KATADIA,MAKASSAR || PROFESOR Dr. H.M. Hamdar Arraiyyah, MA. Merekam perjalanannya di berbagai belahan dunia dan daerah di Indonesia dalam kumpulan puisinya yang berjudul: Kumpulan Puisi “Pancaran Cahaya di Watan Soppeng”. Dikemas dalam ‘Diskusi Buku Puisi’ dengan menghadirkan komunitas seniman dan budayawan, akademisi dan jurnalis, Satupena Sulsel. Bertempat di Cafe Baca Adhiyaksa, Makassar, Senin 8 Agustus 2022. Diterbitkan oleh Rabbani Press, cetakan September 2017.
Menampilkan pembahas; kritikus sastra Mahrus Andis, seniman Ishakim, novelis Yudhistira Sukata, dibimbing oleh jurnalis senior M. Amir Jaya. Kumpulan puisi 138 halaman ini merupakan bagian dari sekian banyak buku dakwah dan ilmiah yang ditulisnya antara lain; “Mengenal dan Mencintai Nabi Muhammad SAW: Berdasarkan Ayat-ayat Al-Qur’an” (2011), kumpulan puisi berjudul; “Percikan Cahaya di Lembah Palu” (2011) juga “Melihat dan Menyerap Cahaya” (2012). Kedalaman seni yang bersumber dari akidah Islam.
Latar belakang lahir dari orang tuanya sebagai guru, juga pemilik toko buku di Kota Watansoppeng, serta seniman lokal, membuat Prof Hamdar menggeluti literasi sejak kecil. Paginya belajar di Sekolah Dasar (SD), juga di Madrasah Diniyah Darud Dakwah wal Irsyad (DDI) sorenya, melanjutkan pendidikan ke PGAN 6 tahun di Kota Parepare. Pilih jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab IAIN Ujungpandang, sekarang UIN Alauddin Makassar. Menyelesaikan doktor di IAIN sekarang UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam uraiannya, kritikus sastra Mahrus Andis menekankan “Bagi saya menulis puisi tidak bisa diajarkan. Tahta puisi ada di hati, bukan di otak. Karena itu, ketika ditanya bagaimana ‘seharusnya’ menulis puisi, saya hanya bisa menjawab dengan puisi juga seperti ini: Jangan menulis puisi, ketika angin bertiup di pantai, ombak akan menggulungnya, “tulisnya dalam makalah pengantar yang membahas kumpulan Prof Hamdar.
Dalam kumpulan puisi ini, seniman Ishakim berkomentar bahwa Prof. Hamdar tidak terikat dengan aturan penulisan puisi yang biasa, sebagaimana tercermin dari kedalaman cahaya Islam yang tertanam dalam jiwa penulis. Begitu juga dengan pandangan Yudistira, kata-kata dalam puisi yang dipilih Prof. Hamdar, menyentuh langsung pada arti sebenarnya. Menceritakan tentang Soppeng, tanah kelahirannya, perjalanan awalnya di Kota Parepare selama bulan suci Ramadhan, menceritakan tentang Ambon dan Teluk Baguala, Kota Osaka, Jepang, Hong Kong, London, Inggris, hingga Tajmahal di India. Sehat selalu Prof Hamdar, karyamu menjadi catatan perjalanan.