KATADIA MAKASSAR || Ketua LDII Kecamatan Tamalate, Sutrisno Sulaiman, menegaskan bahwa perbedaan penentuan Hari Raya Idul Fitri antara Muhammadiyah dan pemerintah bukan disebabkan oleh perbedaan tujuan, melainkan perbedaan metode dalam memahami dalil.
Menurutnya, Muhammadiyah menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi yang bersifat pasti dan dapat ditentukan jauh hari sebelumnya. Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menggunakan metode rukyat, yakni pengamatan hilal yang didukung oleh hisab sebagai alat bantu.
“Kedua metode ini sama-sama memiliki dasar dalam syariat Islam dan telah digunakan oleh para ulama,” ujar Sutrisno.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa perbedaan penetapan Idul Fitri disebabkan karena mengikuti negara lain seperti Arab Saudi. Menurutnya, secara ideal penentuan awal bulan Hijriah memang bersifat global, namun dalam praktiknya mayoritas ulama membolehkan adanya perbedaan karena konsep mathla’ atau perbedaan wilayah terbitnya hilal.
Artinya, setiap negara atau kawasan dapat memiliki hasil penetapan yang berbeda, tergantung pada kondisi geografis masing-masing.
“Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kondisi astronomi yang berbeda dengan negara lain, sehingga tidak selalu relevan jika mengikuti hasil rukyat dari luar negeri,” jelasnya.
Sutrisno menambahkan, pemerintah Indonesia menetapkan awal bulan Hijriah berdasarkan hasil rukyat dan hisab yang dilakukan di wilayah Indonesia sendiri, sehingga keputusan tersebut telah melalui pertimbangan ilmiah dan syar’i.
Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat untuk menyikapi perbedaan ini secara bijaksana. Ia menegaskan bahwa perbedaan penetapan Idul Fitri merupakan bagian dari khilafiyah atau perbedaan yang dibenarkan dalam Islam.
“Masing-masing memiliki dalil dan landasan ilmiah yang kuat, sehingga tidak perlu saling menyalahkan, tetapi justru harus saling menghormati,” tegasnya.
Ia juga mengutip kaidah para ulama bahwa perbedaan dalam hal ijtihad tidak boleh menjadi penyebab perpecahan, melainkan menjadi ruang untuk saling menghargai.
Menurutnya, hal terpenting adalah menjaga persatuan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
“Esensi Idul Fitri adalah kembali kepada fitrah, saling memaafkan, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT,” pungkasnya.