Terhubung dengan kami

Citizen Report

Kembali ke Australia Setelah 16 Tahun: Antara Rasa Gugup, Doa, dan Harapan Baru

Dipublikasikan

pada

Ada perjalanan yang sekadar memindahkan kita dari satu tempat ke tempat lain. Namun ada pula perjalanan yang membawa kita kembali ke masa lalu sekaligus mengantarkan kita menuju masa depan.
Perjalanan Memulai Studi Doktoral di Curtin University Perth

KATADIA AUSTRALIA || Ada perjalanan yang sekadar memindahkan kita dari satu tempat ke tempat lain. Namun ada pula perjalanan yang membawa kita kembali ke masa lalu sekaligus mengantarkan kita menuju masa depan.

Perjalanan saya ke Perth kali ini terasa seperti itu.

Setelah 16 tahun berlalu sejak menyelesaikan studi di The University of Queensland (UQ), Brisbane pada tahun 2010, saya kembali terbang ke Australia. Kali ini bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk memulai babak baru sebagai mahasiswa doktoral di Curtin University, Perth.

Meski Australia bukan tempat yang asing bagi saya, perasaan yang muncul tetap berbeda. Ada rasa senang, ada rasa syukur, tetapi juga terselip kegugupan. Enam belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal telah berubah. Australia berubah. Saya juga berubah.

Saya bukan lagi mahasiswa muda yang datang dengan koper penuh mimpi. Kini saya datang sebagai seorang suami, ayah, dan profesional yang kembali ke bangku kuliah untuk mengejar cita-cita akademik yang lebih tinggi.

Perpisahan Singkat di Bandara Makassar

Perjalanan dimulai pada dini hari di Makassar.

Saat sebagian besar orang masih terlelap, saya sudah berada di bandara ditemani istri dan anak-anak. Momen perpisahan seperti ini selalu terasa berat, meskipun kami tahu bahwa perpisahan ini hanya sementara.

Ada pelukan, ada pesan-pesan sederhana, dan tentu saja ada doa yang menyertai langkah saya.

Pukul 06.00 WITA, pesawat menuju Denpasar lepas landas. Alhamdulillah perjalanan berlangsung lancar, dan sekitar pukul 08.00 saya tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Karena penerbangan ke Perth baru berangkat pada sore hari, saya menghabiskan waktu cukup lama di area transit.

Bagi sebagian orang, menunggu berjam-jam di bandara mungkin terasa membosankan. Namun hari itu, waktu menunggu justru memberi ruang untuk merenung.

Saya membayangkan kehidupan yang akan dijalani beberapa tahun ke depan. Menjadi mahasiswa doktoral tentu berbeda dengan pengalaman kuliah sebelumnya. Tantangannya lebih besar, tuntutannya lebih tinggi, dan prosesnya akan menguji kesabaran serta ketekunan.

Di sela-sela lamunan itu, saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang meraih gelar akademik. Ini juga tentang belajar kembali, bertumbuh kembali, dan keluar dari zona nyaman.

Kembali Menginjakkan Kaki di Australia

Menjelang sore, tibalah waktunya melanjutkan penerbangan menuju Perth.

Sekitar pukul 20.00 waktu setempat, pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional Perth. Ketika pintu pesawat terbuka, udara musim dingin langsung menyambut.

Suhu sekitar 10 derajat Celsius terasa cukup menusuk bagi saya yang baru meninggalkan cuaca tropis Indonesia.

Saat berjalan menuju terminal kedatangan, saya tersenyum sendiri.

“Saya benar-benar kembali ke Australia.”

Kalimat itu terus berputar di kepala.

Di dalam pesawat sebelumnya, saya sempat memanjatkan doa sederhana:

“Ya Allah, berikanlah seluruh kebaikan Australia untukku, dan jauhkanlah segala keburukannya dariku. Limpahkan kesehatan, keselamatan, dan kemudahan selama aku menempuh studi di negeri ini.”

Mungkin terdengar sederhana, tetapi doa itu memberikan ketenangan tersendiri.

Ketika Mesin Imigrasi Menolak Saya

Setelah rasa haru karena kembali ke Australia berlalu, tibalah saat menghadapi proses imigrasi.

Berbeda dengan pengalaman saya dulu, kini sebagian besar pemeriksaan imigrasi dilakukan melalui mesin otomatis. Penumpang cukup memindai paspor dan mengikuti instruksi yang muncul di layar.

Antrean malam itu tidak terlalu panjang.

Ketika giliran saya tiba, saya memasukkan paspor Indonesia ke mesin. Semua berjalan normal. Paspor terbaca dan proses berlanjut dengan mulus.

Namun menjelang tahap akhir, tiba-tiba muncul pesan yang tidak saya harapkan.

Saya tidak dapat melanjutkan proses melalui mesin otomatis dan harus menuju konter pemeriksaan manual.

Jujur, saya langsung terdiam.

Berbagai pertanyaan bermunculan dalam hitungan detik.

“Apakah ada masalah dengan paspor saya?”

“Apakah chip elektronik paspor saya rusak?”

“Apakah ada sesuatu yang membuat saya harus diperiksa lebih lanjut?”

Di tengah kebingungan itu, seorang ibu yang berdiri tidak jauh dari saya sempat tersenyum sambil berkata, “Annoying.”

Saya menangkap kesan bahwa ia sedang berempati, mungkin karena melihat sistem yang tiba-tiba menghentikan proses saya.

Meski begitu, pikiran saya saat itu tetap dipenuhi tanda tanya.

Seorang petugas kemudian mengarahkan saya ke konter pemeriksaan manual. Saya menyerahkan paspor dan menunggu dengan sedikit cemas.

Petugas memeriksa paspor saya, lalu beberapa saat menatap wajah saya. Mungkin ia sedang mencocokkan foto paspor dengan wajah saya.

Beberapa detik kemudian yang terasa cukup lama, paspor saya dikembalikan.

“All good.”

Hanya dua kata.

Namun cukup untuk membuat saya menarik napas lega.

Tidak ada masalah apa pun.

Belakangan saya mengetahui bahwa teman serumah saya ternyata mengalami hal yang sama. Jadi kemungkinan besar bukan paspornya yang bermasalah, melainkan sistem yang secara acak mengarahkan sebagian penumpang ke pemeriksaan manual.

Menghadapi Ketatnya Biosecurity Australia

Saya pikir semua sudah selesai.

Ternyata masih ada satu “ujian” lagi: pemeriksaan biosecurity dan customs Australia.

Siapa pun yang pernah datang ke Australia pasti tahu reputasi negara ini dalam menjaga keamanan hayati. Aturannya sangat ketat. Bahkan lumpur yang menempel pada sepatu pun dapat menjadi alasan pemeriksaan lebih lanjut.

Makanan rumahan yang tidak memenuhi ketentuan juga tidak diperkenankan masuk.

Karena itu, sejak di pesawat saya memastikan mengisi kartu deklarasi dengan jujur.

Saya mendeklarasikan beberapa barang, termasuk obat-obatan umum seperti paracetamol, Bodrex, dan beberapa minyak tradisional seperti minyak kayu putih.

Ketika tiba di meja pemeriksaan, petugas bertanya dengan singkat:

“What kind of medication do you bring?”

Saya menjelaskan satu per satu.

Petugas kemudian membaca kartu deklarasi saya dengan cukup teliti.

Saat itulah imajinasi saya mulai bekerja.

Saya membayangkan koper dibuka.

Obat-obatan diperiksa satu per satu.

Lalu saya harus menjelaskan fungsi minyak kayu putih kepada petugas Australia.

Untungnya, semua itu hanya ada di kepala saya.

Setelah memeriksa kartu deklarasi, petugas hanya mengangguk dan berkata bahwa saya boleh melanjutkan perjalanan.

Selesai.

Tidak ada pembongkaran koper.

Tidak ada pemeriksaan tambahan.

Tidak ada pertanyaan lanjutan.

Alhamdulillah.

Sambutan Hangat di Tengah Dingin Perth

Ketika akhirnya keluar dari area kedatangan, udara dingin Perth kembali menyapa.

Di antara kerumunan orang yang menunggu keluarga atau kerabat mereka, saya melihat seorang anak muda memegang papan kecil bertuliskan:

Curtin University.

Saya langsung tersenyum.

“Oh, itu penjemput saya.”

Rasa lelah akibat perjalanan panjang seolah berkurang saat itu juga.

Bagi mahasiswa internasional yang baru pertama kali datang ke Perth, Curtin University memang menyediakan fasilitas penjemputan dari bandara. Menurut saya, ini adalah layanan yang sangat membantu, terutama bagi mereka yang belum mengenal kota Perth, transportasinya, maupun lokasi tempat tinggal mereka.

Setelah lebih dari belasan jam perjalanan, rasanya luar biasa melihat ada seseorang yang sudah siap menyambut dan mengantar saya ke tempat tinggal yang akan menjadi rumah sementara selama menempuh studi.

Babak Baru Dimulai

Malam itu, ketika mobil meninggalkan bandara menuju kota Perth, saya memandangi lampu-lampu jalan yang membelah gelapnya malam musim dingin.

Perjalanan dari Makassar akhirnya selesai.

Imigrasi berhasil dilewati.

Biosecurity berhasil dilewati.

Dan saya kini resmi memulai kehidupan baru sebagai mahasiswa doktoral.

Enam belas tahun lalu saya datang ke Australia dengan mimpi sebagai mahasiswa muda. Kini saya kembali dengan pengalaman hidup yang lebih banyak, tanggung jawab yang lebih besar, dan tujuan yang lebih jelas.

Saya tidak tahu seperti apa perjalanan doktoral ini nantinya. Mungkin akan ada tantangan, tekanan, bahkan kegagalan. Namun saya percaya bahwa semua perjalanan besar selalu dimulai dengan satu langkah kecil.

Dan langkah kecil itu dimulai pada malam musim dingin di Perth.

Sebuah malam yang dingin, tetapi penuh harapan. ✨

Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending