Oleh Mahrus Andis
Mks, 4 Februari 2023
Aku sangat dekat dengan pria ini. Namanya Ardat Rasyid, guru SMA Negeri 10, tak jauh dari kompleks rumahnya. Rumahku dengan rumahnya, kira-kira berjarak 100 meter.
Pak Ardat, sapaan akrabnya di komplek BTN tempat saya juga tinggal, sangat ramah kepada semua orang. Di mesjid, dekat rumah, dia adalah seorang khatib (setidaknya dia adalah MC pada sholat Jum’at) dan aktif terlibat dalam kegiatan ibadah.
Di tengah-tengah masyarakat, Pak Ardat bersama Komunitas Tamangapa Makassar Passapedana bekerjasama dengan Master Max Indonesia Chapter (MMIC) Makassar menggiatkan Gerakan Jum’at Berbagi. Tidak hanya kepada jemaah di masjid “Al Muhajirin” di kompleks BTN Berlian Permai setelah sholat Jum’at, pembagian rizki berupa sembako juga dilakukan di jalan-jalan utama dan gang-gang di kawasan Tamangapa.
Di sekolah tempatnya mengajar, guru yang senang senam bersama kelompok perempuan ini dikenal ramah dan suka menolong. Dia akrab dengan murid-muridnya.
Terkait maraknya permainan latto’-latto’ siswa yang tiba di kelas, Pak Ardat cukup toleran. Yang penting anak tahu kapan dan di mana bermain latto’-latto’.
Dari sisi edukatif, menurutnya bermain latto’-latto’ dapat mencerdaskan cara berpikir siswa. Artinya, seseorang yang memainkan latto’-latto harus terampil menemukan keseimbangan antara gerak pendulum dan sumbu pengatur yang menciptakan keteraturan bunyi. Itu membutuhkan konsentrasi penuh.
Sebuah ikhtiar yang harus dimulai dengan belajar dan berlatih. Menurutnya lagi, bermain latto’-latto’ dapat menyita kesempatan anak untuk bermain android dengan permainan yang belum tentu positif.
“Betul. Yang perlu kamu ketahui adalah bermain latto’-latto’ tidak mengganggu suasana belajar di kelas dan ketenangan orang lain,” kataku, ketika tadi pagi, kami bersama tetangga mengobrol santai di depan rumah.
Selamat berkreasi, Pak Ardat. Semoga sukses untuk masa depan! ***