kata Mita. Ia juga mencatat bahwa tidak semua sampah dapat diolah, dan sebagian sisa sampah masih perlu dibuang ke tempat pembuangan sampah.

“Untuk food waste tahun ini kami bermitra dengan Urban Agrofarm. Mereka mempunyai usaha peternakan dan budidaya maggot, dimana maggot tersebut akan mengubah sampah organik, khususnya sisa makanan dari MIWF, menjadi pakan ternak,” jelas Mita.

Selain Divisi Nol Limbah dan Rendah Karbon serta ratusan relawan MIWF, partisipasi pengunjung sangat penting untuk keberhasilan komitmen ini. Kesadaran kolektif akan perlunya lingkungan yang aman harus disebarluaskan.

MIWF juga melibatkan masyarakat lokal dan pihak lain dalam pemilahan sampah dan inisiatif rendah karbon. Kehadiran Divisi Zero Waste dan Low Carbon sangat penting dalam mewujudkan prinsip-prinsip tersebut pada acara sastra tahunan ini.

“Kami berharap komitmen ini dapat dilihat sebagai bagian penting dari festival ini, setara dengan diskusi dan workshop yang diadakan di MIWF,” ungkap Mita.

Pada akhirnya, MIWF bertujuan untuk menciptakan perspektif non-antroposentris, yang memandang lingkungan dan manusia sebagai setara. Dengan begitu, festival ini tidak hanya merayakan karya sastra namun juga menjaga kelestarian lingkungan.

“Kami ingin mengajak semua pihak yang terlibat untuk memahami pentingnya komitmen ini dan menerapkannya meskipun hanya empat hari,” tutup Mita.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles