Terhubung dengan kami

Kab Bone

Kisah Arviello Menggugah Hati Bupati Bone: Pengukuhan Paskibra Berubah Keharuan

Dipublikasikan

pada

KATADIA BONE || Pengukuhan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Angkatan 14 untuk pelaksanaan Upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80, yang seharusnya penuh dengan keteguhan dan formalitas, berubah menjadi panggung keharuan yang tak terduga.

Rumah Jabatan Bupati Bone, di bawah sorotan lampu dan tatapan bangga, satu per satu anggota Paskibraka Kabupaten Bone Tahun 2025 dikukuhkan.

Di antara barisan tegap itu, berdiri seorang pemuda bernama Arviello Surya Prabu, siswa SMA Negeri 3 Bone, yang tak pernah menyangka bahwa malam itu akan menjadi titik balik dalam hidupnya.

​Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, bertanya kepada seluruh anggota Paskibraka,

“Siapa orang tuanya tidak hadir?”, hati Arviello mencelos. Perlahan, ia mengangkat tangan, menunjukkan sebuah ketiadaan yang begitu dalam.

Dengan suara lirih, ia menjawab pertanyaan Bupati, menjelaskan bahwa ibundanya telah tiada, dan ayahnya sedang bertugas sebagai abdi negara di Palu, Sulawesi Tengah.

Jawaban itu bukan sekadar kata-kata; itu adalah cerminan dari perjuangan dan kerinduan seorang anak.

​Bupati Andi Asman Sulaiman, dengan kepekaan seorang pemimpin, melihat lebih dari sekadar kesedihan. Ia melihat ketabahan, dan sebuah keinginan untuk berbakti.

“Apa yang kau inginkan?” tanyanya. Arviello hanya terdiam, air matanya tak terbendung. Pertanyaan kedua pun meluncur,

“Apakah kamu ingin sepeda motor?” Dengan isak yang tak tertahan, Arviello mengangguk, “Iye puang.”

Di tengah keheningan, tangisnya menjadi suara yang menggetarkan hati semua yang hadir.

​Kemudian, sebuah momen bersejarah pun terjadi. Bupati Andi Asman Sulaiman mendekat, bukan sebagai pemimpin daerah, melainkan sebagai seorang ayah.

“Jangan bersedih nak. Keinginanmu itu akan saya berikan. Belajarlah dengan giat. Sekarang, Bupati Bone adalah orang tuamu, dan ibumu adalah Ketua PKK Bone.

Sayalah pengganti orang tuamu,” ucapnya. Janji itu bukan sekadar janji, itu adalah sebuah dekapan tulus yang menghapus jarak antara pemimpin dan rakyatnya.

​Kata-kata itu bagaikan sihir yang menghentikan waktu. Hening menyelimuti lapangan, dan air mata mulai menetes dari banyak mata yang menyaksikan. Arviello mendapatkan lebih dari sekadar motor impiannya; ia mendapatkan kembali sosok orang tua yang selalu dirindukannya.

Begitulah cinta seorang pemimpin kepada anak yatim, yang hadir tanpa konsep, mengalir seperti ilham dari Yang Maha Kuasa.

​Kisah ini adalah pengingat betapa tulusnya hati seorang pemimpin yang tak hanya memimpin dengan kebijakan, tetapi juga dengan empati. Aksi Bupati Andi Asman Sulaiman adalah bukti nyata bahwa dalam Islam, memuliakan anak yatim adalah perbuatan mulia.

Tindakannya tidak hanya menunjukkan kedermawanan, tetapi juga mengamalkan ajaran Al-Qur’an, bahwa memuliakan anak yatim adalah bagian dari kebaikan yang dianjurkan.

​Kita semua, pada malam itu, menyaksikan sebuah perpaduan antara keharuan dan kebanggaan.

Haru melihat ketabahan seorang Arviello, dan bangga memiliki pemimpin seperti Andi Asman Sulaiman, yang dengan ketulusan dan kehangatan, menjadi orang tua bagi yang membutuhkan. Kisah Arviello dan Bapak Bupati Andi Asman Sulaiman akan selalu dikenang sebagai contoh nyata bagaimana sebuah kepemimpinan yang berlandaskan hati dan iman bisa mengubah hidup seseorang (*)

Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending