KataDia, Makassar – Kisah ini membuktikan, ternyata kejadian haru bisa menyentuh nasib siapa saja. Kisah bagaimana seseorang terpaksa harus menjalani hidup yang menguras air mata dengan rasa kecewa tak terbendung.
Kisah sedih membuat kita trenyuh itu diceritakan seorang pria di Makassar kepada KataDia.co, Jumat (28/5/2021)
Seperti apa kisahnya?
Pria yang diketahui bernama Sukmana Apriansa M Musa alias Rizal adalah bagian keamanan atau tenaga satpam di salah satu kompleks SD Negeri di kota Makassar.
Menjadi keamanan sekolah bukan suatu hal yang mudah. Senyuman, keringat dan pikiran seolah mengiringi pekerjaan setiap hari. Rizal bukan sembarang satpam untuk menjadi bagian dari abdi sekolah. Pasalnya ia satpam untuk empat sekolah sekaligus.
Seingat penulis, setiap jam sekolah, saat belum libur pandemi Covid 19, ia selalu tampak sibuk mengatur lalu lalang siswa dan tamu yang bergantian datang. Sementara siswa yang segera pulang di ingatkan untuk tidak pergi kemana-mana sembari menanti penjemput. Pekerjaan itu harus dilakukannya setiap hari.
Demi pelayanan, ia pun tak lupa menyediakan handphone yang terkadang digunakan para siswa untuk menelpon ingin dijemput pulang juga sekaligus menerima telpon para orang tua siswa jika ingin bertanya.
Kini lebih delapan tahun pria jangkung ini mengabdi di komplek SD Negeri Bawakaraeng di jalan Gunung Bawakaraeng No 150 Kelurahan Barana, Kecamatan Makassar Kota Makassar. Di komplek sekolah ini ada empat SD Negeri. Dan ia satu-satunya petugas keamanan.
Jumat 28 Mei 2021, Rizal tampak hadir disekolah meski pembelajaran di sekolah masih libur. Tapi saat datang, ia tidak mengenakan seragam satpam yang menjadi pakaian dinasnya namun hanya pakaian sederhana, switer putih bergaris dan celana jeans panjang dengan topi di kepala.
Di sela-sela bertugas, Rizal bercerita bahwa sejak Januari lalu, ia belum menerima gajinya dari SD Inpres Bawakaraeng. “Sudah empat bulan mi ini kepala sekolah belum bayar gaji ku,” tutur pria penduduk asli jalan Laiya kota Makassar.
Bahkan saat ini kata dia, sudah akhir bulan Mei belum ada tanda-tanda gaji sebagai satpam akan diberikan kepadanya. Dia mengatakan, sebelum lebaran dirinya pernah mendatangi rumah kepala sekolah berharap gajinya diberi. “Saya hanya mendapat gaji Rp 350 ribu per bulan dari tiap sekolah,” ungkapnya.
Dia mengaku sedih dengan kondisi keuangannya saat ini. Selain tak memiliki kerja lain, sekolah pun diliburkan. Hal itu tentu menjadi kendala sehari hari. Mengingat rumahnya berjarak sekitar tiga kilometer dari SD Kompleks Bawakaraeng.
Karena kesulitan ekonomi, membuat dirinya terpaksa memilih nyambi bekerja sebagai kuli bangunan pada Maret lalu di jalan Hertasning untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. “Saya di kasih gaji sebagai buruh Rp 70.000 per hari oleh tukang,” akunya.
Kondisi ini, semakin diperparah dengan perasaan duka mendalam yang dialami. Rizal harus menelan kepahitan lantaran ditinggal oleh anak tercinta untuk pergi menghadap Sang Pencipta menjelang hari raya Idul Fitri 1442 Hijriyah. “Baru anakku yang ke 2 juga meninggal sebelum lebaran, umurnya delapan bulan. Katanya karena sarampa ki” ucapnya.(#Ru5)