KATADIA MAKASSAR || Bukan hanya seremonial, tapi suasana duka haru yang dalam terasa menyelimuti ruang Hubdam XIV Hasanuddin ketika Kolonel Cke I Gusti Ngurah S., S.E. berpamitan setelah 16 bulan memimpin.
Mayor Sopian Dany, salah satu personel yang begitu dekat dengan beliau, tak mampu menahan perasaan. Sapu tangan hijau yang terselip di saku celana dinasnya pun terpaksa dikeluarkan, menghapus air mata yang terus mengalir. Suaranya bergetar, seolah setiap kata lahir dari kepedihan yang tak tertahankan.
“Ada pertemuan, ada pula perpisahan. Tapi kali ini bukan sekadar perpisahan… yang saya rasakan adalah kehilangan. Kehilangan sosok pemimpin, kehilangan sahabat, kehilangan saudara,” ucapnya lirih.
Selama lebih dari setahun mendampingi, hampir setiap hari ia berada di sisi Kolonel Ngurah. Hubungan yang terjalin bukan sekadar atasan dan bawahan, melainkan ikatan hati.
“Beliau tak pernah menempatkan dirinya di atas. Beliau sering memanggil saya Kakakbung, sebuah sapaan penuh hormat dan keakraban. Itu bukan panggilan seorang komandan kepada bawahannya… melainkan panggilan tulus dari seorang adik kepada kakak yang disayanginya,” tambah Mayor Sopian, tersedu.
Tangis pun pecah di antara barisan prajurit. Semua merasakan hal yang sama: berat melepas pemimpin yang tak hanya memimpin dengan perintah, melainkan dengan keteladanan dan kasih sayang.
Kolonel Ngurah dikenang sebagai sosok yang ringan tangan, penuh ide, dan peduli pada siapa pun tanpa pandang bulu. Tak sedikit cerita kecil yang meninggalkan kesan mendalam—dari kepedulian sederhana, hingga kebijakan yang menyentuh hati.
“Pak Ngurah orangnya baik. Beliau selalu hadir, bukan hanya untuk memberi arahan, tapi juga untuk mendengarkan. Beliau bukan sekadar komandan, tapi juga ayah, kakak, sekaligus sahabat bagi kami semua,” ucap Mayor Sopian dengan suara parau, menutup pernyataannya.
Di setiap perpisahan memang ada luka, tapi kali ini luka itu meninggalkan jejak yang dalam. Kepergian Kolonel Ngurah dari jabatan Kepala Perhubungan Kodam XIV Hasanuddin tak sekadar pergantian posisi—ia adalah perpisahan dengan jiwa kepemimpinan yang penuh ketulusan.
Meski langkahnya berpindah, kenangan dan keteladanannya akan tetap hidup, abadi di hati mereka yang pernah merasakan kehangatan kepemimpinannya.