KATADIA GOWA || Sebanyak 290 pelajar mengikuti Latihan Kader Bela Negara Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) Tingkat Pratama Tahun 2026 di Makorindam XIV/Hasanuddin, Dusun Wirabuana, Desa Mataallo, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Jumat (23/10/2026).
Kegiatan yang dibuka Kepala Pusat Bela Negara Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI Parluhutan Marpaung, S.I.P., M.Han., ini berfokus pada penguatan nasionalisme, pembentukan karakter kebangsaan, serta kesiapan generasi muda menghadapi ancaman disinformasi dan cognitive warfare di era digital demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Latihan kader tersebut menjadi bagian dari upaya Kementerian Pertahanan RI dalam menanamkan dan memperkuat nilai-nilai dasar bela negara di kalangan generasi muda. Pembinaan ini diharapkan melahirkan sumber daya manusia yang unggul, tangguh, disiplin, dan memiliki kesadaran kebangsaan dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Upacara pembukaan berlangsung khidmat mulai pukul 08.30 Wita dengan Brigjen TNI Parluhutan Marpaung bertindak sebagai inspektur upacara.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kolonel Arm Muh. Saifudin Khoiruzzamani selaku Aster Kasdam XIV/Hasanuddin, Kolonel Inf Daniel Hendra selaku Wadanrindam XIV/Hasanuddin, Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa H. Andy Azis Peter, S.H., M.Si., Kasdim 1409/Gowa Mayor Arh Muhammad Yuliansyah, S.A.P., serta sejumlah pejabat daerah dan instansi terkait.
Dalam amanatnya, Brigjen TNI Parluhutan Marpaung menegaskan bahwa bela negara tidak hanya berkaitan dengan pertahanan fisik, tetapi juga mencakup upaya menjaga pola pikir, kesadaran, dan ketahanan masyarakat dari berbagai pengaruh negatif.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi telah menghadirkan tantangan baru bagi bangsa Indonesia. Salah satunya adalah cognitive warfare, yaitu upaya memengaruhi cara berpikir, persepsi, dan pengambilan keputusan masyarakat melalui penyebaran informasi yang menyesatkan.
“Bela negara bukan hanya soal pertahanan fisik. Saat ini kita juga menghadapi ancaman nonmiliter berupa cognitive warfare—upaya memengaruhi cara berpikir, persepsi, dan keputusan masyarakat melalui arus disinformasi di ruang digital. Generasi muda harus menjadi benteng terkuat di ruang pikir ini,” tegas Brigjen TNI Parluhutan Marpaung.
Ia menekankan bahwa generasi muda harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terbukti kebenarannya. Pelajar juga diharapkan mampu membedakan fakta dan hoaks serta menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
Menurutnya, menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta tidak ikut menyebarkan informasi yang memecah belah masyarakat merupakan bentuk nyata bela negara di era digital.
Brigjen TNI Parluhutan Marpaung menjelaskan bahwa latihan kader ini juga diarahkan untuk menanamkan lima nilai dasar bela negara, yakni cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia kepada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, serta memiliki kemampuan awal bela negara.
Kelima nilai tersebut, menurutnya, tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Nilai cinta tanah air dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan bangsa. Kesadaran berbangsa dan bernegara tercermin dalam sikap disiplin, kepatuhan terhadap aturan, serta penghormatan terhadap keberagaman.
Sementara itu, kesetiaan kepada Pancasila harus diwujudkan melalui perilaku yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, toleransi, keadilan, dan gotong royong.
Melalui pembinaan tersebut, peserta diharapkan mampu menjadi generasi muda yang tidak hanya memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga berintegritas, bertanggung jawab, dan memiliki komitmen kuat terhadap keutuhan NKRI.
Pelaksanaan Latihan Kader Bela Negara KKRI Tingkat Pratama Tahun 2026 mengusung tema “Generasi Muda Penjaga Benteng Kognitif NKRI untuk Indonesia Emas 2045”.
Tema tersebut menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga ketahanan bangsa, terutama menghadapi derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital yang dapat memengaruhi cara pandang masyarakat.
Brigjen TNI Parluhutan Marpaung menilai Kabupaten Gowa memiliki potensi besar untuk melahirkan kader-kader bela negara yang cerdas, adaptif, dan mampu menjadi teladan bagi daerah lain.
Dengan sejarah dan kekayaan budaya yang dimiliki, Gowa diharapkan dapat berkontribusi dalam membentuk generasi muda yang tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan di tengah perubahan zaman.
Pembinaan kesadaran bela negara di lingkungan pendidikan juga dinilai penting untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan menuju Indonesia Emas 2045.
Sebanyak 286 peserta yang mengikuti latihan diharapkan dapat menjadi pelopor bela negara di lingkungan masing-masing, menjaga persatuan, menangkal penyebaran hoaks, serta membangun budaya disiplin dan tanggung jawab.
Upacara pembukaan berakhir pada pukul 09.10 Wita dalam keadaan aman dan lancar. Melalui kegiatan ini, Kementerian Pertahanan RI berharap lahir generasi muda yang memiliki semangat nasionalisme, karakter kuat, dan kesadaran untuk mengambil bagian dalam menjaga masa depan bangsa.