KATADIA MAKASSAR || Rasa cemas bercampur duka mendalam menyelimuti keluarga Nur Azahra Putri Ramadhani (16), remaja asal Kota Makassar yang dilaporkan meninggalkan rumah tanpa pamit dan hingga kini belum kembali. Peristiwa ini telah berlangsung hampir dua bulan sejak Desember 2025 lalu.
Ibu korban, Susanti Dewi Andriani, mengaku tak kuasa menahan air mata saat menceritakan kerinduannya kepada sang putri. Setiap hari, ia hanya berharap Zahra dapat segera ditemukan dan pulang dalam keadaan selamat.
Saat ditemui di kediamannya di Jalan Ujung Bori, Kompleks Aditarina Lorong 9, Kecamatan Manggala, Rabu (4/2/2026), Susanti menuturkan bahwa Zahra terakhir kali terlihat pada Kamis pagi, 18 Desember 2025, sekitar pukul 09.00 Wita.
Menurut Susanti, sebelum kejadian sempat terjadi teguran ringan terkait pendidikan. Ia menyarankan agar Zahra melanjutkan pendidikan ke pesantren apabila merasa tidak sanggup mengikuti sekolah formal. Teguran tersebut disampaikan tanpa emosi maupun kekerasan.
“Tidak ada pertengkaran. Saya hanya menasihati sebagai orang tua,” ujarnya.
Namun beberapa hari setelahnya, Zahra pergi meninggalkan rumah tanpa izin dan tanpa meninggalkan pesan apa pun. Sejak saat itu, keluarga hidup dalam penantian dan kecemasan berkepanjangan.
Informasi terakhir yang diterima keluarga menyebutkan bahwa Zahra diduga berada di wilayah Kalimantan Timur. Kabar tersebut diperoleh dari teman-teman korban sekitar tiga hari setelah kepergiannya, dengan titik lokasi terakhir terdeteksi pada Kamis.
Pihak keluarga telah melaporkan kejadian ini ke Polrestabes Makassar pada 21 Desember 2025, dengan Laporan Informasi Nomor LI 1871/XIURES 1.24/2025/RESKRIM. Namun hingga Februari 2026, Susanti mengaku belum melihat perkembangan signifikan dari proses penyelidikan.
“Jawaban dari penyidik cuma satu: sabar. Sudah hampir dua bulan, belum ada tindakan nyata,” katanya dengan nada kecewa.
Tak hanya ke kepolisian, Susanti juga melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) tingkat provinsi. Laporan itu kemudian diteruskan ke UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak di Kalimantan Timur. Bahkan, pihak Polda Kalimantan Timur disebut telah menghubungi Susanti dan menyatakan akan menindaklanjuti informasi yang ada.
Nur Azahra merupakan anak pertama dari tiga bersaudari. Susanti berharap siapa pun yang melihat atau mengetahui keberadaan putrinya dapat tergerak untuk membantu dan segera menghubungi pihak keluarga atau aparat berwenang.
“Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Kami semua di sini menangis dan terus mencari kamu. Pulanglah, Nak. Kami sangat sayang Zahra,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.(**)