KATADIA MAKASSAR || Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menggelar Rapat Koordinasi Reviu Kerja Sama di bidang pencarian dan pertolongan antara Indonesia–Papua Nugini (PNG) serta pembahasan Letter of Operational Coordination Agreement (LOCA) Indonesia–Timor Leste.
Kegiatan ini berlangsung di Kota Makassar dan dihadiri perwakilan Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) dari berbagai wilayah perbatasan, di antaranya KKP Kupang, Manokwari, Ambon, Maumere, Mamuju, Jayapura, Merauke, dan Sorong.
Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama Basarnas, Didi Hamzar, dalam keterangannya di Kantor Basarnas Makassar menegaskan bahwa reviu kerja sama ini merupakan langkah penting untuk memastikan mekanisme koordinasi antarnegara tetap relevan dan mampu merespons kondisi terkini.
“Kegiatan review kerja sama yang kita laksanakan di Makassar ini merupakan tindak lanjut untuk peningkatan kerja sama antara Indonesia dengan Timor Leste dan Indonesia dengan PNG. Dokumen-dokumen kerja sama ini kita cermati apakah masih relevan dengan kondisi sekarang. Jika ada perubahan dinamika, tentu akan kita adaptasikan,” ujarnya.
Menurut Didi, kerja sama di bidang pencarian dan pertolongan ini bersifat dinamis dan menuntut kesiapan masing-masing negara dalam memberikan bantuan cepat di wilayah perbatasan, baik di darat, laut, maupun udara. Ia menekankan pentingnya uji kompetensi dan pembentukan join operation agar penanganan musibah lintas batas dapat dilakukan secara efektif.
“Harapan kita adalah semua pihak yang berbatasan dapat secara cepat memberikan bantuan. Jika terjadi kecelakaan atau musibah di perbatasan—misalnya kapal tenggelam—maka operasi bisa segera dilakukan meskipun lokasinya berada di wilayah negara lain. Ini merupakan tuntutan global yang harus dipenuhi,” jelasnya.
Didi turut menyinggung pentingnya kesiapan sumber daya manusia dan logistik dalam menghadapi berbagai situasi darurat, termasuk bencana alam. Ia mencontohkan bahwa saat ini masih banyak daerah perbatasan yang memiliki tantangan akses komunikasi, jembatan rusak, hingga minimnya fasilitas kesehatan, sehingga koordinasi lintas negara menjadi sangat krusial.
“Kita sudah punya MoU dengan Timor Leste, tapi MoU ini harus punya kegiatan nyata, bukan hanya sekadar kertas. Kehadiran perwakilan Timor Leste di Makassar hari ini bagian dari konsolidasi untuk memastikan kerja sama operasional benar-benar berjalan,” tambahnya.
Basarnas menegaskan bahwa keterlibatan KKP dari wilayah perbatasan seperti Ambon, Kupang, dan Maumere, hingga dukungan kekuatan dari Makassar, menjadi tulang punggung kesiapan operasi pencarian dan pertolongan lintas negara.
Melalui forum ini, seluruh pihak menyepakati penyempurnaan prosedur, pemetaan sumber daya terdekat, serta skema pengerahan kekuatan dalam kondisi darurat.
Rapat koordinasi ini diharapkan menghasilkan rekomendasi konkrit yang akan dibawa pada sidang tingkat tinggi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama pencarian dan pertolongan internasional.