KATADIA MAKASSAR || Satuan Tugas Udara Operasi Pencarian pesawat ATR mengoptimalkan evakuasi udara pada Jumat pagi dengan memanfaatkan jendela cuaca paling aman dan efektif, yakni pada rentang waktu pukul 08.00 hingga 11.00 WITA. Langkah ini diambil untuk mempercepat proses evakuasi korban di medan ekstrem Gunung Bulu Sarong.
Komandan unsur udara menjelaskan bahwa briefing penerbangan telah dilaksanakan sejak pukul 06.30 WITA dengan melibatkan personel meteorologi dan geofisika. Berdasarkan analisis cuaca, pada rentang waktu tersebut pertumbuhan awan masih relatif rendah dan hanya berupa awan scatter, sehingga memungkinkan helikopter bermanuver hingga ketinggian maksimal 5.000 feet.
“Puncak Gunung Bulu Sarong berada di ketinggian sekitar 4.200 feet. Karena itu, waktu antara pukul 08.00 sampai 11.00 WITA menjadi paling krusial dan aman untuk evakuasi,” ujarnya.
Dalam operasi hari ini, tim SAR menargetkan evakuasi lima jenazah yang berada di puncak Gunung Bulu Sarong. Sejak pukul 05.00 WITA, tim darat telah bergerak membawa jenazah menuju puncak untuk dijemput langsung oleh helikopter, tanpa harus diturunkan kembali ke pos bawah yang membutuhkan waktu tempuh hingga tiga jam.
Untuk mendukung percepatan evakuasi, dikerahkan dua unit helikopter milik Basarnas dan TNI Angkatan Udara. Skema evakuasi dilakukan secara bergantian. Helikopter akan langsung mengevakuasi satu hingga dua jenazah yang telah tiba di puncak, kemudian segera diterbangkan ke bawah, sementara helikopter lainnya bersiaga untuk penjemputan berikutnya.
“Helikopter sudah standby di puncak. Begitu jenazah tiba, langsung dievakuasi tanpa menunggu semuanya. Ini untuk memaksimalkan cuaca yang masih mendukung,” jelasnya.
Selain itu, pesawat Casa/Caravan diterjunkan untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) satu jam lebih awal guna menahan pertumbuhan awan di area puncak dan lokasi penjemputan. Namun demikian, bahan baku OMC dilaporkan terbatas sehingga penggunaannya harus diefektifkan.
“OMC direncanakan maksimal dapat terbang lima hingga enam kali hari ini, tergantung ketersediaan bahan dan efektivitasnya,” tambahnya.
Pihak Satgas Udara menegaskan bahwa target utama adalah menuntaskan evakuasi seluruh jenazah sebelum pukul 11.00 WITA, mengingat kondisi cuaca di wilayah tersebut sangat cepat berubah. Berdasarkan pengalaman beberapa hari terakhir, perubahan cuaca ekstrem dapat terjadi hanya dalam waktu satu jam.
Sebagai pembanding, pada operasi sebelumnya evakuasi terpaksa dihentikan akibat jarak pandang helikopter yang hanya sekitar 15 meter serta pertumbuhan awan tebal di sisi tebing yang membahayakan keselamatan penerbangan.
“Kemarin awan tumbuh sangat cepat dan tebal, jarak pandang sangat terbatas, sehingga dari sisi keselamatan tidak memungkinkan helikopter masuk,” pungkasnya.
Operasi hari ini diharapkan menjadi momentum krusial untuk menuntaskan proses evakuasi seluruh korban dengan tetap mengedepankan keselamatan personel darat maupun awak udara.