KATADIA BARRU || Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan, Pupuk Barru kembali membuat gebrakan dengan mendistribusikan 20 ton pupuk organik ke Desa Buleleng, Kecamatan Bungku Selatan, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Pupuk organik tersebut menjadi kebanggaan masyarakat Barru karena merupakan produk lokal pertama di Indonesia Timur yang memanfaatkan limbah batubara (Fly Ash dan Bottom Ash/FABA) dari PLN Indonesia Power UBP Barru sebagai salah satu bahan baku utama.
“Ini bukan sekadar produk, tapi bukti bahwa inovasi lokal bisa menjadi solusi nyata. Pupuk Barru hadir dari Barru untuk Indonesia, dengan konsep sirkular ekonomi yang ramah lingkungan,” ungkap Rasyid Ridha, Founder Pupuk Barru. Minggu 4/8
Dalam proses produksinya, Pupuk Barru menggabungkan limbah organik rumah tangga, pertanian, serta peternakan dengan limbah batubara sebesar 30% untuk menghasilkan pupuk organik padat. Pupuk ini telah melalui proses pengolahan yang aman dan berstandar lingkungan, menjadikannya produk unggulan dalam praktik pertanian berkelanjutan.
“Kami ingin membuktikan bahwa Barru bisa menjadi pelopor inovasi hijau berbasis potensi lokal. Ini adalah bagian dari kontribusi kami untuk sektor lingkungan dan pertanian berkelanjutan,” tambah Rasyid.
Sebanyak 20 ton pupuk dikirim menggunakan armada truk, menempuh lintas provinsi dari Sulawesi Selatan menuju Morowali, Sulawesi Tengah. Pendistribusian ini merupakan salah satu langkah nyata Pupuk Barru dalam menjangkau wilayah pertanian di kawasan Indonesia Timur.
“Kami optimis, dengan kualitas produk yang telah teruji dan didukung oleh kearifan lokal, Pupuk Barru bisa menjadi solusi jangka panjang bagi sektor pertanian dan lingkungan, khususnya di wilayah timur Indonesia,” tutup Rasyid.(**)