Terhubung dengan kami

Citizen Report

Saat AI Mencipta Lagu: Masihkah Musik Milik Manusia?

Dipublikasikan

pada

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini merambah ke dunia musik.

KATADIA MAKASSAR || Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini merambah ke dunia musik. Melalui berbagai aplikasi, siapa pun dapat menciptakan lagu hanya dengan memasukkan ide atau prompt singkat. Fenomena ini pun ramai diperbincangkan karena dinilai membawa dampak besar terhadap proses kreatif manusia.

Salah satu pengguna aplikasi Suno AI, M. Muzraq Syamsul, melihat kehadiran AI sebagai peluang baru dalam berkarya. Ia mengaku tertarik menggunakan AI karena memudahkan proses eksplorasi ide dan berbagai gaya musik.

“AI membuat proses berkarya jadi lebih praktis dan tetap inspiratif,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (11/12).

Menurut Ia, karya musik berbasis AI tetap dapat disebut sebagai karya pribadi selama manusia berperan aktif dalam menentukan ide, arah, serta melakukan kurasi akhir. Ia menilai AI hanya berfungsi sebagai alat teknis.

“Nuansa emosional tetap datang dari pembuatnya, bukan dari mesinnya,” jelasnya.

Meski demikian, Muzraq mengakui adanya perbedaan antara musik buatan manusia dan AI. Musik yang diciptakan manusia dinilai lebih kuat secara emosional dan personal, sementara musik AI cenderung terdengar lebih rapi dan terstruktur. Namun, keduanya dapat saling melengkapi tergantung tujuan penciptaannya.

Pandangan berbeda disampaikan Muhammad Irsyad musisi lokal sekaligus founder Pitch Choir Universitas Negeri Makassar (UNM). Ia menilai musik berbasis AI memiliki tempat tersendiri sebagai hiburan, namun belum bisa menjadi media ekspresi utama bagi musisi.

“Aspek emosional dalam musik AI sangat terbatas,” ujarnya saat diwawancara online, Rabu (11/12).

Menurut Ia, musik AI lebih cocok digunakan untuk proyek-proyek ringan dan tidak terlalu serius. Ia juga tidak menyarankan penggunaan musik AI dalam acara besar atau profesional. Meski begitu, ia mengakui AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, khususnya dalam mencari referensi aransemen.

“AI bisa membantu, tapi belum bisa menyaingi manusia yang punya emosi dan rasa,” katanya.

Sementara itu, Dosen Seni Musik Universitas Negeri Makassar (UNM),Mas’ud Uqbah Al Ansyari, S.Pd., M.Pd. menilai kehadiran AI dalam musik memiliki sisi positif sekaligus negatif. Dari sisi positif, AI menawarkan kemudahan dan kecepatan dalam menciptakan karya.

“Sekarang di platform digital seperti YouTube, banyak karya musik yang dihasilkan oleh AI, bahkan lagu-lagu daerah juga sudah mulai muncul,” ucapnya pada saat dihampiri di cafe koiriol, Jumat (07/11).

Namun, di balik kemudahan tersebut, Ia melihat adanya kecenderungan penggunaan AI sebagai jalan pintas. Menurutnya, sebagian orang yang memiliki kemampuan di bidang musik justru enggan mendalami teori dan proses kreatif karena tergoda hasil instan.
“Membuat karya musik itu memang sulit, dan proses itulah yang seharusnya dijalani,” katanya.

Ia juga menyoroti potensi AI dalam menggeser peran manusia dalam proses artistik. Ia menilai kreativitas manusia dapat melemah jika terlalu bergantung pada mesin.

“Kalau manusia masih punya akal dan rasa, kenapa tidak dipakai?” ujarnya.

Masuknya AI ke dunia musik menjadi tantangan sekaligus peluang, khususnya bagi generasi muda dan mahasiswa. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, manusia tetap memegang peran penting dalam menjaga nilai seni dan kreativitas. Karena pada akhirnya, musik bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang rasa, pengalaman, dan makna yang ingin disampaikan.

Mufida Syamsul (Penulis Berita/Mahasiswi)

Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending