Sabtu, Juli 13, 2024

Perlunya Menata Kembali Lorong Wisata

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Provinsi Sulawesi Selatan)

KATADIA,MAKASSAR || Lorong Wisata (Longwis) merupakan salah satu inovasi Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar, yang mendapat apresiasi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI, Jenderal Pol (Purn) Tito Karnavian. Mendagri menyebut program ini patut menjadi contoh Pemerintah Daerah (Pemda) untuk memicu kreativitas kepala daerah secara nasional. Apresiasi diberikan Tito saat berkunjung ke Makassar, dalam rangka peringatan Hari Otonomi Daerah XXVII, tahun 2024 (https://www.humasindonesia.id).

Pengakuan terhadap Longwis bisa dilihat pada penghargaan Indonesia Awards 2023 kategori Outstanding Award For Integrated Initiative untuk Program Lorong Wisata yang diterima Pemkot Makassar. Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto, menerima penghargaan itu langsung dalam gelaran acara Indonesia Awards 2023, yang diadakan INews Media Grup di Jakarta Concert Hall INews Tower, Kamis, 31 Agustus 2023 (https://makassarkota.go.id).

Program Inovasi Daerah

Lorong Wisata merupakan salah satu program unggulan Walikota Makassar, Danny Pomanto, yang mengidentikkan dirinya sebagai anak lorong na Makassar. Program Lorong Wisata bertujuan memberdayakan masyarakat dan mewujudkan ketahanan pangan. Longwis bisa mengubah citra lorong yang terkesan kumuh, kotor, dan menyeramkan jadi sesuatu yang berbeda. Mereka yang tinggal di lorong juga bisa menjadi masyarakat yang mandiri dan produktif. Warga di lorong-lorong bisa mengembangkan budidaya sayuran cabai, ikan nila, hingga lobster. Jajanan tradisional bisa pula jadi salah satu yang dikembangkan, sehingga mendatangkan manfaat ekonomi.

Walikota Makassar menyebut Longwis merupakan program multi inovasi yang melibatkan masyarakat secara keseluruhan. Dalam Longwis ini tersedia 21 konten, di antaranya food security, inflation control, circular economy, 20 UMKM digital per lorong, startup lorong, destinasi wisata makan enak, serta destinasi wisata sejarah dan seni. Selain itu, ada digital waste bank, community empowerment, public engagement, social cohesion, social mitigation, social share & care, dan 20 new jobs & new business opportunity. Ada pula city farming, city garden, net zero carbon city, healthy alleys, sombere and smart city, public safety, dan resilient city.

Tercatat jumlah Longwis sudah mencapai 1.700an lorong, meningkat dari sebelumnya 1.096 lorong. Longwis ini tersebar di 15 kecamatan dalam Kota Makassar. Pada tahun 2022, ada total 8000 lorong di Kota Anging Mammiri ini (https://diskominfo.makassarkota.go.id). Data Dinas Tata Ruang menyebut Kecamatan Tallo sebagai pemegang rekor terbanyak, dengan 105 Lorong Wisata. Di Tallo, ada Lorong Wisata Cheongju, meminjam nama salah satu kota di Korea Selatan. Juga ada Lorong Wisata Hutan Bambu, Lorong Wisata Sejarah, dan Lorong Wisata Warna (https://blog.pigijo.com).

Di Jalan Nuri Lorong 302, RT 05/RW 01 Kelurahan Mariso, Kecamatan Mariso, misalnya, masyarakat memanfaatkan lahan tidur seluas 50 meter persegi, menjadi lahan pertanian produktif. Mereka mampu menghasilkan cabai sekira 14-19 kg sekali panen per bulannya dan memberi pemasukan Rp500.000/bulan. Lorong yang dibangun dengan konsep instagramable ini, akan jadi daya tarik wisatawan. Terdapat berbagai seni mural sebagai daya pikatnya

Ambiguitas Lorong Wisata

Saya cukup tahu konsepsi lorong dari Walikota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto, karena merupakan editor buku “MasaDPan Makassar,, Dinamika Demokrasi dan Pemerintahan” (2014). Saya juga pernah jadi host acara “Beranda Pak RT”, RRI Pro1 FM 94,4 Mhz Makassar, tahun 2016-2020, yang membahas program-program Pemkot Makassar, dengan menghadirkan Ketua RT, Ketua RW, Ketua LPM, pelaku UMKM, pengelola bank sampah, Lurah hingga Camat, sebagai narasumber. Jadi bahasan seputar lorong dalam tataran paktik, cukup saya pahami. Lorong Garden (Longgar), Lorong Sehat (Longset), Lorong KB, dan sejenisnya, saya duga kini yang diubah menjadi Lorong Wisata (Longwis).

Meski program Longwis itu mendapat apresiasi dan mencatatkan prestasi bagi Pemkot Makassar, tapi ada beberapa catatan kritis, yang perlu jadi bahan evaluasi. Catatan kritis ini juga menjadi masukan untuk penataan dan pengembangan Longwis ke depan. Harus diakui Longwis merupakan potensi bagi Pemkot dalam menggerakkan sektor pariwisata dengan segala dampak ikutannya kepada masyarakat.

Pertama, ada Lorong Wisata yang hanya sekadar dipasangi spanduk dari bahan vynil (digital printing) yang tidak ramah lingkungan. Mengapa tidak dibuat dengan tulisan tangan yang indah, hasil kreasi warga atau perupa di kelurahan itu. Bukankah mereka membuat mural di sepanjang tembok lorong atau dinding rumah warga? Sehingga, dengan tulisan tangan akan jauh lebih menyatu serta tentu lebih kreatif dan menarik.

Kedua, semangat Pemkot Makassar yang mau mengedepankan istilah lokal tercederai dengan penamaan lorong yang menggunakan nama-nama kota dari berbegai negara. Istilah “sombere”, “tangkasaki”, “rantasa”, “jagai anakta”, yang dipakai mestinya juga menjadi pola dalam penamaan lorong-lorong yang notabene berada di Makassar. Sayangnya, yang terjadi justru penamaan lorong menggunakan nama-nama kota di berbagai negara, seperti Lorong Wisata Sydney dll.

Dengan penamaan yang sekadar meminjam dan asal comot nama-nama kota internasional, membuktikan bahwa Pemkot Makassar secara instan mau cepat menyebut dirinya sebagai kota dunia. Namun, kota dunia yang tidak punya jati diri. Bahkan secara tanpa hak menggunakan nama-nama kota itu untuk dilekatkan secara paksa pada lorong yang tidak punya spirit sebagai lorong wisata. Menggunakan nama-nama kota berbau asing juga merusak toponimi dan kekhasan daerah tersebut, yang pasti punya historinya sendiri.

Ketiga, setiap Lorong Wisata harus punya karakter berbeda. Jangan sekadar dekorasi warna-warni tanpa menghadirkan kekhasan dan ciri dari masing-masing lorong. Memang, pada awalnya, akan terlihat indah saat catnya masih baru, tapi rentan pudar oleh waktu. Lorong-lorong yang hadir sekadar belo-belo ini juga tidak punya daya tahan, dan terancam terabaikan setelah warna-warninya mengelupas.

Keempat, pengembangan Lorong Wisata sebaiknya dengan perencanaan matang. Harus diakui, ada banyak Lorong Wisata yang dibuat tidak dengan perencaan matang, integratif dan berkelanjutan. Hanya sekadar diklaim sebagai Lorong Wisata setelah pengecatan, dengan penataan pot-pot secara darurat, simsalabim. Lorong Wisata tak boleh hanya mengandalkan cat dan gambar warna-warni sebagai spot foto.

Perlu ada atraksi dan agenda kegiatan di lorong yang dibuat secara reguler. Dengan begitu, lorong jadi hidup, tidak monoton, dan akan mendinamisasi aktivitas dan kreativitas warga. Lorong Wisata perlu menyusun kalender event dengan promosi yang masif pada berbagai platform digital. Bila ada kalender event yang mengangkat seni budaya setempat akan jauh lebih menarik. Materi pertunjukkan dalam kegiatan ini pun bisa dikemas jadi konten digital untuk edukasi dan literasi.

Lihatlah nasib Lorong Garden di Jalan Toddopuli II, Kelurahan Kassi-Kassi, Kecamatan Rappocini yang pernah dikunjungi Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, dan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, pada Selasa, 22 Maret 2016. Saat itu, sebelum meresmikan gedung Konsulat Jenderal Australia di Wisma Kalla, Jalan Dr Sam Ratulangi, Julie Bishop meninjau Lorong Garden yang merupakan kebun mini tanaman hidroponik. Negeri Kanguru itu memang sebelumnya turut berperan membantu pelaksanaan Lorong Garden di Jalan Langgau (https://nasional.tempo.co).

Namun, setapak yang pernah disusuri dengan berjalan kaki bersama Danny Pomanto itu, tak lagi rimbun, hijau, asri seperti sedia kala. Lorong yang sempat dimeriahkan aneka tanaman itu, kini kembali normal, seperti biasa, tak punya keistimewaan. Padahal pernah dipamerkan dan dibanggakan sebagai contoh keberhasilan. (*)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles

Sorry Bro