HUKRIM
Hartati Bantah Lakukan Kekerasan, Tegaskan Warga Hanya Spontanitas Hadapi Preman di Gowa
Dipublikasikan
10 bulan lalupada
Oleh
anjasabdullah

KATADIA GOWA || Mantan perwira Polwan, Kompol (Purn) Hartati didampingi Ketua RT Ibu Lin, memberikan klarifikasi terkait pemberitaan yang menyebut dirinya terlibat dalam dugaan pengeroyokan seorang jurnalis di Kabupaten Gowa. Hal tersebut disampaikan saat melakukan konferensi pers di kediamannya di Perumahan Bukit Manggarupsi pada Jumat 29 Agustus 2025
Hartati menegaskan, dirinya hadir di lokasi kejadian murni sebagai warga Perumahan Bukit Manggarupi yang menolak aksi pembongkaran tembok oleh sekelompok orang yang disebutnya preman, bukan dalam kapasitas sebagai anggota Polri.
Hartati menceritakan, dirinya datang setelah mengetahui melalui grup pesan warga bahwa tembok kompleks kembali dirusak. Saat tiba di lokasi, ia melihat lima orang pria yang sudah melakukan pembongkaran pagar dan tembok.
“Kemarahan warga itu spontanitas, bukan memukul. Warga hanya menunjuk-nunjuk, bahkan ada videonya. Kalau ada video lain yang beredar, itu tidak benar. Yang warga lakukan hanya memeriksa apakah para pelaku membawa senjata tajam, karena mereka sudah membawa palu besar,” jelas Hartati.
Hartati menegaskan, dirinya sebagai warga berusaha mengamankan diri dan warga lainnya yang kerap mendapat intimidasi.
“Saya bisa buktikan dia yang memimpin. Dia berteriak ‘bongkar’. Bahkan petugas di depan mengakui kalau yang mengaku wartawan itu berhubungan dengan pihak pemilik lahan dan meminta uang untuk memperbaiki tembok,” kata Hartati.
Menurut Hartati, saat kejadian warga tidak mengetahui bahwa Hus adalah seorang jurnalis. Pengakuan itu baru muncul setelah warga menekan yang bersangkutan.
Lebih jauh, Hartati menegaskan dirinya sudah tidak lagi aktif di kepolisian sejak 1 Juli 2025. Namun, warga kompleks tetap memanggilnya dengan sebutan “Kompol Hartati” karena kedekatan emosional dan penghargaan terhadap dirinya.
“Saya bergerak di sini atas nama warga, bukan sebagai polisi. Sejak Juli saya sudah pensiun. Tapi warga tetap memanggil saya Kompol Hartati karena itu sudah melekat di hati mereka,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua RT 04 RW 04 Kelurahan Paccinongan, Kecamatan Somba Opu, yang akrab disapa Ibu Lin, menyatakan dukungannya kepada warga.
“Saya bekerja di pemerintahan, jadi ketika warga saya diintimidasi dengan preman, tentu saya harus membela mereka. Kami sudah dua kali melapor ke Polres Gowa, tapi tidak ditindaklanjuti dengan alasan lahan belum diserahkan pengembang. Padahal laporan kami tentang perusakan dan intimidasi, bukan soal lahan,” ujar Lin.
Lin juga menyebut bahwa aksi pembongkaran telah terjadi berulang kali.
“Kalau kejadian terakhir, Rabu 27 Agustus, ada 5 orang. Sebelumnya biasanya 6 sampai 7 orang. Sudah sekitar 9 kali mereka melakukan pembongkaran,” pungkasnya.
Hartati bersama warga menegaskan akan menempuh jalur hukum dan melapor ke berbagai pihak, termasuk Dewan Pers, untuk menindaklanjuti dugaan pelanggaran etika dan intimidasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang mengaku wartawan namun justru memimpin aksi premanisme.


YBM PLN UP3 Bulukumba Gelar Khitan Sehat Gratis untuk 50 Anak Dhuafa Sambut Muharram 1448 H

Ribuan Warga Padati Samsat Makassar di Hari Terakhir Program Diskon Pajak Kendaraan Sulsel

TP PKK Makassar Perkuat Peran Kader dalam Edukasi Pencegahan Penyakit Menular

Trending
Makassar5 hari lalu35 Pelaku UMKM Wisata Kuliner Danau Tanjung Bunga Selatan Berharap Solusi, Bukan Pembongkaran
Internasional3 minggu laluJamaah Haji Barru Melangitkan Doa dari Mekkah untuk Masyarakat dan Daerah
Nasional3 minggu laluSyamsuddin Rasyid,alumni Ekonomi Koperasi UNM 1998 Terpilih Memimpin Pokjawas Madrasah Nasional






