KATADIA MAKASSAR || Ribuan orang dari berbagai latar belakang, mulai dari alumni, santri, tokoh agama, hingga masyarakat umum, tumpah ruah menyatu dalam langkah yang sama. Mereka berjalan menyusuri jejak sejarah, dari Halaman Kantor Desa Balusu menuju Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Ahad (3/08), dalam rangka Nafak Tilas memperingati 40 Tahun Wafatnya AG H. Amri Said dan 40 Tahun Kepemimpinan AG HM Faried Wajdy.
AG HM Faried Wajdy yang kini memimpin DDI Mangkoso merupakan putra langsung dari Anre Gurutta AG Amri Said—ulama besar dan pendiri lembaga pendidikan tersebut.
“Ini bukan sekadar jalan kaki. Ini adalah napak tilas perjuangan dakwah dan pendidikan di tanah ini, dari kampung kelahiran beliau di Lapasu menuju cahaya ilmu di Mangkoso,” ungkap AG H. Mansyur Mustafa, Pimpinan Ponpes Ad Dary Takkalasi dan murid senior AG Amri Said. Ia bahkan ikut berjalan kaki dalam kegiatan ini sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada gurunya.
Lebih dari sekadar simbol, nafak tilas ini menggambarkan bagaimana warisan spiritual dan intelektual para ulama masih hidup dan terus tumbuh.
AG Mansyur yang pernah menjadi pendamping dekat Anre Gurutta menegaskan, “Orang yang ikhlaslah yang dapat mewarisi perjuangan beliau. Itu harus dibuktikan dengan amal dan pengabdian.”
Antusiasme peserta begitu besar. Dukungan pun mengalir dari berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Barru, Kementerian Agama, Polres Barru, hingga unsur TNI, yang turut mengawal dan memastikan kegiatan berjalan lancar.
Dr. H. Jamaruddin, Kepala Kemenag Barru sekaligus Ketua PD DDI Barru dan salah satu alumni, mengapresiasi penuh kegiatan tersebut. “Luar biasa. Ini bukan hanya bentuk cinta alumni dan santri kepada gurutta, tapi juga menjadi perjalanan spiritual yang menyatukan masa lalu dan masa depan,” ujarnya.
Salah satu hal yang mencuri perhatian dalam rombongan adalah sepeda ondel, yang dibawa oleh H. Charullah, pembina pesantren. Sepeda itu merupakan replika kendaraan yang dulu digunakan AG Amri Said dalam aktivitas dakwahnya—kadang bersepeda, kadang berjalan kaki dari Lapasu ke Mangkoso. Kini, sepeda itu menjadi simbol istiqamah, kesederhanaan, dan komitmen tanpa pamrih.
“Kami hanya melanjutkan langkah yang beliau mulai. Jalan kaki ini ringan bila mengingat betapa berat perjuangan beliau dahulu,” kata seorang peserta dengan mata berkaca-kaca.
Tak hanya dari kalangan internal DDI, dukungan juga datang dari warga Muhammadiyah Kampung Baru dan siswa MIM, yang turut menyambut peserta di sepanjang jalan.
Meski berbeda organisasi, hubungan emosional antara Muhammadiyah dan DDI Mangkoso begitu erat. Keduanya berbagi akar perjuangan dakwah dan pendidikan di tanah Sulawesi Selatan.
Dr. Mukti Alimin, Ketua Panitia, menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen masyarakat. “Kegiatan ini sukses karena semangat kebersamaan. Ini bukan sekadar seremoni, tapi bagian dari kebangkitan nilai.”
Turut hadir dalam kegiatan ini Camat Soppeng Riaja, Danramil, Kapolsek Soppeng Riaja, Kepala Desa Lawallu, dan personel pengamanan lainnya yang memastikan prosesi berlangsung khidmat dan aman.
KATA DIA, jejak Anre Gurutta tidak berhenti di masa lalu. Ia hidup dalam langkah-langkah ribuan orang yang percaya bahwa ilmu, keikhlasan, dan perjuangan akan terus menemukan jalannya.(**)