KATADIA MAKASSAR || Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menggagas sebuah langkah strategis dalam perubahan budaya pengelolaan sampah melalui sektor pendidikan.
Ia mengusulkan program edukasi lingkungan sejak dini dengan mewajibkan siswa sekolah dasar dan menengah membawa sampah terpilah setiap hari ke sekolah.
Gagasan ini disampaikan Munafri saat memimpin Rapat Koordinasi bersama penggiat lingkungan di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Rabu malam (25/6/2025), yang turut dihadiri Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham.
“Saya ingin anak-anak SD dan SMP setiap hari membawa sampah dari rumah. Bukan sekadar membawa, tapi belajar memisahkan antara sampah organik dan non-organik. Ini membentuk habit sejak dini bahwa sampah harus dikelola dengan bijak,” ujar Munafri.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan ini akan diperluas ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, termasuk SMA dan perguruan tinggi, serta diterapkan di kantor-kantor pemerintahan.
Setiap institusi pendidikan nantinya akan dilengkapi dengan fasilitas tempat sampah terpilah yang terintegrasi dengan sistem bank sampah, pengolahan kompos, dan praktik urban farming.
Selain menyasar sektor pendidikan, Munafri juga mendorong keterlibatan aktif sektor swasta, khususnya pelaku industri perhotelan dan makanan, yang menghasilkan volume sampah organik dalam jumlah besar.
Pemerintah Kota Makassar akan bekerja sama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) serta pelaku usaha lainnya untuk penyediaan lahan pengolahan kompos berskala menengah.
“Kita minta hotel-hotel siapkan lahan 5.000 meter hingga 1 hektare. Sampah organik dari hotel mereka akan diolah di situ, lalu digunakan untuk pertanian kota. Ini bukan hanya mengurangi sampah, tapi juga bisa meningkatkan pendapatan rumah tangga,” jelas Munafri.
Langkah ini merupakan bagian dari visi besar Pemkot Makassar dalam mewujudkan kota bebas sampah yang berkelanjutan, dengan kolaborasi lintas sektor dan edukasi sebagai fondasi utama perubahan perilaku masyarakat.(**)