KATADIA MAKASSAR || Pagar dan larangan ditebas, asap gila-gilaan mengepul! Aktivitas pembakaran rumput dan ilalang kembali membabi buta di kawasan terlarang, Senin (18/8/2025) petang. Sekitar pukul 17.00 WITA, kepulan asap tebal membelah langit di zona larangan beraktivitas Satker Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Jeneberang, di Jl Daeng Tata III, persis di gerbang masuk kawasan Benteng Somba Opu, dekat jembatan.
Padahal, pagar pembatas dan larangan beraktivitas terpasang jelas! Tapi, oknum tak bertanggung jawab cuek bebek, nekat bakar lahan. Akibatnya? Kabut asap pekat menyergap jalanan, mengancam keselamatan pengendara yang sedang memadati ruas jalan di jam pulang kerja. Visibilitas nol, potensi kecelakaan melonjak!
Yusran, pegiat lingkungan hidup yang menyaksikan langsung chaos. “Bayangkan, sore-sore begini, jalan rame, asapnya nutup pandangan kayak tirai maut. Kecelakaan? Tinggal menunggu waktu,” tegasnya saat diwawancarai di lokasi kejadian.
Yusran menyoroti akar masalah, yaitu literasi lingkungan yang fakir atau rasa kepemilikan yang salah.
“Ini potret nyata! Masyarakat kita masih ada yang bukan lagi buta huruf, tapi buta hati terhadap dampak lingkungan oleh hasil pembakaran, atau memang malah rasa ‘punyanya’ ke kawasan ini begitu tinggi sampai-sampai keterlaluan.
Pagar larangan pun? Dianggap angin lalu! ujarnya dengan nada geram.
Ia menantang pihak berwenang untuk jangan cuma pasang peringatan, tapi memang perlu ditindak tegas.
“Sudah waktunya aparat tidak cuma menggantung larangan! Butuh pengawasan super ketat, tindakan tegas, dan edukasi masif ke warga sekitar! Kalau cuma larangan saja, tanpa efek jera dan pembinaan, yakinlah, besok-besok kejadian ini bakal terulang lagi,” tandas Yusran, menutup dengan nada tinggi.