KATADIA MAKASSAR || Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Nursaidah Sirajuddin, menyoroti masih rendahnya cakupan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak serumah pasien TBC di Kota Makassar.
Hingga evaluasi program tahun 2026, pemberian TPT baru menjangkau 516 orang dari target 72.240 kontak serumah, atau sekitar 0,71 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian utama Dinas Kesehatan dalam upaya memutus mata rantai penularan TBC.
“Yang menjadi kendala di Kota Makassar yang sangat rendah adalah cakupan pemberian TPT atau terapi pencegahan tuberkulosis kontak serumah,” ujar Nursaidah.
Menurutnya, kontak serumah merupakan kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar TBC dari anggota keluarga yang telah terdiagnosis. Karena itu, pemberian terapi pencegahan menjadi bagian penting untuk mencegah orang yang telah terpapar berkembang menjadi TBC aktif.
Nursaidah menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan penguatan program tracing TBC yang terintegrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Makassar.
Ia mengatakan, penanggulangan TBC membutuhkan proses yang berkelanjutan serta koordinasi lintas sektor. Karena itu, Dinas Kesehatan mendorong penguatan kolaborasi dalam penemuan kasus, penelusuran kontak, hingga memastikan pasien menyelesaikan pengobatan.
“Setiap program akan membutuhkan proses dan rangkaian koordinasi. Untuk itu, mari kita memperkuat kolaborasi dalam penanggulangan tuberkulosis,” katanya.
Penemuan Kasus TBC Capai 61,53 Persen
Nursaidah menjelaskan, TBC masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat di Kota Makassar. Dengan tingkat mobilitas dan kepadatan penduduk yang relatif tinggi, upaya penemuan kasus dan pencegahan penularan harus dilakukan secara lebih luas.
Pada 2026, target penemuan terduga TBC ditetapkan sebanyak 48.763 orang. Hingga evaluasi berjalan, sebanyak 27.851 orang telah ditemukan atau mencapai 57,11 persen.
Sementara untuk kasus TBC yang terkonfirmasi, target penemuan tahun 2026 mencapai 9.030 kasus. Realisasinya telah mencapai 5.556 kasus atau 61,53 persen.
“Karena itu, penguatan skrining dan penelusuran kontak menjadi bagian penting untuk mempercepat penemuan kasus sekaligus mencegah terjadinya penularan lebih luas,” jelas Nursaidah.
Capaian Pengobatan 82,40 Persen
Di sisi pengobatan, Dinkes Makassar mencatat capaian yang relatif lebih baik. Dari pasien yang terdata dalam program pengobatan, sebanyak 4.578 pasien atau 82,40 persen berhasil menyelesaikan pengobatan secara adekuat.
Nursaidah menyebut capaian tersebut menunjukkan mutu layanan klinis dan kepatuhan pasien menjalani pengobatan relatif baik. Namun, angka tersebut masih berada di bawah standar nasional yang ditargetkan minimal 90 persen.
Masih terdapat sekitar 17,6 persen atau 978 pasien yang berisiko mengalami putus obat, retensi dalam pengobatan maupun kematian.
“Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian melalui penguatan pendampingan selama masa pengobatan,” imbuh Nursaidah.
Dinkes Perkuat Investigasi Kontak di Puskesmas
Untuk mengejar rendahnya cakupan TPT, Dinas Kesehatan Kota Makassar akan memperkuat investigasi kontak di seluruh puskesmas.
Strategi tersebut tidak hanya mengandalkan tenaga kesehatan, tetapi juga melibatkan kader kesehatan, komunitas, fasilitas pelayanan kesehatan swasta, klinik hingga rumah sakit.
Selain itu, edukasi kepada keluarga pasien akan diperkuat untuk mengatasi masih adanya penolakan terhadap pemberian TPT.
Menurut Nursaidah, keluarga perlu memahami bahwa terapi pencegahan merupakan bagian penting dalam memutus mata rantai penularan TBC dan bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Dinkes Makassar juga akan memperluas skrining aktif pada lokasi dan kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi, seperti kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi, tempat kerja, rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan, serta kelompok rentan termasuk lansia dan masyarakat dengan penyakit penyerta tertentu.
Skrining juga diarahkan kepada kelompok dengan kondisi yang dapat meningkatkan risiko TBC, termasuk penyandang diabetes melitus dan kelompok dengan HIV.
“Langkah ini, kita harapkan dapat memperluas jangkauan penemuan kasus sehingga semakin banyak kasus dapat ditemukan dan ditangani lebih awal,” tuturnya.
Dorong Pasien TBC Tuntaskan Pengobatan
Selain penemuan kasus, Dinkes Makassar juga memperkuat retensi pengobatan agar pasien TBC menyelesaikan terapi sesuai ketentuan.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni meningkatkan peran Pengawas Menelan Obat (PMO) serta memanfaatkan teknologi komunikasi, termasuk pengawasan berbasis aplikasi WhatsApp.
Strategi tersebut ditargetkan mampu meningkatkan kepatuhan pasien sekaligus mendorong keberhasilan pengobatan dari 82,40 persen menuju target nasional minimal 90 persen.
Dengan penguatan tracing, investigasi kontak, pemberian TPT, skrining kelompok berisiko dan pendampingan pengobatan, Dinkes Makassar berharap penemuan serta penanganan TBC dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko penularan di lingkungan masyarakat semakin dapat ditekan.