Terhubung dengan kami

Opini

Ketika Dakwah Tak Lagi Monopoli Alumni Pesantren

Dipublikasikan

pada

Oleh: Kaengdaus Aktivis Dakwah Bulukumba

KATADIA || Dakwah dalam Islam adalah amanah yang bersifat universal. Setiap Muslim, apapun latar belakangnya, punya kewajiban menyampaikan kebaikan. Sabda Nabi SAW yang populer—”Sampaikan dariku walau satu ayat”—menjadi dasar inklusifnya tugas dakwah ini.

Namun di tengah masyarakat hari ini, kita menyaksikan fenomena menarik sekaligus menggelisahkan: dakwah tidak hanya datang dari alumni pesantren. Sarjana umum, selebritas, hingga politisi pun aktif berdakwah, baik melalui media sosial, forum diskusi, hingga ruang-ruang publik lainnya.

Pertanyaannya: mengapa alumni pesantren yang secara keilmuan lebih siap, justru kerap kalah pengaruh dari mereka yang bukan berasal dari lembaga keagamaan?

Tentu ini bukan untuk mempertanyakan keabsahan dakwah siapa pun. Justru ini menjadi momentum refleksi bagi komunitas pesantren untuk mengevaluasi pendekatan dan kesiapan mereka dalam menjawab tantangan zaman.

Alumni pesantren umumnya dibekali ilmu agama yang lebih dalam—mulai dari tafsir, fikih, hingga ilmu alat. Namun pendekatan dakwah mereka seringkali masih konvensional dan belum menyentuh lapisan masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda urban. Banyak yang belum hadir di kanal-kanal populer, seperti YouTube, TikTok, podcast, atau forum digital lainnya.

Di sisi lain, mereka yang tidak berlatang belakang pesantren hadir dengan pendekatan yang kontekstual dan komunikatif. Mereka bicara tentang Islam dengan bahasa sederhana, membahas isu keluarga, kesehatan mental, sosial media, hingga relasi gender. Semua itu dilakukan tanpa kehilangan pesan moral.

Pesantren dan alumninya sejatinya memiliki peluang besar. Namun peluang itu akan hilang jika tidak mampu beradaptasi dengan realitas kekinian. Dakwah bukan lagi sekadar pengajian mingguan di masjid atau forum kajian di kampus. Dakwah hari ini menyasar ruang digital, opini publik, bahkan kebijakan negara.

Oleh karena itu, sudah waktunya alumni pesantren membangun jejaring, memperkuat kapasitas komunikasi publik, dan tampil dengan pendekatan yang segar. Mereka harus siap bersaing secara sehat di ruang dakwah yang makin terbuka dan inklusif.

Akhirnya, dakwah bukan ajang rebutan panggung. Tapi, siapa pun yang menyampaikannya, harus memastikan bahwa pesannya lurus, bijak, dan membimbing umat ke jalan kebenaran. Alumni pesantren tetap menjadi garda penting, asalkan mereka mampu hadir dan berkontribusi nyata dalam dinamika umat hari ini.(*)

Klik untuk komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending