Kamis, Juli 25, 2024

Diskusi Group Mobilitas Berkelanjutan: Harapan dan Tantangan

KATADIA, MAKASSAR || Dalam sebuah diskusi yang berlangsung di Group Mobilitas Berkelanjutan, topik yang dibahas adalah bagaimana membangun budaya berlalu lintas yang baik sejak dini dan pentingnya transportasi publik bagi lingkungan dan masyarakat. Diskusi ini menarik dan mengundang banyak tanggapan dari para anggotanya.

Menanamkan Etika dan Pengetahuan Lalu Lintas Sejak Dini

Para peserta diskusi sepakat bahwa mengenalkan etika dan pengetahuan berlalu lintas sejak dini sangat penting. Pembiasaan budaya berlalu lintas yang baik perlu dimulai dari anak-anak agar mereka tumbuh menjadi individu yang taat aturan dan peduli terhadap keselamatan di jalan.

Selain itu, memanfaatkan transportasi publik juga diharapkan bisa menjadi kebiasaan yang tertanam sejak kecil.

Seorang anggota diskusi mengutip sebuah buku yang menyatakan bahwa karakter seseorang dipengaruhi oleh lingkungannya. Identitas kita sangat erat kaitannya dengan tempat tinggal, orang-orang yang kita kenal, dan tempat-tempat yang sering kita datangi. Oleh karena itu, membangun kesadaran berlalu lintas dari awal merupakan langkah yang sangat penting.

Tantangan Transportasi Massal

Namun, meskipun kesadaran akan pentingnya transportasi publik sudah mulai tumbuh, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satu peserta diskusi menyoroti kurangnya keseriusan pemerintah dalam mengaktifkan transportasi massal.

Ia merasa pemerintah hanya setengah hati dalam upaya ini, sehingga kasihan masyarakat yang seharusnya bisa menikmati fasilitas transportasi massal yang memadai.

Koridor 2, yang seharusnya menjadi contoh baik dari transportasi massal, saat ini mengalami hambatan. Koridor ini berada di jalur utama Perintis Kemerdekaan hingga Urip Sumoharjo, namun rutenya dialihkan dan masih ada larangan di beberapa titik pemberhentian.

Pengalaman Pribadi di Koridor 2

Seorang anggota diskusi berbagi pengalaman pribadinya saat menggunakan transportasi publik di koridor 2.

Ia naik dari halte Citraland Tallasa bersama anaknya, namun tidak ada penumpang lain selain mereka berdua hingga mencapai pintu masuk bandara.

Ia menganggap rute Tallasa City ini sangat dipaksakan dan menyedihkan karena melewati jalan samping tol yang sangat padat oleh truk dan kendaraan alternatif.

Menurutnya, jalur tersebut seharusnya dilayani oleh bus feeder, bukan bus taman, sehingga tidak mengherankan jika bus tersebut kosong. Hal ini juga dianggapnya sebagai pemborosan waktu dan bahan bakar karena cakupan layanan yang tidak efektif.

Harapan Kedepan

Para peserta diskusi berharap agar pemerintah dapat lebih serius dalam mengembangkan transportasi massal yang efektif dan efisien. Diperlukan rencana yang matang dan implementasi yang konsisten agar masyarakat bisa merasakan manfaat nyata dari transportasi publik.

Dengan begitu, kesadaran dan budaya berlalu lintas yang baik bisa terwujud, dan lingkungan serta masyarakat bisa menikmati keuntungan dari sistem transportasi yang berkelanjutan.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles

Sorry Bro