KATADIA BONE || Siswa kelas jauh SD Inpres 12/79 Bunga Ejae, Desa Sadar, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, terpaksa belajar dengan kondisi seadanya. Setiap hari, mereka mengikuti pelajaran di bawah kolong rumah warga yang untuk sementara waktu ditinggalkan oleh pemiliknya.
Kepala Desa Sadar, Andi Ashar Alam, SH, mengungkapkan bahwa kegiatan belajar mengajar di kolong rumah itu telah berlangsung selama lebih dari dua bulan. Menurutnya, hal ini bisa berjalan berkat dukungan Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., yang menugaskan satu orang guru untuk mengajar di lokasi tersebut.
“Benar-benar di bawah kolong rumah anak-anak ini belajar. Sudah lebih dari dua bulan berjalan. Sebelumnya, selama hampir 30 tahun, anak-anak di sini harus berangkat sekolah selepas salat subuh dan menempuh perjalanan sekitar tiga jam.
Kondisi jalan memang sebagian sudah membaik berkat dana desa, tapi saat musim hujan mereka sering terlambat, bahkan tidak bisa berangkat sama sekali,” ujar Andi Ashar kepada KataDia@Co.id, Selasa (8/10/2025).
Kelas jauh ini berada di wilayah pegunungan terpencil, tepatnya di Kampung Kajuara, Dusun I Bunga Ejae, dengan jarak sekitar 120 kilometer dari pusat Kota Watampone. Saat ini, kelas jauh tersebut hanya menampung 18 siswa kelas 1, sedangkan siswa kelas 2 hingga 6 masih harus menempuh perjalanan ke sekolah induk di SD Inpres 12/79 Desa Sadar.
“Setiap hari anak-anak tetap belajar, tapi fasilitasnya masih sangat terbatas. Guru yang mengajar pun hanya satu orang ASN, dan terkadang berhalangan hadir,” tambah Andi Ashar.
Menurutnya, pembentukan kelas jauh ini berawal dari keluhan warga yang disampaikan saat kegiatan reses Anggota DPR RI, yang juga dihadiri oleh Andi Asman Sulaiman sebelum menjabat sebagai Bupati Bone. Setelah terpilih, Andi Asman langsung menindaklanjuti keluhan tersebut dengan menugaskan satu guru untuk mengajar di wilayah itu.
Andi Ashar menjelaskan, inisiatif membuka kelas jauh ini bertujuan menjaga keselamatan siswa, terutama murid kelas 1, agar tidak lagi menempuh perjalanan jauh yang berisiko. Ia bahkan menggunakan dana pribadi untuk membantu penyediaan alat tulis, buku bacaan, meja, dan bangku sederhana bagi para siswa.
“Untuk lahan, kami bisa siapkan. Tapi untuk bangunannya jelas butuh anggaran besar. Saya sudah berulang kali menyuarakan kebutuhan ini dalam Musrenbang agar dibangunkan ruang kelas permanen,” ungkapnya.
“Dusun Bunga Ejae ini daerah pegunungan dengan akses jalan yang belum sepenuhnya layak untuk kendaraan. Kami berharap ada perhatian lebih bagi desa kami,” lanjutnya.
Sementara itu, Iwan, salah satu orang tua murid asal Kampung Kajuara, mengaku bersyukur atas inisiatif pemerintah desa membuka kelas jauh tersebut. Menurutnya, jarak menuju sekolah induk sangat jauh dan melelahkan bagi anak-anak.
“Kelas induk berada di pusat Dusun Bunga Ejae dengan waktu tempuh tiga jam perjalanan. Kalau tidak ada kelas jauh ini, mungkin makin banyak anak-anak yang tidak bisa bersekolah,” ujarnya.
“Kami berharap pemerintah bisa memperhatikan kondisi sekolah ini. Walau kami tinggal di pelosok dan daerah perbatasan, anak-anak di sini juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak,” harap Iwan.