Terhubung dengan kami

Featured

Pertemuan Sahabat TikTok: Dari Dunia Maya ke Kedai Nyata di Jalan Ranggong

Dipublikasikan

pada

KATADIA MAKASSAR || Dunia digital kian mempererat hubungan antarindividu lintas daerah. Hal itu dibuktikan dalam sebuah pertemuan hangat yang terjadi hari ini antara para sahabat yang awalnya saling mengenal melalui platform media sosial TikTok.

Dalam suasana santai namun penuh keakraban, Udhin Ungil dari Bau-Bau, Deng Isman dari Makassar, dan Daeng Thaba dari Pangkep bertemu untuk kedua kalinya setelah perkenalan awal mereka di TikTok. Kali ini, mereka memilih Kedai Lawas di Jalan Ranggong sebagai tempat bersua dan berbagi cerita. Pada Minggu 29 Juni 2025

Pertemuan ini bukan sekadar kumpul biasa, tetapi menjadi ajang ngopi bareng dan saling tukar pikiran, memperkuat jalinan silaturahmi yang semula terjalin secara virtual.

Dengan latar suasana klasik khas Kedai Lawas, mereka mendiskusikan berbagai topik ringan hingga serius seputar konten kreatif, budaya lokal, dan tantangan generasi digital saat ini.

“Awalnya hanya saling follow dan saling komentar di TikTok. Tapi ternyata dari situ terjalin hubungan yang tulus sebagai sahabat,” ungkap Udhin Ungil, yang dikenal dengan kontennya yang bernuansa humor khas Sultra.

Senada dengan itu, Deng Isman mengungkapkan rasa syukurnya atas koneksi yang terjalin lewat media sosial, yang menurutnya bisa menjadi jembatan silaturahmi lintas daerah.

“Dulu orang bilang medsos bikin orang jauh makin jauh, tapi kami justru merasa medsos mendekatkan yang jauh. Bahkan kini sudah seperti keluarga,” ucapnya.

Pertemuan ini menjadi bukti nyata bahwa media sosial tak melulu tentang sensasi dan kontroversi. Ketika digunakan secara positif, platform seperti TikTok bisa menjadi ruang pertemuan ide, inspirasi, hingga membentuk pertemanan lintas batas geografis.

Sambil menyeruput kopi dan menikmati kudapan lokal, para sahabat ini berharap pertemuan seperti ini bisa menjadi budaya baru: mengubah pertemanan digital menjadi silaturahmi nyata.

> “Kita ingin terus menjaga pertemanan ini, bukan hanya lewat layar tapi juga lewat pertemuan langsung seperti ini. Karena kopi dan diskusi itu lebih terasa hangat kalau duduk satu meja,” tutur Daeng Thaba.

 

Mereka berencana untuk melanjutkan pertemuan rutin semacam ini, sekaligus membuka ruang kolaborasi untuk konten-konten kreatif yang bernuansa lokal dan edukatif.

Pertemuan sederhana ini menunjukkan bahwa persahabatan di era digital bisa melahirkan sesuatu yang lebih dari sekadar likes dan views—yakni koneksi antarhati dan semangat berbagi lintas ruang dan waktu.

 

Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending