KATADIA MAKASSAR || Hasil penelitian tidak hanya berhenti di laboratorium dan publikasi ilmiah. Dosen Poltekkes Kemenkes Makassar mengimplementasikan hasil risetnya secara langsung melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan memperkenalkan metode sederhana berbasis bahan alami untuk mendeteksi bahan tambahan pangan berbahaya, khususnya boraks dan formalin.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 29 Agustus 2026 di UPT SPF SD Negeri Rappocini, Kota Makassar, dan diikuti sekitar 70 siswa dan guru. Kegiatan dilaksanakan oleh dosen Poltekkes Kemenkes Makassar Alfin Resya Virgiawan, S.ST., M.Si. dan Yaumil Fachni Tandjungbulu, S.ST., M.Kes., berkolaborasi dengan mahasiswa dan pihak sekolah yang dipimpin oleh kepala sekolah ibu Juli Astutik, S.Pd., M.Pd.
Keunikan kegiatan ini terletak pada penerapan hasil penelitian tim pengabdi yang memanfaatkan bahan alami yang mudah diperoleh masyarakat, yaitu kunyit (Curcuma longa) untuk membantu identifikasi boraks dan kulit buah naga (Hylocereus polyrhizus) untuk membantu identifikasi formalin. Temuan ini telah menghasilkan produk inovasi kit sederhana YAFIBIOKIT yang telah dikembangkan melalui penelitian oleh tim pengabdi.
Tim pengabdi menjelaskan bahwa kunyit mengandung kurkumin, yaitu senyawa pigmen polifenolik yang memiliki karakteristik perubahan warna ketika berinteraksi dengan kondisi kimia tertentu. Dalam pendekatan skrining boraks, kurkumin dapat membentuk kompleks berwarna dengan senyawa borat dalam kondisi tertentu sehingga menghasilkan perubahan warna yang dapat diamati secara visual.
Sementara itu, kulit buah naga kaya akan pigmen betalain, terutama kelompok betasianin, yang memiliki sifat sensitif terhadap perubahan kondisi kimia dan lingkungan. Karakteristik perubahan warna tersebut dimanfaatkan dalam pengembangan metode sederhana untuk membantu memberikan indikasi adanya formalin.
“Pemanfaatan kunyit dan kulit buah naga ini merupakan bentuk implementasi hasil penelitian ke dalam pengabdian kepada masyarakat. Kami mencoba menerjemahkan metode yang dikembangkan secara ilmiah menjadi pendekatan yang lebih sederhana, kontekstual, dan mudah dipahami masyarakat, khususnya siswa sekolah dasar. Dengan demikian, hasil penelitian tidak berhenti sebagai pengetahuan akademik, tetapi dapat menjadi media edukasi kesehatan,” ujar Alfin Resya Virgiawan.
Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan demonstrasi pemeriksaan terhadap sejumlah pangan yang umum ditemukan di sekitar masyarakat, seperti bakso, lontong, mie kuning, ikan asin, dan tahu. Peserta diperkenalkan dengan alat dan bahan laboratorium serta proses pemeriksaan menggunakan simple methods.
Demonstrasi juga dikaitkan dengan scientific method dan kontrol pemeriksaan, sehingga siswa tidak sekadar melihat perubahan warna, tetapi memahami bahwa pemeriksaan ilmiah membutuhkan proses, pembanding, observasi, dan interpretasi hasil.
Selain deteksi cemaran kimia, peserta memperoleh edukasi mengenai cemaran fisik dan mikrobiologis termasuk cara memilih jajanan yang sehat dan aman serta risiko kesehatan akibat konsumsi pangan yang tidak memenuhi aspek keamanan.
Kegiatan juga dirangkaikan dengan pemeriksaan golongan darah gratis bagi siswa dan guru sebagai bagian dari pengenalan pelayanan laboratorium kesehatan, dengan mengimplementasikan produk inovasi hasil penelitian lainnya, yaitu YAFISERA, dalam pemeriksaan golongan darah pada siswa dan guru.
YAFISERA merupakan produk inovasi berbasis serum sisa yang dikembangkan untuk penentuan golongan darah. Pemanfaatan serum sisa tersebut menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan bahan biologis yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah laboratorium agar dapat dimanfaatkan kembali dalam konteks inovasi dan pembelajaran laboratorium.
Menurut tim pengabdi, pendekatan berbasis pengalaman langsung tersebut penting untuk membangun literasi kesehatan dan literasi laboratorium sejak usia dini.
“Kami ingin siswa memahami bahwa ilmu laboratorium bukan sesuatu yang hanya berada di ruang laboratorium. Prinsip pemeriksaan dapat digunakan untuk memahami persoalan kesehatan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika memilih makanan. Ini juga menjadi cara kami memperkenalkan pola pikir ilmiah sejak dini,” ujar Yaumil Fachni Tandjungbulu.
Kegiatan ini bukan merupakan kegiatan pengabdian yang pertama dilakukan, tetapi bagian dari program yang telah dilaksanakan sebelumnya dan dikembangkan secara berkelanjutan melalui kolaborasi Poltekkes Kemenkes Makassar dengan UPT SPF SD Negeri Rappocini.
Melalui kegiatan tersebut, tim pengabdi menegaskan bahwa hilirisasi hasil penelitian tidak harus berhenti pada pengembangan produk atau publikasi, tetapi dapat diwujudkan dalam bentuk edukasi dan inovasi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Pemanfaatan bahan alami dalam kegiatan ini sekaligus menjadi contoh bagaimana hasil riset perguruan tinggi dapat diterjemahkan menjadi media pembelajaran kesehatan yang sederhana, ilmiah, dan aplikatif, sehingga pengetahuan tentang keamanan pangan dapat diperkenalkan kepada masyarakat sejak di lingkungan sekolah.