KATADIA MAROS || Konferensi Internasional Gau Maraja resmi dibuka hari ini di Gedung Serbaguna Maros, dengan dihadiri peserta dan pembicara dari 15 negara. Konferensi ini merupakan bagian tak terpisahkan dari Festival Gau Maraja yang menghadirkan 12 kegiatan paralel, dibuka secara simbolis di Pallantikang.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia secara langsung membuka acara bergengsi ini. Konferensi ini bertujuan menjadi platform bagi para ahli dan peneliti untuk berbagi temuan terbaru dalam berbagai bidang terkait kebudayaan dan sejarah.
Salah satu sorotan utama dalam pidato kunci disampaikan oleh Profesor Adam Brum dari Griffith University, Australia. Dalam presentasinya, Prof. Brum mengungkapkan hasil penelitian yang mengejutkan mengenai lukisan gua di Leang-leang.
Ia menyatakan bahwa lukisan gua Leang-leang adalah yang tertua di dunia, melampaui perkiraan sebelumnya yang hanya sekitar 4.000 tahun. Temuan ini berpotensi mengubah pemahaman kita tentang sejarah seni prasejarah global.
Ismail Suardi Wekke, Anggota Panitia Pengarah sekaligus Divisi Review dan Publikasi Konferensi Gau Maraja, dalam rilisnya menyampaikan terima kasih atas partisipasi internasional yang tinggi.
“Kehadiran delegasi dari 15 negara menunjukkan bahwa warisan budaya dan sejarah Maros, khususnya, memiliki daya tarik global yang signifikan,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan Festival Gau Maraja akan ditutup dengan Gala Dinner di Leang-leang pada Sabtu, 5 Juli 2025.(**)