KATADIA MAKASSAR || SETARA Institute, lembaga nasional yang fokus pada isu toleransi dan keagamaan, kembali menempatkan Makassar dalam daftar 10 kota dengan skor rendah terkait toleransi di Indonesia tahun 2024, tepatnya di peringkat ketujuh. Parepare, juga di Sulawesi Selatan, menduduki peringkat pertama.
Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, menjelaskan bahwa rendahnya skor Indeks Kota Toleran (IKT) tidak hanya disebabkan oleh insiden intoleransi yang tinggi, tetapi juga oleh kurangnya fokus dan inovasi, terutama dalam bentuk regulasi daerah untuk mempromosikan toleransi di kedua kota tersebut.
Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar, Darius Allo Tangko dari Keuskupan Agung Makassar, menyoroti upaya yang dilakukan untuk menjaga kerukunan dan toleransi di Kota Makassar. “Pertemuan dan dialog antar umat beragama telah menjadi bagian penting dalam upaya bersama untuk memperkuat kerukunan sosial,” ujarnya.
FKUB Kota Makassar telah membentuk ribuan agen moderasi beragama di 15 Kecamatan sebagai upaya konkret untuk mempromosikan pentingnya toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga telah mengajukan rancangan Peraturan Wali Kota tentang pemeliharaan toleransi melalui Badan Kesbangpol Kota Makassar.
Tokoh agama lainnya, seperti Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama (NU) Kota Makassar, Usman Sofian, menambahkan bahwa komitmen bersama tokoh agama lintas agama sangat penting dalam memelihara kerukunan. “Kami aktif melakukan dialog dan kegiatan sosial, termasuk silaturahmi lintas agama dan buka puasa bersama selama bulan suci Ramadhan,” ungkapnya.
Meskipun ada komitmen yang kuat dari pemerintah kota dalam menjaga toleransi, masih diperlukan payung hukum yang kuat untuk memastikan kehidupan toleransi di Makassar semakin baik ke depannya.(**)