KATADIA MAKASSAR || Publik dihebohkan oleh beredarnya gambar pesawat jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, yang menyebar luas di media sosial sejak awal pekan ini. Setelah dilakukan penelusuran oleh sejumlah pihak, termasuk otoritas kebencanaan dan komunitas pemeriksa fakta, gambar tersebut dipastikan merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan tidak merepresentasikan peristiwa nyata.
Akademisi komunikasi bidang Etika Digital, Dr. Zulkarnain Hamson, menilai telah terjadi pelanggaran etika oleh kreator konten yang memproduksi dan menyebarkan gambar tersebut. Dalam wawancara via telepon, Minggu (18/1/2026), ia berharap pengguna media sosial dapat menahan diri untuk tidak memproduksi maupun menyebarkan konten visual yang kebenarannya belum dapat dipastikan.
“Biarkan Basarnas dan tim SAR menjalankan tugasnya serta mempublikasikan gambar asli dari peristiwa tersebut, demi menjaga kondisi psikologis publik,” ujarnya.
Menurut Zulkarnain, informasi berupa rekayasa gambar tersebut tidak benar dan berpotensi menyesatkan masyarakat. Penyebaran konten visual hasil manipulasi AI dinilainya sebagai pelanggaran serius terhadap etika digital karena dapat menimbulkan kepanikan, kecemasan publik, serta mencederai kepercayaan masyarakat terhadap informasi di ruang digital.
“Dalam konteks komunikasi publik, visual memiliki daya sugesti yang sangat kuat. Rekayasa gambar bencana dapat memicu dampak psikologis dan sosial yang luas,” paparnya.
Ia menambahkan, penggunaan AI tanpa transparansi dan tanpa penandaan yang jelas merupakan bentuk penyalahgunaan teknologi. “AI seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan edukatif dan produktif, bukan untuk menciptakan disinformasi yang mengeksploitasi emosi publik, apalagi terkait isu keselamatan dan bencana,” ujar mantan Wakil Rektor IV Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar itu.
Zulkarnain juga menilai, kasus dugaan kecelakaan pesawat ATR tersebut menegaskan pentingnya literasi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI generatif. Ia mengimbau masyarakat agar tidak langsung mempercayai konten visual yang beredar di media sosial serta melakukan verifikasi melalui sumber resmi sebelum menyebarkannya lebih lanjut.
Sebagai pemerhati media, ia mendorong platform digital untuk memperkuat sistem deteksi dan pelabelan terhadap konten hasil AI. “Tanpa penegakan etika dan regulasi yang memadai, teknologi AI dikhawatirkan akan semakin sering disalahgunakan sebagai alat manipulasi informasi di ruang digital,” tambahnya.
Dalam perspektif etika komunikasi digital yang ia kembangkan, penyebaran gambar rekayasa AI pesawat jatuh di Gunung Bulusaraung mencerminkan krisis tanggung jawab moral di ruang digital. “Teknologi bukan entitas yang netral.
Ia selalu berkelindan dengan nilai, budaya, dan pilihan etis penggunanya. Ketika AI digunakan untuk memproduksi visual palsu yang menyerupai bencana nyata, maka terjadi pergeseran fungsi teknologi dari alat pemberdayaan menjadi instrumen manipulasi simbolik,” ungkapnya.
Penelitian Dr. Zulkarnain Hamson juga menegaskan bahwa etika digital di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kearifan lokal, seperti nilai sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling menghormati), dan sipakainge (saling mengingatkan).
Penyebaran hoaks visual bencana bertentangan dengan nilai-nilai tersebut karena mengabaikan empati terhadap masyarakat di sekitar lokasi, meremehkan perasaan keluarga korban kecelakaan pesawat yang pernah terjadi, serta mencederai martabat ruang publik digital sebagai ruang bersama. (anjas)