Rabu, Juli 24, 2024

Nasrul, Kamus Asal, dan Logo-Logo Berkonsep Aksara Lontaraq

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA Provinsi Sulawesi Selatan)

KATADIA,MAKASSAR || Seorang pekerja kreatif selalu punya keunikan dan sudut pandang berbeda dalam melihat sesuatu. Objek boleh sama, tapi pengembangan ide dan bagaimana mengeksekusinya bisa berbeda.

Itu pula yang saya temukan pada diri sahabat saya, Nasrul. Nama lengkapnya Muhammad Nasrul, lahir di Makassar, 13 Desember 1969. Meski orangnya tampak pendiam dan tak banyak bicara, tapi dia punya wawasan yang luas. Dia juga pembaca buku yang tekun.

Sejak kecil dia sudah berkenalan dengan buku-buku dan majalah. Bapaknya seorang pendidik dan kontraktor. Bahkan dulu Kepala Sekolah SD Muhammadiyah. Buku petualangan, seperti Tom Sawyer versi tipis untuk anak SD, sudah dibaca sejak kanak-kanak. Belakang ia baru tahu kalau ada versi tebalnya. Setelah itu ia melahap buku cerita Kelompok Lima Sekawan.

Alumni D3 Akademi Teknologi Industri Makassar (ATIM) ini juga punya jejaring ke beberapa kalangan. Mulai seniman, jurnalis, dan pekerja kreatif. Saya bisa mengenal perupa AH Rimba dari dia. Pak Nas, begitu saya memanggilnya, juga yang membawa saya ke Etika Studio, sebuah kafe yang juga berfungsi sebagai working space dan ruang publik bagi aneka pertunjukan seni dan budaya.

Pak Nas mulai terlibat di media sejak tahun 2001. Mantan wartawan Makassar Terkini ini pernah menggarap media internal beberapa perusahaan di antaranya majalah Mari ke MaRI (Mal Ratu Indah), yang terbit bulanan. Majalah ini, baik desain maupun kontennya, ditangani selama 11 tahun. Salah satu rubriknya, yakni “MaRI Keliling Makassar”. Sejak saat itu dia rutin menulis tentang kota ini. Media lain yang digarap adalah tabloid Star City (PT Bentoel), Kalla Media (PT Haji Kalla), majalah Paripurna (DPRD Kota Makassar), dan majalah ALIR, terbitan DAS Jenenerang (Dinas Kehutanan Sulawesi Selatan).

Kesederhanaan dan kejeliannya bisa dilihat pada “Kamus Asal” yang dengan tekun disusunnya. Memang “Kamus Asal” yang menangkap fenomena sosial penggunaan bahasa slang di kalangan anak muda atau warga Makassar ini, belum dibukukan. Namun, ia jadi penanda bahwa seorang Nasrul juga punya selera humor yang baik.

Slang, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diartikan sebagai ragam bahasa tidak resmi dan tidak baku yang sifatnya musiman, dipakai oleh kaum remaja atau kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern dengan maksud agar yang bukan anggota kelompok tidak mengerti. Ada pula yang menyebutnya bahasa prokem. Kamus bahasa prokem yang cukup terkenal disusun oleh Debby Sahertian, salah seorang personel Lenong Rumpi.

Uniknya, “Kamus Asal” yang dibuat Nasrul sangat kental konten lokalnya. Anak muda Makassar era 90an mungkin ingat pada stiker-stiker produksi Mawar Advertising, yang gaul dan gaya. Stiker hasil kreasi Mawardi itu, rada-rada mirip dengan permainan kata-kata Dagadu di Yogyakarta dan Joger dari Bali.

Seperti apa “Kamus Asal” itu? Ini sample-nya. “Sotta” dan kawannya. Sotta kini jadi sebutan kepada orang yang sok tahu. Pelaku sotta biasanya menjawab ataupun menjelaskan sesuatu dengan cepat, tangkas. Namun yang dijawab atau dijelaskan itu salah. Pernah pula digunakan “steja”, yang maknanya mirip dengan ini, menunjukkan kalau seseorang itu hanya stel jago. Sementara “bacrit” untuk orang yang banyak carita tanpa hasil. Selevel dengan “bacrit” ada “loca” alias lompo carita untuk orang yang hanya besar di omongan.

Contoh lain, yang ia tulis pada “Kamus Asal” adalah kata “Lece” (biasanya orang menyebut palece atau ni palecei, pen). Kata “lece” termasuk yang hampir hilang karena jarang lagi digunakan dalam percakapan sehari-hari di Makassar. Maknanya, “orang yang ingin dipuji”. Setelah itu orang mengenal kata “kapujiang” dan “pujiale”. Kedua kata ini juga terdengar sayup-sayup, setelah kata ‘talekang” mendominasi.

Pak Nas, memadukan kemampuan olah kata dan olah rasa jadi sederhana. Dia juga mendesainnya secara tematik dan menarik. Nah, desain tata letak memang keterampilan yang dipunya. Dalam bionarasinya, Pak Nas menulis bahwa desain grafis adalah hobinya. Logo Kampoeng Popsa merupakan salah satu karyanya. Dia pernah memenangkan sayembara pembuatan desain logo Sayur Sehat Takalar dan logo Konferensi Dokter Gigi Indonesia.

Pak Nas mantap bekerja di bidang desain grafis ini. Brosur, katalog, majalah hingga buku, entah sudah berapa banyak dibuat. Jangan tanya, berapa banyak spanduk dan flyer kegiatan yang lahir dari kerja kreatifnya. Ia bekerja tanpa gembar-gembor. Ia kru tak kentara yang berada di belakang layar sejumlah kegiatan.

Jika saya butuh spanduk atau backdrop untuk kegiatan, tinggal memberikan redaksi dan konsepnya, Pak Nas akan mendesainnya. Dengan ringan tangan dia akan mengerjakannya. Bahkan bisa diselesaikannya secara cepat. Karena dia punya jejaring ke percetakan, maka pesanan itu bisa diambil dalam bentuk jadi, tinggal dipasang di lokasi kegiatan.

Selain berkomunikasi lewat telepon dan WhatsApp untuk urusan pekerjaan, tak jarang saya ke rumahnya di Jalan Tanjung Pattiro untuk sekadar bersikaturahmi atau membahas buku yang tengah dikerjakan. Kadang pula kami mencari warkop yang tak jauh dari situ untuk ngopi dan membincangkan ‘proyek’ buku.

Kami sudah bekerja sama dalam sejumlah buku. Dia antara lain mendesain buku “Keluarga Pagarra” (Rayhan Inter media, 2021), “Memoar La Sirama: Jejak Anak Kampung” (Rayhan Intermedia, 2021), dan buku Prof Sukardi Weda berjudul “Pusparagam Gagasan: Literasi Politik dan Demokrasi serta Masalah-Masalah Kemasyarakatan Lainnya”. Buku-buku saya yang lain juga dia yang kerjakan, seperti “Mengawal Demokrasi di Udara” (Pijar Press, 2015), “Mozaik Penyiaran” (Media Qita Foundation, 2018), dan “Problematika Sosial Anak” (Pakalawaki, 2023).

Saya mengandalkan Pak Nas kalau hendak membuat desain logo bertema lokal atau berkonsep aksara Lontaraq. Menurutnya, bentuk sudut belah ketupat/appassulapa yang tidak kaku membuatnya bisa dikembangkan ke banyak hal. Berbeda dengan para pendesain logo yang seolah-olah tampak menggunakan aksara Lontaraq, tapi justru merusak aksara kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan itu sendiri. Para pendesain menstilirisasi font-font yang hanya tampak indah tapi mengabaikan penulisan yang benar dari aksara Lontaraq.

Karya-karya desain logo Pak Nas, antara lain logo Makkareso (Makassar Kreatif Society), logo Komunitas Puisi (KoPi) Makassar, logo LAPAKKSS (Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan) dan logo Festival Aksara Lontaraq. Saya yang mengorder logo-logo itu kepada Pak Nas, setelah memberikan clue tentang konsepnya.

Biasanya, kalau dia sudah membuatnya, saya memberi masukan perbaikan, ya semacam koreksi. Nanti kalau saya yakin layak untuk diteruskan, baru diperlihatkan ke pemesan. Saya bisa jadi teman diskusinya untuk urusan ini karena saya juga punya modal seni dan pengalaman desain-mendesain hehehe.

Salah satu hasil desain saya adalah logo ADVICE Pro, sebuah lembaga konsultasi komunikasi dan kehumasan yang didirikan oleh Muhammad Akbar (Kak Ompe), dosen UNHAS, yang kini sudah menyandang gelar Profesor. Saya mendesain logo ADVICE Pro saat bergabung dengan lembaga itu antara tahun 1995-1997. Selain logo, saya juga mendesain company profile pusat perkulakan GORO dan KIMA (Kawasan Industri Makassar), ketika masih di lembaga itu.

Pak Nas juga punya kemampuan menulis yang baik. Dia sudah menelorkan dua buku, yakni OFF (2015) dan PLANG: Cerita di Balik Nama Jalan di Makassar (2018). Buku OFF yang merekam kalimat terakhir sejumlah tokoh sebelum menemui ajalnya, merupakan buku sejarah yang lahir karena kesukaannya membaca. (*)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles

Sorry Bro