KATADIA GOWA || Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Tahun Anggaran 2026 meninjau langsung pelaksanaan program TMMD Kodim 1409/Gowa di Dusun Bontomanai, Desa Kalebarembeng, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Kamis (29/10/2026).
Kunjungan tersebut bertujuan memastikan seluruh sasaran program TMMD berjalan sesuai rencana, sekaligus mengevaluasi progres pembangunan infrastruktur dan program unggulan TNI Angkatan Darat yang diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Tim Wasev dipimpin Kolonel Inf Andi Triasmoro, S.Sos., M.Si., M.N.S.S., bersama Kapten Inf Teddy Sofian.
Dalam kegiatan tersebut, Tim Wasev mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Gowa, jajaran TNI-Polri, instansi terkait, serta masyarakat yang turut menyukseskan pelaksanaan TMMD ke-130.
Tim Wasev juga menekankan pentingnya sinergi seluruh pihak dalam menjaga kualitas pembangunan, memastikan kesesuaian pelaksanaan dengan perencanaan, serta menjamin hasil program dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan.
Sementara Dansatgas 1409/Gowa Letkol Arm Sapari, S.Sos. menjelaskan bahwa TMMD merupakan wujud sinergi TNI bersama pemerintah daerah dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan wilayah, mempercepat pembangunan, serta meningkatkan kesejahteraan warga.
Menurutnya, pelaksanaan TMMD tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mencakup kegiatan nonfisik dan pemberdayaan masyarakat untuk memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Salah satu sasaran fisik yang menjadi perhatian dalam peninjauan tersebut adalah pengerasan jalan tani sepanjang 2.300 meter dengan lebar 4 meter di wilayah Dusun Bontomanai, Desa Kalebarembeng, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa.
Berdasarkan data perkembangan pekerjaan dalam rundown kegiatan, progres pengerasan jalan tani tersebut tercatat mencapai 36 persen.
Selain itu, pembangunan talud di sisi kiri dan kanan jalan sepanjang 1.750 meter, dengan lebar 0,45 meter dan tinggi 70 sentimeter, tercatat mencapai progres 31 persen. Sementara pembangunan dua unit plat duiker masih tercatat 0 persen dalam data yang dipaparkan.
Sapari menjelaskan, pembangunan jalan tani tersebut merupakan upaya menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya para petani yang selama ini menghadapi kendala akses menuju lahan pertanian.
Kondisi jalan yang licin dan berlumpur saat musim hujan, disertai genangan air, kerap menghambat aktivitas warga dalam mengangkut hasil pertanian menuju permukiman maupun pasar.
“Pembangunan ini berangkat dari kebutuhan dan keluhan masyarakat yang disampaikan melalui Babinsa. Kami berharap jalan yang diperkeras dapat mempermudah akses warga, khususnya petani, dalam mengangkut hasil produksi,”(**)